Referensi:
"How to decode your cat’s body language, according to experts" Australia Reader's Digest. Diakses pada Januari 2026
"How to Read a Cat's Body Language, Behaviour and Communication" Cat Mum Journal. Diakses pada Januari 2026
"The Complete Guide to Cat Body Language and Communication" Cats. Diakses pada Januari 2026
5 Kesalahan Membaca Bahasa Tubuh Kucing

- Ekor kucing yang bergerak cepat bukan tanda bahagia, tapi aktivitas saraf meningkat
- Kucing yang berbaring telentang menunjukkan rasa aman, bukan ajakan untuk dielus
- Kedipan mata lambat menandakan kondisi rileks, bukan mengantuk biasa
Kucing sering dianggap hewan yang ekspresinya sulit ditebak, padahal tubuhnya terus memberi sinyal yang jelas bila diamati dengan cara yang tepat. Masalahnya, banyak orang membaca bahasa tubuh kucing memakai kacamata manusia, sehingga maknanya bergeser jauh dari maksud aslinya. Bahasa tubuh kucing berkaitan langsung dengan kerja saraf, refleks otot, dan fungsi sensorik yang berkembang selama ribuan tahun evolusi.
Ketika sinyal itu disalahartikan, respons manusia justru bisa memicu stres atau reaksi defensif pada kucing. Karena itu, memahami kesalahan umum dalam membaca bahasa tubuh kucing penting agar interaksi berjalan lebih aman dan selaras. Berikut penjelasan yang perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan dari gerak tubuh kucing.
1. Ekor kucing yang bergerak cepat dianggap tanda bahagia

Ekor kucing sering dipersepsikan seperti ekor anjing, sehingga gerakan cepat dianggap sebagai ekspresi senang atau antusias. Padahal, ayunan ekor yang kaku dan berulang menandakan aktivitas saraf yang sedang meningkat akibat rangsangan berlebih. Kondisi ini berkaitan dengan sistem motorik yang merespons perubahan lingkungan secara cepat, bukan dengan rasa nyaman. Banyak kucing menunjukkan gerakan ekor seperti ini ketika toleransinya mulai menurun, misalnya saat dielus terlalu lama.
Dalam situasi tersebut, sentuhan tambahan justru bisa memicu refleks menggigit atau mencakar. Kesalahan membaca sinyal ini membuat manusia mengira kucing masih menikmati interaksi. Padahal, tubuh kucing sedang memberi peringatan awal. Menghentikan kontak ketika ekor mulai bergerak cepat membantu mencegah respons defensif yang sebenarnya bisa dihindari.
2. Kucing yang berbaring telentang dianggap ingin dielus

Posisi telentang sering dimaknai sebagai tanda kepercayaan penuh dan ajakan untuk menyentuh perut kucing. Secara anatomi, area perut merupakan bagian tubuh yang paling rentan karena melindungi organ vital. Ketika kucing memperlihatkan perut, itu lebih menunjukkan rasa aman terhadap lingkungan, bukan permintaan kontak fisik. Refleks otot di area ini sangat sensitif terhadap sentuhan mendadak.
Banyak kucing langsung mengunci tangan dengan kaki depan dan belakang saat perutnya disentuh. Reaksi ini bukan sikap agresif, melainkan refleks protektif. Kesalahan memahami posisi tubuh ini sering berujung pada luka kecil yang dianggap tiba-tiba. Membiarkan kucing memilih sendiri bentuk interaksi jauh lebih selaras dengan sinyal tubuhnya.
3. Kedipan mata kucing dianggap tanda mengantuk biasa

Kedipan lambat pada kucing kerap dianggap sekadar tanda mengantuk atau kurang waspada. Padahal, gerakan ini berkaitan dengan kontrol otot wajah yang menandakan kondisi tubuh sedang rileks. Saat kucing melakukan slow blink, sistem saraf parasimpatis bekerja lebih dominan. Ini menandakan lingkungan dianggap aman tanpa ancaman langsung.
Kesalahan muncul ketika manusia membalasnya dengan gerakan mendadak atau suara keras. Respons tersebut justru memutus kondisi rileks yang sedang terbentuk. Membalas kedipan lambat dengan cara serupa membantu menjaga suasana tenang. Sinyal ini sering terlewat karena dianggap tidak penting, padahal maknanya cukup spesifik.
4. Posisi telinga ke samping dianggap ekspresi santai

Telinga kucing bergerak sangat aktif karena berfungsi sebagai alat deteksi suara yang presisi. Ketika telinga mengarah ke samping atau sedikit ke belakang, banyak orang mengira kucing sedang santai. Faktanya, posisi ini menandakan fokus tinggi terhadap banyak rangsangan sekaligus. Otot telinga sedang bekerja cepat untuk memetakan sumber suara di sekitarnya.
Kondisi ini sering muncul sebelum kucing memutuskan menjauh atau bertahan. Jika telinga tetap diposisikan ke samping sambil tubuh menegang, artinya kucing sedang menilai situasi. Kesalahan membaca sinyal ini bisa membuat manusia mendekat di saat yang kurang tepat. Memberi ruang menjadi pilihan yang lebih aman ketika telinga kucing tidak menghadap ke depan.
5. Kucing yang diam membeku dianggap patuh dan tenang

Kucing yang tiba-tiba diam sering dianggap penurut atau tenang saat digendong atau dipegang. Dalam konteks respons tubuh, kondisi membeku berkaitan dengan mekanisme freeze response. Sistem saraf menghambat gerakan sebagai strategi bertahan ketika kucing merasa tidak punya pilihan lain. Tubuh terlihat tenang, tetapi sebenarnya berada dalam kondisi siaga tinggi.
Kesalahan memahami respons ini membuat manusia melanjutkan perlakuan yang tidak nyaman. Akibatnya, kucing bisa bereaksi tiba-tiba ketika ambang toleransinya terlampaui. Mengenali diam yang tidak disertai relaksasi otot membantu membedakan antara tenang dan tertekan. Melepaskan pegangan lebih awal mencegah respons ekstrem yang sering disalahpahami sebagai perilaku buruk.
Bahasa tubuh kucing bekerja lewat bahasa tubuh dan sering bertentangan dengan asumsi manusia. Kesalahan membaca gerak ekor, telinga, mata, hingga postur tubuh bisa mengubah interaksi sederhana menjadi situasi yang tidak nyaman. Semoga informasi ini bisa menambah pengetahuan baru untuk kamu, ya!


















