Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Paus Harus Naik ke Permukaan untuk Bernapas?
ilustrasi paus biru (pixabay.com/Pexels)
  • Paus adalah mamalia laut yang bernapas dengan paru-paru, bukan insang, sehingga harus naik ke permukaan untuk mengambil udara dan menjaga pasokan oksigen tubuhnya.
  • Blowhole di atas kepala membantu paus bernapas efisien tanpa mengangkat seluruh tubuh, memungkinkan mereka menukar udara cepat sebelum kembali menyelam.
  • Dengan darah kaya hemoglobin dan otot penuh myoglobin, paus mampu menyimpan banyak oksigen untuk menyelam lama, namun tetap harus naik saat karbon dioksida meningkat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Paus dikenal sebagai hewan laut raksasa yang mampu menyelam sangat dalam dan berenang ribuan kilometer di samudra. Melihat kemampuan mereka hidup di air, banyak orang mengira paus bisa bernapas seperti ikan. Padahal, meski menghabiskan hampir seluruh hidupnya di laut, paus tetap harus naik ke permukaan untuk mengambil udara.

Hal ini terjadi karena paus sebenarnya adalah mamalia, bukan ikan. Mereka bernapas menggunakan paru-paru sehingga tidak dapat mengambil oksigen langsung dari air laut. Itulah sebabnya paus harus sesekali muncul ke permukaan agar bisa menghirup udara dan menjaga tubuhnya tetap mendapatkan pasokan oksigen.

1. Paus adalah mamalia, bukan ikan

Banyak orang mengira paus adalah ikan karena hidup di laut. Padahal, paus sebenarnya termasuk mamalia, sama seperti manusia, kucing, atau gajah. Salah satu ciri utama mamalia adalah bernapas menggunakan paru-paru, bukan insang.

Ikan dapat mengambil oksigen langsung dari air memakai insang. Sementara itu, paus tidak memiliki kemampuan tersebut. Mereka hanya bisa mendapatkan oksigen dari udara di atmosfer. Karena itulah paus harus sesekali muncul ke permukaan untuk menghirup udara segar.

Tubuh paus membutuhkan oksigen untuk menghasilkan energi. Oksigen digunakan dalam proses respirasi sel agar organ-organ tubuh tetap bekerja dengan baik. Ketika berada terlalu lama di bawah air, cadangan oksigen akan habis dan karbon dioksida mulai menumpuk. Jika tidak segera bernapas, kondisi itu bisa berbahaya bagi paus.

2. Lubang pernapasan di atas kepala

Paus memiliki adaptasi unik yang memudahkan mereka bernapas di laut, yaitu blowhole atau lubang pernapasan yang berada di bagian atas kepala. Posisi ini sangat membantu karena paus tidak perlu mengangkat seluruh tubuhnya ke permukaan. Mereka cukup memunculkan bagian atas kepala untuk menghirup udara lalu kembali menyelam.

Sebelum menarik napas, paus biasanya menghembuskan udara dengan sangat kuat untuk mengeluarkan air dari blowhole. Semburan udara dan uap air ini sering terlihat seperti air mancur.

Menariknya, paus bisa mengambil napas dengan sangat cepat. Dalam satu kali tarikan napas, mereka mampu menukar sebagian besar udara di paru-parunya. Hal ini membuat proses bernapas menjadi lebih efisien dibanding banyak mamalia lainnya.

3. Paus punya cadangan oksigen yang besar

ilustrasi paus biru dengan anaknya (pixabay.com/GraziGovastki)

Walaupun harus bernapas di udara, paus memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan lama di bawah air. Rahasianya terletak pada sistem penyimpanan oksigen di tubuh mereka.

Darah paus mengandung hemoglobin dalam jumlah tinggi. Zat ini membantu membawa oksigen ke seluruh tubuh. Selain itu, otot paus juga kaya akan myoglobin, protein yang dapat menyimpan oksigen langsung di jaringan otot.

Karena memiliki cadangan oksigen besar, paus bisa menyelam jauh lebih lama dibanding manusia. Beberapa spesies bahkan mampu bertahan lebih dari satu jam di bawah laut.

Saat menyelam, tubuh paus juga melakukan penghematan energi. Aliran darah akan diprioritaskan ke organ penting seperti otak dan jantung, sementara aktivitas di jaringan lain diperlambat. Dengan cara ini, penggunaan oksigen menjadi lebih hemat.

Namun, cadangan tersebut tetap ada batasnya. Ketika oksigen mulai menipis dan karbon dioksida meningkat, paus harus segera naik ke permukaan.

4. Karbon dioksida membuat paus harus bernapas

Banyak orang berpikir bahwa keinginan bernapas muncul karena tubuh kekurangan oksigen. Sebenarnya, dorongan utama untuk bernapas lebih dipengaruhi oleh meningkatnya kadar karbon dioksida dalam darah.

Saat paus menyelam, tubuh mereka terus menghasilkan karbon dioksida dari proses metabolisme. Jika gas ini menumpuk terlalu banyak, tingkat keasaman darah meningkat dan tubuh mulai memberi sinyal bahwa paus harus bernapas. Karena itulah paus tidak bisa terus-menerus berada di bawah air meskipun memiliki cadangan oksigen besar.

5. Tidak semua paus menyelam dengan durasi sama

Setiap spesies paus memiliki kebiasaan menyelam yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh ukuran tubuh, jenis makanan, dan lokasi mangsa mereka.

Paus sperma, misalnya, terkenal sebagai penyelam ulung. Mereka dapat menyelam sangat dalam untuk berburu cumi-cumi di lautan gelap. Kemampuan ini didukung oleh cadangan oksigen yang sangat besar serta adaptasi tubuh khusus untuk menyelam lama.

Sebaliknya, paus balin seperti paus bungkuk biasanya melakukan penyelaman lebih pendek karena makanannya lebih dekat ke permukaan laut. Selain mencari makan, paus juga sering muncul ke permukaan untuk berkomunikasi dan menjaga koordinasi dengan kelompoknya.

6. Naik ke permukaan juga punya risiko

ilustrasi paus biru (pixabay.com/foco44)

Walaupun penting untuk bernapas, naik ke permukaan ternyata tidak selalu aman bagi paus. Di permukaan laut, mereka bisa menghadapi predator, tabrakan kapal, hingga gangguan aktivitas manusia.

Namun, bertahan terlalu lama di bawah air juga berisiko karena tubuh bisa kekurangan oksigen. Paus akhirnya harus menyeimbangkan kebutuhan bernapas dengan keselamatan mereka di laut. Selama jutaan tahun evolusi, paus mengembangkan berbagai kemampuan luar biasa agar tetap bisa hidup nyaman di lingkungan laut meski masih bergantung pada udara.

Jadi, paus harus naik ke permukaan karena mereka adalah mamalia yang bernapas menggunakan paru-paru. Tidak seperti ikan, paus tidak bisa mengambil oksigen langsung dari air laut. Meski memiliki kemampuan menyelam yang hebat berkat cadangan oksigen besar dan sistem tubuh yang efisien, paus tetap membutuhkan udara dari atmosfer untuk bertahan hidup. 

Referensi

EurekAlert. Diakses pada Mei 2026. Studies of Marine Mammals Indicate a "Breathtaking" Ability to Dive to Great Depths
Freedive Colombia. Diakses pada Mei 2026. Humpback Whale’s Physiology and Diving Mechanics
Natural History Museum. Diakses pada Mei 2026. Secrets of The Deepest-Diving Whales
The Open University. Diakses pada Mei 2026. Studying Mammals: Return to The Water
Whales Online. Diakses pada Mei 2026. Respiratory System

Editorial Team

Related Article