Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa fenomena embun es tidak hanya menarik untuk diamati, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. Lapisan es yang menutupi tanaman dapat menyebabkan daun layu, mengering, bahkan mati sehingga merugikan sektor pertanian, terutama bagi petani kentang, sayuran, dan tanaman hortikultura lainnya. BMKG juga menyebutkan bahwa intensitas kemunculan embun es diperkirakan dapat dipengaruhi oleh fenomena iklim global seperti El Nino, La Nina, hingga perubahan iklim yang memengaruhi pola cuaca di Indonesia.
Di sisi lain, embun es juga membawa peluang bagi sektor pariwisata. Jika dikelola dengan baik, fenomena frost dapat menjadi daya tarik wisata unik yang mampu meningkatkan jumlah kunjungan ke Dieng dan mendorong perekonomian masyarakat setempat. Hal senada disampaikan Staf Ahli Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bidang Manajemen Krisis, Fadjar Hutomo, yang menilai fenomena ini berpotensi mendatangkan lonjakan wisatawan pada musim kemarau.
Itulah kenapa tiap kemarau muncul embun es di Dieng yang kerap membuat kawasan dataran tinggi tersebut tampak seperti diselimuti salju. Semoga penjelasan ini bisa menjawab rasa penasaranmu, ya.
Kenapa embun es di Dieng selalu muncul saat musim kemarau? | Karena saat musim kemarau langit cenderung cerah sehingga panas di permukaan bumi cepat terlepas pada malam hari. Akibatnya, suhu di Dieng bisa turun hingga di bawah 0 derajat Celsius dan membekukan embun. |
Apakah embun es di Dieng sama dengan salju? | Tidak. Embun es terbentuk dari embun yang membeku di permukaan tanah atau tanaman, sedangkan salju merupakan presipitasi berupa kristal es yang jatuh dari awan. |
Apakah embun es di Dieng berbahaya? | Bagi manusia umumnya tidak berbahaya jika menggunakan pakaian hangat. Namun, embun es dapat merusak tanaman pertanian karena membuat daun dan batang membeku. |
Referensi
"Mengenal Fenomena Embun Es Dieng: Kemunculan dan Dampaknya". BMKG. Diakses Juli 2026.