Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Perubahan Alam Indonesia yang Terjadi dalam Dua Dekade Terakhir

Ilustrasi penggundulan hutan
Ilustrasi penggundulan hutan (pixabay.com/vagabundos)
Intinya sih...
  • Penyusutan hutan tropis mencapai 30,8 juta hektare atau hampir 20% dari totalnya
  • Kebakaran hutan dan lahan meningkat signifikan dalam dua dekade terakhir
  • Pemanasan laut dan es abadi yang perlahan menghilang menjadi bukti perubahan iklim yang nyata
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama dua dekade terakhir, alam Indonesia mengalami pergeseran besar yang pelan tapi pasti mengubah wajah Nusantara. Perubahan ini tidak datang tiba-tiba, melainkan terakumulasi dari aktivitas manusia, tekanan ekonomi, dan krisis iklim global. Dampaknya kini hadir di sekitar kita, memengaruhi urusan pangan, kesehatan, hingga rasa aman.

Lantas, perubahan apa saja yang sebenarnya sedang terjadi? Yuk, simak satu persatu perubahan tersebut dalam poin-poin berikut!

1. Penyusutan hutan tropis yang masif

Ilustrasi deforestasi
Ilustrasi deforestasi (unsplash.com/Renaldo Matamoro)

Sejak awal 2000-an, luas hutan Indonesia terus berkurang dalam skala besar. Berdasarkan data Global Forest Watch, sejak 2001 sampai 2023, Indonesia sudah kehilangan sekitar 30,8 juta hektare area tutupan pohon atau hampir 20% dari totalnya karena berbagai tekanan seperti pembukaan lahan, perkebunan kelapa sawit, dan infrastruktur.

Hilangnya hutan primer ini bukan angka statis—ia berkontribusi langsung pada pelepasan karbon ke atmosfer, berkurangnya habitat satwa, serta meningkatnya risiko banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah. Upaya pemerintah dan berbagai moratorium memang dilaksanakan, namun angka deforestasi masih menjadi pekerjaan rumah besar yang perlu solusi serius.

2. Kebakaran hutan dan lahan yang semakin intens

Ilustrasi kebakaran lahan
Ilustrasi kebakaran lahan (pexels.com/Vladyslav Dukhin)

Dalam dua dekade terakhir, frekuensi serta tingkat keparahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat secara signifikan. Data global menunjukkan kecenderungan kebakaran yang kian meningkat seiring perubahan iklim, sementara di Indonesia, lonjakan kerap terjadi di kawasan gambut yang mengering dan mudah terbakar.

Laporan CIFOR dan WRI Indonesia menyoroti peran musim kemarau yang makin panjang dan ekstrem dalam mempercepat penyebaran api. Praktik pembukaan lahan dengan metode pembakaran turut memperparah kondisi di berbagai wilayah. Pada 2025, misalnya, puluhan titik api di Riau kembali memicu kabut asap lintas negara hingga terdeteksi di Malaysia. Peristiwa ini bukan cuma soal gangguan kesehatan, tetapi juga cerminan krisis iklim dan degradasi ekosistem yang terus berulang apabila upaya mitigasi tidak segera diperkuat.

3. Pemanasan laut dan es abadi yang perlahan menghilang

Ilustrasi pemutihan karang
Ilustrasi pemutihan karang (pexels.com/Oscar Trisley)

Salah satu bukti perubahan iklim paling nyata terlihat pada lautan Indonesia. Menurut laporan internasional, kawasan Samudra Pasifik barat termasuk Indonesia mengalami gelombang panas laut tak terduga, dengan suhu permukaan laut yang lebih tinggi dibandingkan rerata tahun 1991–2020.

Kondisi ini menyebabkan pemutihan terumbu karang di berbagai lokasi, seperti di Raja Ampat dan Laut Jawa. Ekosistem laut yang rapuh pun kehilangan keseimbangannya. Laporan terbaru juga menyebutkan jika gletser tropis terakhir di Papua Barat menyusut hingga 50% hanya dalam satu tahun, dan bisa menghilang sepenuhnya dalam waktu dekat kalau tren ini berlanjut.

4. Cuaca yang kian sulit diprediksi

Ilustrasi musim kemarau
Ilustrasi musim kemarau (pixabay.com/bampilo)

Pola musim hujan dan kemarau di Indonesia kini tidak lagi berjalan seteratur dulu. Banyak wilayah mengalami hujan deras yang datang tiba-tiba, sementara daerah lain justru dilanda kemarau panjang dengan intensitas ekstrem. Laporan BMKG, pemberitaan media internasional, serta pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa musim tanam semakin sulit diprediksi. Banjir pun kerap terjadi di luar musim hujan puncak yang sebelumnya dianggap “aman”.

Anomali El Niño dan La Niña yang makin kuat ikut memperbesar ketidakstabilan cuaca tersebut. Perubahan iklim global memengaruhi dinamika atmosfer regional, sehingga pola lama sulit dijadikan acuan. Dampaknya terasa di berbagai sektor, mulai dari produksi pangan, pasokan air bersih, hingga daya tahan infrastruktur. Situasi ini menandai realitas iklim baru yang harus dihadapi Indonesia.

5. Penurunan keanekaragaman hayati dan habitat satwa

Potret harimau Sumatera
Potret harimau Sumatera (commons.wikimedia.org/Dick Mudde)

Indonesia dikenal sebagai megabiodiversitas, yaitu rumah bagi ribuan spesies unik. Sayangnya, tekanan dari perubahan iklim, hilangnya habitat, serta deforestasi terus mempersempit ruang hidup satwa liar. Dilansir UNEP GRID–Geneva, pada tahun 2019 terdapat 259 spesies di Indonesia yang masuk kategori sangat terancam punah dalam Daftar Merah IUCN. Jumlah tersebut mencakup 135 spesies tumbuhan dan 124 spesies hewan, dengan dominasi satwa darat dibandingkan spesies laut.

Sejumlah spesies darat, seperti burung endemik di Sulawesi dan mamalia di Kalimantan, diproyeksikan kehilangan habitat utamanya akibat perubahan iklim. Penurunan keanekaragaman hayati ini tidak semata-mata catatan di atas kertas, tetapi peringatan serius terhadap ekosistem yang menyediakan makanan, pekerjaan, dan budaya masyarakat Indonesia.

6. Garis pantai tergerus dan permukaan laut naik

Potret pantai Indonesia
Potret pantai Indonesia (pexels.com/Mifthahul Afif)

Kenaikan permukaan laut merupakan tantangan nyata bagi wilayah pesisir Indonesia yang luas dan padat penduduk. Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kenaikan tinggi muka laut berdasarkan data satelit menunjukkan tren naik 4,3±0,4 mm/tahun. Angka ini cukup untuk mempercepat abrasi dan merendam kawasan pesisir rendah, terutama di pantai utara Jawa.

Laporan nasional perubahan iklim memperkirakan kenaikan muka laut 25–50 cm pada pertengahan abad ini. Kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Medan, dan Surabaya diprediksi semakin rentan terhadap banjir rob dan genangan berkala. Intrusi air laut ke lahan pertanian serta sumber air tawar turut menurunkan kualitas hidup masyarakat pesisir. Tanpa adaptasi dan mitigasi yang kuat, dampaknya akan kian meluas.

Perubahan alam Indonesia dalam dua puluh tahun terakhir memperlihatkan pola yang jelas dan saling terhubung. Hutan menyusut, laut memanas, cuaca berubah, dan biodiversitas tertekan dalam satu rangkaian besar krisis lingkungan. Semua ini terekam dalam data ilmiah, bukan sekadar persepsi atau cerita musiman.

Di sisi lain, fakta-fakta tersebut juga membuka ruang untuk bertindak lebih cepat dan terukur. Kebijakan berbasis sains, pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, serta keterlibatan publik menjadi kunci utama. Masa depan alam Indonesia sangat ditentukan oleh keputusan hari ini. Menjaganya bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan bersama.

Sumber Referensi :

BMKG. 2024. Catatan Iklim dan Kualitas Udara Indonesia 2024. Deputi Bidang Klimatologi badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika Jakarta. Diakses pada 31 Desember.

Retno Gumilang, dkk. 2010. Indonesia Second National Communication Under The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Ministry of Environment, Republic of Indone. Diakses pada 31 Desember.

Climate Scorecard. 2024. Indonesia’s forests: A critical biodiversity and carbon hub. Diakses pada 31 Desember.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Perang Troya, Konflik Legendaris dalam Mitologi Yunani

11 Jan 2026, 15:20 WIBScience