Ular sanca (famili Pythonidae) adalah famili ular berukuran besar yang terkenal akan lilitannya. Mereka tidak berbisa sehingga gigitannya tak mampu menghilangkan nyawa manusia. Ular sanca juga ganas, bahkan bisa memangsa hewan berukuran besar seperti rusa, kambing, babi hutan, hingga anak sapi.
Apakah Gigitan Ular Sanca Berbahaya? Ini Efeknya pada Manusia

- Ular sanca tidak berbisa, tetapi gigitannya bisa menyebabkan luka dalam, nyeri hebat, dan pendarahan serius terutama dari spesies besar seperti sanca kembang atau sanca bodo.
- Penanganan gigitan meliputi pembersihan luka dengan sabun dan air hangat, pembalutan untuk menghentikan perdarahan, serta segera mencari bantuan medis bila luka cukup parah.
- Pencegahan dilakukan dengan memakai pakaian pelindung di area berisiko, menghindari kontak langsung dengan ular, serta waspada terhadap lilitan kuat dari ular berukuran besar.
Meski tak berbisa, tapi ular sanca punya gigi yang tajam. Giginya punya bentuk yang serupa dengan kail sehingga bisa mengait di daging korbannya. Lantas, apakah gigitan ular sanca berbahaya? Selain itu, bagaimana cara mencegah dan apa penanganan gigitan ular sanca? Yuk, temukan jawabannya di bawah ini.
1. Apakah gigitan ular sanca berbahaya?

Artikel di jurnal Journal of Hand and Microsurgery menjelaskan bahwa gigitan ular sanca (khususnya sanca kembang) bisa menyebabkan luka yang cukup parah. Efek utama dari gigitan ular sanca umumnya adalah luka yang menembus kulit, rasa sakit luar biasa, bahkan bisa menyebabkan pembengkakan. Gigitan sanca berukuran besar juga bisa merusak daging, kulit, tendon, hingga pembuluh darah.
Jika tak ditangani dengan baik, gigitan tersebut bisa mengganggu fungsi tubuh, seperti tangan kesulitan bergerak hingga pendarahan yang parah. Selain sanca kembang, gigitan spesies lain seperti sanca bodo juga harus diwaspadai. Gigitannya mampu menembus kulit hingga mata jika menggigit di area kepala. Dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa gigitan ular sanca berbahaya.
2. Penanganan gigitan ular sanca
Meski tidak menyuntikkan bisa, tapi gigitan ular sanca harus ditangani dengan serius dan tak boleh diremehkan. Laman Healthline menjelaskan bahwa salah satu penanganan gigitan ular sanca adalah membersihkan luka dengan sabun dan air hangat. Pembersihan dilakukan untuk mencegah bakteri dari mulut ular masuk ke dalam jaringan tubuh.
Namun, penanganan tersebut efektif untuk gigitan ringan dengan luka kecil. Jika lukanya besar, kamu tetap harus membersihkan area gigitan. Kemudian, balut area gigitan dengan perban untuk mencegah pendarahan fatal. Setelah itu, segera bawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat. Tergantung tingkat keparahannya, luka bisa diberi antibiotik hingga dijahit.
3. Cara menghindari gigitan ular sanca

Tentunya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena itu, kamu harus mencegah gigitan ular sanca dengan berbagai cara. Dikutip Cleveland Clinic, salah satu cara menghidarinya adalah memakai celana panjang dan sepatu boots ketika masuk ke habitat ular seperti hutan atau semak-semak. Jika melihat ular sanca, jangan sembarangan menangkap atau mengusiknya.
Ular sering bersembunyi di tempat sempit dan gelap. Jadi, jangan pernah memasukan tangan atau masuk ke tempat sempit dan gelap dengan sembarangan. Jika ular menjadi agresif dan mulai mendesis kamu harus mundur secara perlahan. Jangan buat gerakan mendadak dan hindari memprovokasi ular. Saat hendak camping kamu juga harus mengecek area sekitar untuk memastikan kehadiran ular.
4. Ular sanca bisa melilit setelah menggigit
Karena tak berbisa ular sanca punya cara unik untuk menyerang dan menangkap mangsa, yaitu melilit. Lilitan dari ular sanca berukuran kecil sebenarnya tak berbahaya, tapi individu berukuran besar punya lilitan yang sangat kuat. Lilitan tersebut mampu menghentikan pernafasan manusia, khususnya jika terjadi di area dada atau leher. Di beberapa kasus, bahkan ular sanca bisa melilit, menghilangkan nyawa, hingga memangsa manusia. Dilansir BBC, kasus ular sanca melilit dan memangsa manusia beberapa kali terjadi di Indonesia. Kasus yang paling terkenal terjadi pada 2017 dan 2018 di Pulau Sulawesi.
5. Spesies ular sanca yang harus diwaspadai
Terdapat sekitar 39 spesies ular sanca yang tersebar di benua Afrika dan Asia. Dari semua spesies tersebut, ada beberapa yang mampu tumbuh hingga mencapai panjang 4-10 meter. Nah, spesies berukuran raksasa itulah yang berbahaya dan harus diwaspadai. Dilansir iNaturalist, terdapat tiga spesies yang sangat berbahaya bagi manusia, yaitu sanca kembang (Malayopython reticulatus), sanca bodo (Python bivittatus), dan sanca batu afrika (Python sebae). Gigitan mereka menyakitkan, lilitannya kuat, bahkan mampu memangsa manusia dewasa.
Apakah gigitan ular sanca berbahaya? Jawabannya iya, khususnya jika membahas ular sanca berukuran besar. Jika kamu digigit ular berukuran kecil efeknya hanya sebatas luka yang bisa diobati dengan mudah. Namun, ular raksasa bisa merobek kulit, daging, hingga menyebabkan pendarahan hebat. Jadi, kamu tak boleh meremehkan ular sanca meskipun reptil tersebut tidak berbisa.





![[QUIZ] Apakah Kamu Lebih Pintar dari Anak Kelas 9 SMP?](https://image.idntimes.com/post/20250528/32-mengatasi-kenakalan-remaja-pa-f0449dd4d87dfdffa45288aebd169bf1-14ac537b9827604e21a6b63846918a80.jpg)
![[QUIZ] Dari Bunga yang Kamu Pilih, Kami Tahu Karakteristik Sifat Asli Kamu](https://image.idntimes.com/post/20230923/bouquet-2563485-1920-7ed22d72cb0460218a79d56ff4103c65-26af3eaae92628e319ea425d95e1a998.jpg)
![[QUIZ] Kami Tahu Sifat Asli Kamu Sebenarnya dari Bunga yang Dipilih](https://image.idntimes.com/post/20230120/ioann-mark-kuznietsov-ehlvzcsrjfg-unsplash-361a48d0928398cf008bdfaa26eea21c.jpg)













