Limbah Kondom Menjadi Masalah bagi Lingkungan, Apa Solusinya?

Berbicara soal alat kontrasepsi, mungkin yang ada di benak kita adalah kondom. Alat kontrasepsi ini populer karena harganya terjangkau, mudah digunakan, cukup efektif untuk mencegah kehamilan, dan melindungi dari infeksi menular seksual (IMS).
Tetapi, kondom adalah ancaman bagi lingkungan karena sulit terurai dan sifatnya yang sekali pakai. Lantas, apakah ada alternatif yang lebih ramah lingkungan?
1. Sebagian besar kondom terbuat dari lateks
Mengutip Conserve Energy Future, sebagian besar kondom terbuat dari lateks dan bisa terurai secara alami (biodegradable) karena berasal dari getah pohon karet. Namun, kondom lebih sulit terurai jika dilapisi dengan pelumas atau spermisida (zat yang bisa membunuh atau menghambat pergerakan sperma).
Selain itu, kondom lateks terkadang mengandung poliisoprena yang tidak bisa terurai secara alami. Sehingga, jika kita concern terhadap lingkungan, pilih kondom yang memiliki label natural latex di kemasannya.
2. Ada pula yang terbuat dari plastik

Orang yang alergi terhadap lateks biasanya menggunakan kondom poliuretan. Ini adalah jenis plastik non-biodegradable yang membutuhkan minyak bumi (bahan bakar fosil) untuk pembuatannya.
Tetapi, poliuretan memiliki sisi negatif. Menurut Association of Plastics Manufacturers in Europe, satu pon (453,5 gram) poliuretan menghasilkan 3,7 pon (1,6 kilogram) karbon dioksida (CO2), dilansir Slate.
3. Bahkan, ada yang terbuat dari kulit domba!
Sebenarnya kondom ini tidak terbuat dari kulit domba, melainkan sekum (kantong yang terletak di awal usus besar domba). Walau terdengar aneh, kondom seperti ini sudah ada selama ribuan tahun.
Seperti yang bisa ditebak, kondom kulit domba bersifat biodegradable. Selain itu, bisa meningkatkan sensitivitas dan sangat efektif untuk mencegah kehamilan. Sayangnya, kondom ini tidak bisa melindungi kita dari IMS dan HIV, harganya lebih mahal dan lebih sulit dijumpai di pasaran.
4. Semua kondom yang telah disebutkan bersifat sekali pakai
Kondom tidak didesain untuk dipakai berulang kali. Setelah selesai digunakan, harus langsung dibuang. Diperkirakan, ada sekitar 5 juta kondom yang dibeli setiap tahunnya dan menghasilkan sampah seberat 22 juta pon (9.979 ton).
Mengingat betapa banyaknya sampah yang dihasilkan, mulai banyak kondom ramah lingkungan yang diproduksi belakangan ini. Kondom ini didesain supaya bisa terurai, bahkan kemasannya terbuat dari kertas yang bisa didaur ulang.
Terlepas dari apakah kondom itu bisa terurai atau tidak, ada satu hal yang perlu kita ketahui, yaitu cara membuang kondom. Lepas dengan hati-hati lalu ikat agar cairannya tidak tumpah. Jangan dibuang di kloset karena bisa menyumbat pipa.
5. Alih-alih kondom, lebih baik gunakan ini!

Ingatlah bahwa kondom bukan satu-satunya alat kontrasepsi yang tersedia. Laman Forge Waste & Recycling menyarankan untuk menggunakan intrauterine device (IUD), perangkat kecil berbentuk T yang terbuat dari plastik dan tembaga.
Alat kontrasepsi ini dimasukkan ke dalam rahim dan bisa bertahan selama 5-10 tahun. Bisa dibilang, IUD sangat eco-friendly karena limbah yang dihasilkan sangat sedikit.
Pilihan lainnya adalah sterilisasi (untuk perempuan) dan vasektomi (untuk laki-laki). Keduanya bisa mencegah kehamilan secara permanen, tetapi tidak memengaruhi kehidupan seks kita.
Nah, itulah pembahasan singkat mengenai kondom dan dampaknya bagi lingkungan serta metode kontrasepsi lain yang lebih eco-friendly. Semoga informasi ini bermanfaat!














![[QUIZ] Dari Jenis Habitat Laut Pilihanmu, Ini Caramu Menghadapi Ketidakpastian](https://image.idntimes.com/post/20250315/pexels-james-lee-932763-2017089-49b55fb7e62e8698485c220fb59163fd-f85c77fa314a0d1d7ef06b3c78cff2d0.jpg)




