Sumber Referensi :
Chuang, S. C., & Chen, J. H. (2008). Role of diurnal rhythm of oxygen consumption in emergence from soil at night after heavy rain by earthworms. Invertebrate Biology, 127(1), 80-86.
Nemeth, E., Dabelsteen, T., Pedersen, S. B., & Winkler, H. (2006). Rainforests as concert halls for birds: are reverberations improving sound transmission of long song elements?. The Journal of the Acoustical Society of America, 119(1), 620-626.
Lengagne, T., & Slater, P. J. (2002). The effects of rain on acoustic communication: tawny owls have good reason for calling less in wet weather. Proceedings of the Royal Society of London. Series B: Biological Sciences, 269(1505), 2121-2125.
Budka, M., Uyeme, J. E., & Osiejuk, T. S. (2023). Females occasionally create duets with males but they never sing solo-year-round singing behaviour in an Afrotropical songbird. Scientific Reports, 13(1), 11405.
Slabbekoorn, H., Ellers, J., & Smith, T. B. (2002). Birdsong and sound transmission: the benefits of reverberations. The Condor, 104(3), 564-573.
Niśkiewicz, M., Szymański, P., Budka, M., & Osiejuk, T. S. (2023). Response of forest Turtur doves to conspecific and congeneric songs in sympatry and allopatry. Scientific Reports, 13(1), 15948.
Deoniziak, K., & Osiejuk, T. S. (2019). Habitat-related differences in song structure and complexity in a songbird with a large repertoire. BMC ecology, 19(1), 40.
Kenapa Burung Sering Bernyanyi Setelah Hujan? Ini Penjelasannya

- Setelah hujan, tanah basah memancing cacing dan serangga keluar, membuat burung aktif mencari makan sambil berkicau untuk menandai wilayahnya.
- Udara bersih dan tenang pascahujan memperjelas suara kicauan, membantu komunikasi serta menarik pasangan saat musim berkembang biak.
- Selesai berteduh dari hujan, burung kembali aktif terbang dan bernyanyi sebagai pelepasan energi setelah berdiam diri cukup lama.
Setelah hujan reda, suasana langsung berubah. Udara terasa dingin, daun-daun tampak segar, lalu suara kicau burung mulai bersahutan dari berbagai arah. Momen ini kerap bikin pagi atau sore jauh lebih hidup dan menenangkan.
Tapi tahukah kamu? Ternyata, fenomena ini bukan kebetulan semata. Ada alasan ilmiah di balik riuhnya suara burung usai hujan turun, mulai dari urusan mencari makan sampai cara mereka “mengabarkan” wilayah kekuasaan. Nah, biar makin paham, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!
1. Selepas hujan, makanan burung bermunculan

Menurut penelitian yang terbit di jurnal Invertebrate Biology (2008), tanah basah pasca-hujan memancing cacing serta sebagian serangga naik ke permukaan. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan burung pemakan serangga yang sejak tadi berteduh. Makanya, ketika gerimis berhenti, aktivitas mereka mendadak ramai.
Di tengah momen berburu makan itu, suara kicau terdengar semakin vokal. Burung saling memberi sinyal keberadaan sekaligus menjaga area mencari makan agar tidak direbut kawanan lain. Fenomena ini cukup sering diamati pada burung gereja, kutilang, dan jalak di area kebun atau pekarangan rumah.
2. Udara setelah hujan membuat suara terdengar jelas

Sebelum hujan reda, suara air atau angin bisa mengganggu komunikasi antarburung. Sebaliknya, bila cuaca tenang, kondisi alam bertambah “hening” sebab partikel debu ikut bersih terbawa air hujan. Kicauan pun terdengar nyaring menyebar ke segala arah.
Pada musim berkembang biak, pejantan biasanya berkicau lebih aktif demi menarik perhatian betina. Bahkan, beberapa studi menemukan bahwa setelah hujan adalah puncak akustik terbaik dalam komunikasi sosial burung. Kondisi lembap pasca-hujan memperluas jangkauan suara, menciptakan efek gaung alami, dan memicu lonjakan vokal bagi keberhasilan reproduksi (Lengagne & Slater, 2002; Nemeth dkk., 2006; Budka, Uyeme, & Osiejuk, 2023).
3. Aktivitas burung meningkat sesudah hujan reda

Saat hujan turun deras, banyak burung memilih bersembunyi di ranting rapat, semak, atau sisi pohon yang terlindung. Mereka mengurangi gerakan untuk menghemat tenaga dan menjaga bulu tetap kering. Kondisi ini justru bikin suasana hutan atau pemukiman seketika sunyi selama berjam-jam.
Begitu cuaca membaik, energi yang sempat tertahan tadi langsung dilepaskan lewat aktivitas terbang dan berkicau. Ibarat manusia yang lega sehabis terjebak hujan, burung kembali energik menjalani rutinitasnya. Ada yang berkicau sambil mengepakkan sayap, ada pula yang bergerombol di dahan sembari merapikan bulu secara bergantian.
Dengan demikian, fenomena burung bernyanyi setelah hujan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari perpaduan faktor ekologis, fisiologis, dan akustik yang telah berevolusi selama jutaan tahun. Jadi, lain kali bila mendengar kicauan merdu usai gerimis, kamu sudah tahu jika itu adalah bahasa alam yang penuh makna.


















