Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengapa Makanan Terasa Lebih Enak Saat Lapar? Ini Alasan Ilmiahnya!

Mengapa Makanan Terasa Lebih Enak Saat Lapar? Ini Alasan Ilmiahnya!
ilustrasi anak yang sedang makan (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Hormon ghrelin meningkat saat tubuh kekurangan energi, memicu rasa lapar dan membuat otak lebih sensitif terhadap aroma serta rasa makanan di sekitar.
  • Saat lapar, indera penciuman menjadi lebih tajam sehingga aroma makanan terasa lebih kuat dan menggoda untuk membantu tubuh mencari sumber energi.
  • Otak memberi nilai lebih tinggi pada makanan ketika energi menurun, meningkatkan kepuasan dan kenikmatan makan melalui respons biologis yang kompleks.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Apakah kamu pernah merasa makanan menjadi jauh lebih nikmat ketika sedang lapar atau setelah beraktivitas cukup lama? Bahkan makanan sederhana dapat terasa lebih memuaskan dibandingkan saat perut sudah kenyang atau baru saja makan. Fenomena ini bukan hanya soal perasaan sesaat, tetapi berkaitan dengan cara tubuh dan otak merespons kebutuhan energi secara biologis.

Rasa lapar memengaruhi berbagai sistem tubuh yang berhubungan dengan indera perasa, penciuman, dan kondisi emosional seseorang. Tubuh akan mengirimkan sinyal tertentu agar kita terdorong mencari makanan dan memenuhi kebutuhan energi yang mulai berkurang. Proses inilah yang membuat makanan terasa lebih menarik, lezat, dan memuaskan ketika kondisi perut sedang kosong.

1. Hormon lapar meningkatkan respons otak terhadap makanan

ilustrasi pria yang sedang makan (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi pria yang sedang makan (pexels.com/cottonbro studio)

Saat tubuh kekurangan energi, hormon ghrelin akan meningkat dan memberi sinyal lapar pada otak secara alami. Hormon ini tidak hanya memengaruhi rasa lapar, tetapi juga meningkatkan respons otak terhadap aroma dan rasa makanan yang ada di sekitar. Akibatnya, makanan terasa lebih menggugah dibandingkan ketika kondisi perut sudah terisi atau kenyang.

Selain itu, ghrelin juga berkaitan dengan sistem penghargaan dalam otak yang memengaruhi rasa senang saat makan. Ketika kadar hormon ini meningkat, otak menjadi lebih sensitif terhadap pengalaman makan dan rasa makanan tertentu. Hal tersebut membuat makanan terasa lebih memuaskan secara emosional maupun fisik setelah tubuh merasa lapar cukup lama.

2. Indera penciuman menjadi lebih sensitif ketika lapar

ilustrasi mencicipi masakan
ilustrasi mencicipi masakan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Rasa makanan tidak hanya dipengaruhi oleh lidah, tetapi juga oleh kemampuan penciuman yang bekerja bersama saat makan. Saat lapar, tubuh meningkatkan sensitivitas indera penciuman agar kita lebih mudah mendeteksi keberadaan makanan di sekitar lingkungan. Aroma makanan yang biasanya terasa biasa saja dapat menjadi jauh lebih menarik dan menggoda perhatian.

Kondisi ini merupakan bagian dari mekanisme alami tubuh untuk membantu mempertahankan kebutuhan energi sehari-hari. Otak mendorong kita agar lebih fokus mencari sumber makanan ketika cadangan energi mulai menurun secara perlahan. Karena itulah aroma makanan sering terasa lebih kuat, tajam, dan menggoda ketika kondisi perut sedang kosong.

3. Otak memberi nilai lebih tinggi pada makanan saat tubuh membutuhkan energi

ilustrasi wanita yang sedang makan (freepik.com/Drazen Zigic)
ilustrasi wanita yang sedang makan (freepik.com/Drazen Zigic)

Ketika tubuh membutuhkan energi tambahan, otak mulai memprioritaskan makanan sebagai sesuatu yang sangat penting bagi tubuh. Hal ini membuat perhatian terhadap makanan meningkat secara alami tanpa perlu disadari secara langsung. Kita menjadi lebih sadar terhadap rasa, tekstur, suhu, dan sensasi makanan saat dikonsumsi dibandingkan kondisi normal.

Selain itu, otak juga meningkatkan pelepasan zat kimia tertentu yang berkaitan dengan rasa puas setelah makan selesai. Respons ini membantu tubuh memastikan kebutuhan energi dapat segera terpenuhi dengan baik dan cepat. Akibatnya, pengalaman makan terasa lebih menyenangkan, intens, dan memuaskan ketika tubuh berada dalam kondisi lapar.

4. Perut kosong memengaruhi persepsi rasa secara keseluruhan

ilustrasi makan bersama
ilustrasi makan bersama (unsplash.com/logan jeffrey)

Kondisi perut yang kosong membuat tubuh lebih siap menerima asupan makanan yang masuk ke sistem pencernaan. Sistem pencernaan dan otak bekerja bersama untuk meningkatkan pengalaman makan agar tubuh terdorong memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Hal ini memengaruhi persepsi rasa secara keseluruhan, termasuk rasa gurih, manis, dan aroma makanan.

Ketika sudah kenyang, sensitivitas terhadap rasa cenderung menurun karena tubuh tidak lagi membutuhkan tambahan energi dalam jumlah besar. Sebaliknya, saat lapar, makanan terasa lebih kaya rasa dan memberikan kepuasan yang lebih tinggi saat dikonsumsi. Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa makanan dipengaruhi tidak hanya oleh makanan itu sendiri, tetapi juga kondisi tubuh saat mengonsumsinya.

Makanan terasa lebih enak saat lapar karena tubuh dan otak bekerja bersama untuk memenuhi kebutuhan energi yang mulai menurun. Hormon, indera penciuman, hingga sistem penghargaan dalam otak memiliki peran penting dalam proses tersebut. Dengan memahami mekanismenya, kita dapat melihat bahwa rasa nikmat saat makan bukan hanya soal selera, tetapi juga bagian dari respons biologis tubuh yang sangat kompleks.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More