5 Masjid yang Pernah Jadi Gereja, Warisan Arsitekturnya Masih Terjaga

- Beberapa bangunan bersejarah di Eropa dan Mediterania, seperti Hagia Sophia dan Chora, awalnya gereja lalu berubah fungsi menjadi masjid tanpa menghapus jejak arsitektur Bizantium aslinya.
- Perubahan fungsi terjadi seiring pergantian kekuasaan, terutama pada masa penaklukan Ottoman, namun elemen khas seperti kubah, mosaik, dan ukiran tetap dipertahankan hingga kini.
- Lima bangunan ini menunjukkan bahwa arsitektur menjadi saksi perjalanan panjang sejarah, mempertemukan warisan Kristen dan Islam dalam satu ruang budaya yang terus hidup.
Sepanjang sejarah, bangunan ibadah kerap menjadi saksi perubahan zaman, kekuasaan, dan peradaban. Di sejumlah wilayah, terutama Eropa dan kawasan Mediterania, terdapat bangunan yang awalnya didirikan sebagai gereja, lalu beralih fungsi menjadi masjid. Perubahan tersebut tidak menghapus jejak masa lalu karena banyak unsur arsitektur aslinya tetap dipertahankan hingga sekarang.
Keunikan inilah yang membuat bangunan-bangunan tersebut menarik untuk ditelusuri. Kubah megah, lengkungan khas, hingga ornamen dindingnya merekam pertemuan dua tradisi arsitektur dalam satu ruang yang sama. Lalu, masjid mana saja yang pernah menjadi gereja dan masih menjaga warisan arsitekturnya hingga kini? Yuk, simak pembahasannya berikut ini.
Table of Content
1. Hagia Sophia

Hagia Sophia di Istanbul telah berdiri lebih dari 1.600 tahun. Bangunan ini didirikan pada 537 M atas perintah Kaisar Bizantium Justinian I, setelah dua gereja sebelumnya di lokasi yang sama hancur. Pada masanya, kubah besarnya menjadi pencapaian arsitektur yang mengagumkan dan menjadikannya pusat ibadah utama Kekaisaran Bizantium.
Pada 1453, setelah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II, Hagia Sophia diubah menjadi masjid. Perubahan fungsi tersebut menandai babak penting dalam sejarah kota itu.
Meski beralih fungsi, banyak unsur arsitektur dan seni dari masa gereja tetap terjaga. Mosaik Bizantium masih dapat ditemukan berdampingan dengan kaligrafi Islam di bagian interiornya. Sempat dijadikan museum pada 1935, Hagia Sophia kembali difungsikan sebagai masjid pada 2020 dan hingga kini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah dan peradaban.
2. Kucuk Ayasofya Camii

Bangunan ini awalnya dikenal sebagai Church of Saint Sergius and Bacchus, dibangun pada masa Kaisar Justinian I antara 527–536 M di Konstantinopel, yang kini dikenal sebagai Istanbul. Gereja ini menjadi bagian dari kompleks keagamaan yang terhubung dengan lingkungan istana.
Desainnya berbentuk segi delapan dengan kubah besar di bagian tengah sehingga sering dijuluki “Hagia Sophia Kecil” karena kemiripan konsep arsitekturnya. Struktur kubah yang ditopang pilar-pilar marmer serta ukiran khas Bizantium menunjukkan kemajuan teknik bangunan abad ke-6.
Memasuki abad ke-16 pada masa Ottoman, gereja ini diubah menjadi masjid dan dikenal sebagai Küçük Ayasofya Camii. Meski mengalami perubahan fungsi, bentuk utama bangunan dan banyak unsur arsitektur aslinya tetap dipertahankan hingga kini.
3. Masjid Chora

Masjid Chora, yang dahulu bernama Church of St. Saviour in Chora, merupakan bangunan bersejarah di Istanbul yang terkenal karena mosaik dan fresco abad ke-14 yang masih terawat baik. Gereja ini telah ada sejak periode awal Bizantium dan mengalami beberapa kali pembangunan ulang, dengan bentuk yang sekarang banyak berasal dari abad ke-11 dan ke-14.
Perkembangan penting terjadi pada abad ke-14 ketika Theodore Metochites menghias hampir seluruh bagian interior dengan mosaik dan fresco yang menggambarkan kisah kehidupan Yesus Kristus dan Maria. Karya-karya tersebut dikenal karena warna yang kuat dan detail yang halus, mencerminkan puncak seni Bizantium akhir.
Pada 1511, bangunan ini diubah menjadi masjid pada masa Ottoman. Pada 1945 fungsinya berubah menjadi museum, lalu pada 2020 ditetapkan kembali sebagai masjid dan dibuka lagi untuk ibadah pada 2024 setelah proses restorasi. Meski mengalami beberapa perubahan fungsi, keindahan karya seni di dalamnya tetap menjadi daya tarik utama.
4. Masjid Lala Mustafa Pasha

Masjid Lala Mustafa Pasha di Famagusta, Siprus Utara, awalnya merupakan Katedral Santo Nikolas yang dibangun pada masa Dinasti Lusignan antara 1298 hingga 1312. Bangunan ini dikenal sebagai salah satu contoh arsitektur Gotik terbesar di Mediterania Timur dengan gaya Rayonnant Gothic yang jarang ditemukan di luar Prancis.
Pada masa kerajaan Lusignan, katedral ini menjadi tempat penobatan raja-raja Siprus dan Yerusalem. Setelah penaklukan Ottoman pada 1571, bangunan ini diubah menjadi masjid dengan penambahan mihrab dan menara, sementara hiasan bergambar manusia ditutup. Meski fungsinya berubah, struktur dan karakter Gotiknya tetap terjaga.
Sejak 1954, bangunan ini dikenal sebagai Masjid Lala Mustafa Pasha, diambil dari nama panglima Ottoman yang memimpin penaklukan Siprus. Hingga kini, bangunan tersebut masih digunakan sebagai masjid dan menjadi salah satu ikon sejarah Famagusta.
5. Masjid Fethiye

Masjid Fethiye di Istanbul awalnya adalah Gereja Theotokos Pammakaristos yang dibangun pada akhir abad ke-13 pada masa Bizantium. Gereja ini pernah menjadi kedudukan Patriarkat Ortodoks Yunani setelah 1453 dan dikenal sebagai salah satu pusat penting Kristen Ortodoks di Konstantinopel.
Pada 1586, ketika masa Sultan Murad III, bangunan ini diubah menjadi masjid untuk memperingati kemenangan Ottoman. Nama Fethiye yang berarti “penaklukan” mencerminkan peristiwa tersebut. Dalam proses perubahan itu ditambahkan menara dan unsur Islam lainnya, tetapi struktur utama bangunan tetap dipertahankan dan mosaik lama hanya ditutup, bukan dihancurkan. Kini bangunan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu area masjid untuk ibadah dan bagian museum yang menampilkan mosaik Bizantium yang telah direstorasi.
Lima bangunan ini menunjukkan bahwa perubahan fungsi bukanlah akhir dari sejarah, melainkan bagian dari perjalanan panjangnya. Dari gereja menjadi masjid hingga katedral yang beralih peran, setiap masa meninggalkan jejak yang masih terlihat hingga kini. Arsitektur pun menjadi saksi bisu pergeseran kekuasaan, keyakinan, dan budaya yang terus bergerak dari waktu ke waktu.
















