Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Sumber Energi Terbarukan Paling Kontroversial, Efektif atau Merusak?

5 Sumber Energi Terbarukan Paling Kontroversial, Efektif atau Merusak?
Potret turbin angin (pexels.com/Enrique)
Intinya Sih
  • Artikel membahas lima sumber energi terbarukan—air, biomassa, panas bumi, angin, dan surya—yang meski ramah lingkungan, tetap menimbulkan dampak sosial dan ekologis signifikan.
  • Setiap teknologi memiliki sisi kontroversial: dari relokasi warga akibat bendungan besar hingga deforestasi untuk biofuel serta gangguan ekosistem oleh turbin angin dan proyek geothermal.
  • Tulisan menekankan pentingnya keseimbangan antara pengembangan energi bersih dan pengelolaan dampaknya agar transisi menuju masa depan berkelanjutan tidak merugikan lingkungan maupun masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Isu energi bersih kian ramai dibicarakan di tengah kekhawatiran perubahan iklim. Banyak pihak berharap teknologi ramah lingkungan dapat menggantikan peran bahan bakar fosil. Sekilas, semua opsi terdengar menjanjikan dan seakan minim risiko. Padahal, di balik label “terbarukan”, tersimpan cerita panjang yang tak selalu manis.

Ada proyek yang dipuji berkat efisiensi, tapi di saat yang sama menuai kritik keras. Dari sinilah diskusi soal efektivitas versus dampak negatif menjadi semakin menarik untuk dikulik. Nah, berikut adalah lima sumber energi terbarukan paling kontroversial!

1. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) skala besar

PLTA
PLTA (pixabay.com/Sergen23)

PLTA skala besar sering dianggap tulang punggung energi bersih di berbagai negara. Bendungan raksasa mampu memasok energi stabil dengan emisi karbon relatif rendah selama operasional. Sayangnya, pembangunan proyek semacam ini kerap mengorbankan ekosistem serta kehidupan masyarakat sekitar.

Dilansir International Rivers, bendungan besar dapat mengubah aliran sungai secara permanen. Dampaknya merembet ke ekosistem air, termasuk migrasi ikan dan distribusi sedimen. Kasus Bendungan Tiga Ngarai di China contohnya, di mana lebih dari 1,3 juta warga harus direlokasi.

2. Biomassa dan biofuel (energi dari makhluk hidup)

Potret industri biomassa
Potret industri biomassa (freepik.com/aleksandarlittlewolf)

Biomassa dan biofuel hadir dengan konsep memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Limbah pertanian, kayu, hingga tanaman energi diolah menjadi bahan bakar alternatif. Secara teori, energi ini dianggap netral karbon sebab CO₂ yang dilepas setara dengan yang diserap saat tanaman tumbuh. Padahal, produksi skala besar justru memicu deforestasi.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa hutan ditebang untuk membuka perkebunan kelapa sawit atau tebu demi biofuel. Akibatnya, emisi karbon meningkat karena penyerap karbon alami hilang. Selain itu, penggunaan pupuk dan proses produksi turut menyumbang polusi. Di sisi lain, persaingan dengan sektor pangan juga menimbulkan dilema yang tak mudah diselesaikan.

3. Energi panas bumi (geothermal)

Energi panas bumi
Energi panas bumi (pexels.com/David Elvar Masson)

Panas bumi merupakan salah satu sumber energi paling stabil. Tidak bergantung pada cuaca, dan bisa menghasilkan listrik sepanjang waktu. Indonesia sendiri punya potensi besar di sektor ini, karena berada di cincin api dunia. Namun tetap saja, pengembangannya tidak lepas dari kontroversi.

Menurut laporan Union of Concerned Scientists, pembangkit geothermal menghasilkan emisi hidrogen sulfida yang berbau menyengat dan berpotensi berbahaya. Dampak terhadap sumber air juga menjadi perhatian. Pengambilan air panas dari bawah tanah dalam jumlah besar bisa memengaruhi ketersediaan air di permukaan. Kalau tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lokal.

4. Tenaga angin (turbin angin)

Tenaga angin
Tenaga angin (pexels.com/lee starry)

Energi angin kerap digambarkan melalui deretan turbin tinggi yang berputar di lepas pantai atau di padang terbuka. Teknologi ini mampu menciptakan listrik tanpa emisi saat beroperasi. Sejumlah negara memanfaatkannya guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Meski demikian, penerapannya masih menyisakan sejumlah persoalan.

Putaran baling-baling turbin diketahui membahayakan burung serta kelelawar yang melintas. Suara dan getaran yang dihasilkan mengganggu kenyamanan warga sekitar. Ada pula kritik terkait perubahan lanskap visual yang dinilai mengurangi estetika alam.

5. Energi surya (panel surya skala besar)

Panel surya skala besar
Panel surya skala besar (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Energi surya dikenal luas berkat kemudahan pemasangan dan sumbernya yang melimpah. Panel bisa dipasang di atap rumah sampai di ladang luas di gurun. Produksi listrik berjalan tanpa emisi langsung ketika digunakan. Tapi begitu masuk ke skala besar, tantangannya mulai nampak.

Pembangunan ladang surya membutuhkan lahan yang cukup luas, yang kadang mengorbankan habitat alami. Proses manufaktur panel juga melibatkan bahan kimia tertentu serta konsumsi energi tinggi. Di akhir masa pakai, limbah panel menjadi isu yang perlu penanganan serius.

Energi terbarukan memang penting dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, namun bukan berarti semua teknologi ini sepenuhnya bebas masalah. Justru, kehadiran lima sumber energi terbarukan paling kontroversial ini sering menjadi bahan perbincangan. Hal ini dikarenakan setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Alih-alih mencari solusi yang sempurna, mungkin yang lebih realistis adalah mencari keseimbangan. Energi bersih tetap perlu dikembangkan, tetapi dengan perencanaan yang matang dan dampak yang diminimalkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Science

See More