Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Berapa Jejak Karbon di Piala Dunia 2026? Ini Perkiraannya!

Berapa Jejak Karbon di Piala Dunia 2026? Ini Perkiraannya!
ilustrasi suporter Piala Dunia (pexels.com/Mick Haupt)
Intinya Sih
  • Piala Dunia 2026 diperkirakan menghasilkan sekitar 7,8 juta ton emisi karbon dioksida, menjadikannya turnamen dengan jejak karbon terbesar sepanjang sejarah karena melibatkan 48 tim di tiga negara.
  • Sekitar 87 persen emisi berasal dari perjalanan udara pemain, official, media, dan suporter antar 16 kota, sementara sisanya muncul dari operasional stadion, akomodasi, logistik, serta konsumsi energi.
  • FIFA menyiapkan langkah pengurangan emisi seperti penggunaan stadion eksisting dan transportasi publik, namun jarak antarkota yang jauh membuat upaya ini sulit sepenuhnya menekan dampak lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tidak hanya menjadi ajang sepak bola terbesar di dunia, tetapi juga menarik perhatian dari sisi lingkungan. Turnamen ini melibatkan lebih banyak tim, lebih banyak pertandingan, dan wilayah penyelenggaraan yang jauh lebih luas dibandingkan edisi sebelumnya. Kondisi tersebut membuat jutaan orang harus melakukan perjalanan lintas kota hingga lintas negara untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.

Di balik kemeriahan kompetisi, setiap perjalanan, penggunaan stadion, hingga aktivitas pendukung lainnya turut menghasilkan emisi gas rumah kaca. Emisi inilah yang dikenal sebagai jejak karbon atau carbon footprint. Lalu, seberapa besar jejak karbon yang diperkirakan dihasilkan Piala Dunia 2026 dan dari mana saja sumber emisinya? Yuk, kita telusuri di bawah ini!


1. Piala Dunia 2026 diperkirakan menghasilkan 7,8 juta ton emIsi karbon

ilustrasi emisi karbon
ilustrasi emisi karbon (unsplash.com/Joachim Süß)

Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi edisi dengan jejak karbon terbesar sepanjang sejarah turnamen ini. Hal itu karena jumlah peserta bertambah menjadi 48 tim, pertandingan digelar di 16 kota, serta tersebar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dilansir Reuters, platform akuntansi karbon Greenly memperkirakan turnamen ini dapat menghasilkan sekitar 7,8 juta ton emisi karbon dioksida (CO₂) atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia Qatar 2022.

Jumlah tersebut setara dengan emisi tahunan sekitar 1,7 juta mobil, sehingga memunculkan kekhawatiran dari para ilmuwan dan pemerhati lingkungan. Reuters juga menyebut sekitar 87 persen emisi diperkirakan berasal dari perjalanan udara yang dilakukan pemain, official, media, dan jutaan suporter yang berpindah-pindah antarkota selama turnamen berlangsung. Sementara itu, United Nations Regional Information Centre (UNRIC) menjelaskan bahwa format tiga negara dan wilayah penyelenggaraan yang sangat luas membuat kebutuhan transportasi menjadi jauh lebih besar dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.

Meski sebagian besar stadion yang digunakan merupakan stadion yang sudah ada sehingga tidak memerlukan pembangunan besar-besaran, emisi dari sektor transportasi tetap menjadi tantangan utama. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak lingkungan sebuah ajang olahraga tidak hanya berasal dari pembangunan stadion, tetapi juga dari mobilitas jutaan orang yang terlibat selama kompetisi berlangsung. Oleh karena itu, Piala Dunia 2026 menjadi contoh bagaimana sebuah perhelatan olahraga berskala global juga membawa konsekuensi terhadap perubahan iklim yang perlu mendapat perhatian.


2. Dari pesawat hingga stadion, apa saja penyumbang emisinya?

ilustrasi stadion Piala Dunia
ilustrasi stadion Piala Dunia (pexels.com/Rushi Patel)

Jejak karbon Piala Dunia 2026 tidak hanya berasal dari pertandingan yang berlangsung di lapangan, tetapi juga dari berbagai aktivitas pendukung selama turnamen. Sebagaimana yang dianalisis Reuters, sekitar 87 persen emisi diperkirakan berasal dari perjalanan udara yang dilakukan pemain, official, media, hingga jutaan suporter. Jarak antarkota yang mencapai ribuan kilometer membuat penggunaan pesawat menjadi pilihan utama, sehingga konsumsi bahan bakar dan emisi karbon meningkat signifikan.

Sementara itu, FIFA menjelaskan bahwa sumber emisi lainnya berasal dari operasional stadion, penggunaan listrik, konsumsi energi, akomodasi, logistik, pengelolaan limbah, hingga penyediaan makanan dan minuman selama turnamen. Meski sebagian besar stadion yang digunakan merupakan stadion yang sudah ada, kegiatan operasional selama lebih dari satu bulan tetap membutuhkan energi dan sumber daya dalam jumlah besar. Selain itu, jutaan suporter yang menginap di hotel, menggunakan transportasi darat, serta membeli berbagai produk pendukung pertandingan juga ikut menyumbang emisi karbon secara tidak langsung.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak lingkungan sebuah ajang olahraga tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastrukturnya, tetapi juga oleh seluruh aktivitas yang terjadi sebelum, selama, dan setelah pertandingan berlangsung. Sebab itu, upaya menekan emisi pada ajang olahraga berskala global perlu dilakukan dari berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga pengelolaan operasional acara. 

3. Upaya mengurangi emisi masih menghadapi tantangan

ilustrasi menendang bola
ilustrasi menendang bola (pexels.com/Mytho Digital)

Meski diperkirakan menghasilkan jejak karbon yang besar, FIFA menyatakan telah menyiapkan berbagai langkah untuk mengurangi dampak lingkungan selama Piala Dunia 2026. Upaya tersebut meliputi penggunaan stadion yang sudah ada, peningkatan efisiensi energi, pengurangan limbah, serta mendorong penggunaan transportasi publik di kota-kota tuan rumah. Namun, Reuters melaporkan bahwa para peneliti menilai emisi dari perjalanan udara tetap menjadi tantangan terbesar yang sulit dikurangi.

Hal itu karena jutaan suporter, pemain, dan official harus melakukan perjalanan jauh di antara 16 kota yang tersebar di tiga negara.  Kondisi tersebut membuat berbagai upaya pengurangan emisi berpotensi belum mampu sepenuhnya mengimbangi besarnya jejak karbon yang dihasilkan selama turnamen berlangsung. Itulah kenapa, Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa penyelenggaraan ajang olahraga berskala global juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan perubahan iklim.

Jejak karbon Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa sebuah ajang olahraga terbesar di dunia juga memiliki dampak terhadap lingkungan yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, berbagai upaya untuk mengurangi emisi terus dilakukan agar penyelenggaraan turnamen menjadi lebih berkelanjutan. Jadi, menikmati kemeriahan sepak bola dan menjaga kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan jika semua pihak ikut berkontribusi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira

Related Articles

See More