Kenapa Indonesia Bisa Terdampak El Niño? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Cuaca panas yang terasa lebih intens di Indonesia belakangan ini dikaitkan dengan fenomena El Niño. Meski di beberapa wilayah masih turun hujan, suhu udara tetap terasa lebih terik dibanding hari-hari sebelumnya. El Niño sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu laut di Samudra Pasifik yang dapat memengaruhi pola cuaca, termasuk di Indonesia.
Kondisi ini membuat banyak orang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Bahkan, muncul istilah "Godzilla El Niño" untuk menggambarkan kondisi yang lebih ekstrem. Lalu, bagaimana fenomena tersebut bisa berdampak hingga ke Indonesia? Yuk, cari tahu penjelasan ilmiahnya di bawah ini!
1. Hujan di Indonesia berkurang karena “pindah” ke Pasifik

Saat El Niño terjadi, pola hujan di wilayah tropis seperti Indonesia ikut berubah. Suhu laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dari biasanya. Berdasarkan penjelasan dari Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat, kondisi ini membuat awan hujan lebih banyak terbentuk di wilayah Pasifik tersebut.
Akibatnya, pembentukan awan di Indonesia menjadi berkurang. Dengan kata lain, hujan yang biasanya turun di Indonesia seolah “berpindah” ke wilayah Pasifik. Dampaknya, meski tidak selalu langsung kering, curah hujan bisa menjadi lebih sedikit dari biasanya. Inilah yang membuat cuaca terasa lebih panas dan tidak menentu meski di beberapa daerah masih turun hujan.
2. Versi “Godzilla” membuat efek El Niño jauh lebih kuat

Pada kondisi tertentu, El Niño bisa berkembang menjadi lebih kuat atau yang disebut sebagai “Godzilla El Niño”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan peningkatan suhu laut yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Menurut studi yang terbit dalam jurnal Helgoland Marine Research pada 2019, fenomena "Godzilla El Nino" termasuk dalam kategori El Niño yang sangat kuat dan berdampak luas secara global.
Kondisi tersebut pernah terjadi pada 2015–2016, yang menjadi salah satu peristiwa kekeringan paling ekstrem di dunia. Adapun, dalam penjelasan BRIN, dampak El Niño bisa semakin kuat jika terjadi bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Ketika hal itu terjadi, perairan di sekitar Indonesia menjadi lebih dingin sehingga pembentukan awan hujan semakin berkurang.
Kombinasi El Niño, versi "Godzilla", dan IOD positif ini membuat sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami dampak yang lebih signifikan, terutama di wilayah bagian selatan seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sumatra dan Kalimantan. Dampaknya bisa berupa penurunan curah hujan yang lebih besar dan peningkatan suhu udara. Inilah yang membuat fenomena “Godzilla El Niño” tidak hanya terasa lebih panas, tetapi juga memperkuat perubahan pola cuaca di berbagai wilayah Indonesia.
3. Indonesia mudah terdampak karena bergantung pada hujan

Indonesia sangat bergantung pada curah hujan karena berada di wilayah beriklim tropis monsun yang memiliki pola musim hujan dan kemarau yang jelas. Mengutip dari NASA Earth Observatory, fenomena El Niño dapat mengganggu sirkulasi atmosfer yang mengatur distribusi hujan di wilayah tropis. Gangguan ini dapat menyebabkan penurunan curah hujan di beberapa daerah.
Karena banyak sektor seperti pertanian dan ketersediaan air sangat bergantung pada hujan musiman, dampak El Niño akan cepat terasa dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Kondisi tersebut dapat memicu kekeringan, keterbatasan air bersih, hingga gangguan produksi pangan. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya Indonesia terhadap perubahan pola curah hujan.
Cuaca panas yang terjadi di Indonesia menunjukkan adanya perubahan pola iklim yang memengaruhi curah hujan. Indonesia yang bergantung pada hujan musiman menjadi lebih rentan terhadap dampak El Niño. Menurutmu, apakah kondisi ini akan semakin parah ke depannya?

















