Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Hiu Punya Tulang Rawan, Bukan Tulang Keras seperti Ikan?

Kenapa Hiu Punya Tulang Rawan, Bukan Tulang Keras seperti Ikan?
Hiu putih besar berenang di perairan Pulau Guadalupe, Meksiko. (commons.wikimedia.org/Sharkcrew)
Intinya Sih
  • Hiu tidak memiliki tulang keras, melainkan kerangka dari tulang rawan yang diperkuat garam kalsium pada bagian penting seperti rahang dan tulang belakang.
  • Tulang rawan membuat tubuh hiu lebih ringan, lentur, dan efisien saat berenang serta membantu mereka tetap mengapung tanpa gelembung renang.
  • Penelitian fosil menunjukkan nenek moyang hiu kemungkinan bertulang keras sebelum berevolusi menjadi bertulang rawan sekitar 400 juta tahun lalu demi adaptasi hidup di lautan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Hiu dikenal sebagai ikan predator yang menakjubkan. Ia punya kekuatan gigitan yang dahsyat. Kecepatan berenangnya pun termasuk salah satu yang tercepat di dunia.

Menariknya, alih-alih tulang keras seperti ikan pada umumnya, tubuh hiu justru dibentuk oleh tulang rawan. Lantas, kenapa hiu punya tulang rawan, bukannya tulang keras? Benarkah tulang rawan jadi alasan mengapa hiu bisa mendominasi seluruh samudra di dunia sejak ratusan juta tahun lalu?

1. Hiu ternyata tidak bertulang

Hiu putih besar berenang dekat permukaan laut.
Hiu putih besar berenang dekat permukaan laut. (commons.wikimedia.org/Sharkcrew)

Faktanya, hiu tidak punya tulang keras sama sekali. Kerangka hiu sepenuhnya terdiri dari tulang rawan atau cartillage, tulang lunak nan lentur yang juga membentuk daun telinga dan ujung hidungmu. Entah itu hiu kucing, hiu putih besar, ataukah hiu paus; semuanya tidak punya tulang keras.

Lalu, kalau hiu gak punya tulang keras, kenapa hiu putih besar bisa punya salah satu kekuatan gigitan terbesar di dunia? Alasan di baliknya bukanlah tulang keras rahasia, melainkan garam kalsium. Seperti yang dijelaskan di laman National History Museum, ada beberapa tulang rawan hiu yang secara khusus diperkuat oleh garam kalsium (calcium salt). Bagian-bagian ini meliputi rahang, tulang belakang, dan tulang yang melindungi otak.

Garam kalsium diperoleh dari mangsa-mangsa yang disantap hiu. Kandungan tersebut kemudian disimpan dalam kerangka. Seiring waktu, kandungan garam kalsium membuat bagian-bagian tubuh hiu jadi lebih keras dan lebih kuat. Jadi, tidak ada tulang keras rahasia atau semacamnya.

Satu-satunya bagian dari kerangka hiu yang tidak terbuat dari tulang rawan adalah giginya. Menurut informasi dari World of Sharks, gigi hiu terbuat dari dentin dan diperkuat oleh enamel. Inilah mengapa kita sering menemukan gigi hiu di pantai dan ilmuwan bisa mengenali fosil hiu purba dari giginya. Tulang rawan lebih mudah hancur dan terurai, sementara gigi bisa menjadi fosil.

2. Tulang rawan lebih menguntungkan bagi hiu

Hiu mako sirip pendek, spesies hiu tercepat di dunia, berenang di lepas pantai Cabo San Lucas, Meksiko.
Hiu mako sirip pendek, spesies hiu tercepat di dunia, berenang di lepas pantai Cabo San Lucas, Meksiko. (commons.wikimedia.org/Fábio Olmos)

Lantas, kenapa hiu gak memiliki tulang keras? Apa yang membuat hiu memutuskan untuk memakai tulang rawan saja? Ternyata, punya tulang rawan bikin hiu lebih leluasa di dalam air.

Tulang rawan jauh lebih ringan dan lentur dibandingkan tulang keras. Tingkat kepadatannya juga setengah dari tulang keras. FYI, hiu gak punya gelembung renang yang umum dimiliki ikan supaya gak tenggelam. Lalu, apa yang membuat hiu tetap bisa mengapung tanpa gelembung renang? Tulang rawan.

Kepadatan rendah dari kerangka tulang rawan membantu hiu tetap mengapung atau mengambang di air. Kalau hiu bertulang keras dan gak bergelembung renang, umat manusia mungkin gak akan pernah mengenal yang namanya ikan hiu. Selain kerangka tulang rawan, hiu juga dibekali hati berukuran besar penuh minyak dengan kepadatan rendah yang makin membantunya mengapung.

Di air, kerangka tulang rawan gak cuma bantu hiu mengapung, tapi juga membuatnya berenang dengan cepat dan lincah. Tuntutan untuk bisa berenang cepat gak cuma perihal makan saja, tapi juga berkaitan dengan nyawa. Hiu berukuran besar seperti hiu martil dan hiu putih besar sekalipun harus berlari dari predator seperti paus pembunuh dan paus sperma. Beberapa jenis hiu juga bersifat kanibalistik, sehingga hiu yang masih muda harus lari dari hiu satu spesiesnya yang lebih tua dan besar.

Dikarenakan tulang rawan lebih ringan, hiu gak perlu ngotot untuk bisa berenang. Ini sangat penting karena beberapa jenis hiu bisa tenggelam kalau berhenti berenang. Kalau kerangkanya lebih berat, hiu harus kerja ekstra dan habiskan lebih banyak energi hanya untuk bisa bernapas.

3. Nenek moyang hiu kemungkinan bertulang keras

Hiu karang karibia dan hiu lemon mendominasi ekosistem terumbu karang.
Hiu karang karibia dan hiu lemon mendominasi ekosistem terumbu karang. (commons.wikimedia.org/Albert kok)

Pertanyaannya sekarang, apakah hiu sejak dulu sudah bertulang rawan? Ataukah dulu ia bertulang keras, lalu berganti jadi bertulang rawan? Meski masih belum diketahui pasti, kemungkinan besar nenek moyang hiu bertulang keras. Ini teori yang banyak dipercaya oleh para ahli.

Bahkan, studi terbaru mendukung teori tersebut. Sebuah studi yang dipublikasikan Nature Ecology & Evolution pada 2020 lalu mempelajari fosil placodermi terbaru, Minjinia turgenensis, yang ditemukan di Mongolia. Ikan purba berperisai ini berkerabat dekat dengan nenek moyang hiu.

Mengutip laman BBC Science Focus, sebagian tengkorak Minjinia turgenensis terbuat dari tulang keras. Hal ini menunjukkan bahwa hiu pertama kali berevolusi menjadi hewan bertulang keras, lalu menanggalkan tulang keras tersebut dan mempertahankan kerangka tulang rawan selama 400 juta tahun evolusinya. Temuan ini mendukung teori hilangnya tulang keras secara umum pada ikan bertulang rawan seperti hiu.

Jadi, terbukti bahwa kerangka tulang rawan lebih menguntungkan bagi hiu. Keuntungan memiliki tulang rawan sangat cocok dengan gaya hidupnya sebagai predator yang efisien di lautan. Tulang rawan merupakan adaptasi evolusioner hiu yang membuatnya jadi salah satu jenis ikan pertama yang menguasai seluruh samudra di dunia sejak 400 juta tahun lalu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira

Related Articles

See More