Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Punya Mekanisme Pertahan Unik, 4 Fakta Kadal Kaca Eropa

Punya Mekanisme Pertahan Unik, 4 Fakta Kadal Kaca Eropa
kadal kaca eropa (Kudaibergen Amirekul, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Kadal kaca Eropa atau Sheltopusik tampak seperti ular, tapi sebenarnya kadal sejati dengan sisa tungkai kecil sebagai bukti evolusi dari nenek moyang berkaki empat.
  • Berbeda dari ular, kadal ini punya kelopak mata yang bisa berkedip dan lubang telinga eksternal, serta tubuh kaku dengan lipatan kulit khas di sisi tubuhnya.
  • Saat terancam, ia dapat memutus ekornya menjadi beberapa bagian yang bergerak untuk mengelabui predator, lalu beregenerasi meski bentuk baru lebih pendek dan gelap.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat menjelajahi padang rumput atau perbukitan berbatu di kawasan Eropa Timur hingga Asia Tengah, kamu mungkin akan bertemu dengan sesosok hewan melata yang panjang dan berkilauan. Sekilas, penampilannya sangat meyakinkan seperti ular. Namun, jika kamu perhatikan lebih saksama, kamu akan menemukan beberapa keanehan yang membuatnya jauh berbeda.

Hewan ini adalah Sheltopusik (Pseudopus apodus), yang lebih populer dengan nama kadal kaca eropa. Ia adalah bukti hidup betapa alam senang sekali menciptakan kejutan. Di balik fisiknya yang menipu, kadal ini menyimpan segudang fakta unik yang membuatnya menjadi salah satu reptil paling menarik untuk dipelajari. Dari nama ilmiahnya yang berarti "kaki palsu" hingga mekanisme pertahanannya yang dramatis, kadal kaca eropa adalah mahakarya evolusi yang penuh teka-teki.

1. Meskipun tak terlihat, kadal kaca eropa sebenarnya punya sisa kaki

kaki kadal kaca eropa
kaki kadal kaca eropa (Alexander A. Fomichev, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Salah satu hal pertama yang membuat banyak orang keliru adalah ketiadaan kaki pada tubuhnya. Namun, dilansir laman Animalia.bio, nama ilmiahnya, Pseudopus apodus, berasal dari bahasa Yunani yang secara harfiah berarti "kaki palsu" atau tanpa kaki. Nama ini ternyata tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Kadal kaca eropa memang tidak memiliki kaki fungsional untuk berjalan.

Namun, jika diperhatikan dengan sangat teliti di dekat kloaka (lubang multifungsi pada reptil), akan terlihat sisa-sisa tungkai belakang yang sangat kecil. Sisa kaki ini, menurut Beardsley Zoo, ukurannya hanya sekitar 2 milimeter dan tampak seperti tonjolan kecil. Tungkai vestigial ini adalah peninggalan evolusi dari nenek moyangnya yang berkaki empat, menjadi bukti bahwa ia adalah kadal sejati, bukan ular yang berevolusi dari garis keturunan berbeda.

2. Ia bukan ular karena punya kelopak mata dan lubang telinga

kadal kaca eropa
kadal kaca eropa (Konstantinos Kalaentzis, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Perbedaan paling mendasar antara kadal kaca dan ular terletak pada bagian kepalanya. Ular tidak memiliki kelopak mata, sehingga mereka tidak bisa berkedip dan seolah-olah terus menatap. Sebaliknya, kadal kaca eropa memiliki kelopak mata yang dapat digerakkan, memungkinkannya untuk berkedip seperti kebanyakan kadal lainnya. Ciri ini saja sudah cukup untuk membedakannya secara langsung.

Selain itu, lihatlah sisi kepalanya. Kadal kaca memiliki lubang telinga eksternal yang jelas, sedangkan ular tidak memilikinya. Perbedaan lainnya terletak pada struktur tubuh. Ular memiliki kemampuan untuk melingkarkan tubuhnya dengan sangat fleksibel, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh kadal kaca. Tubuhnya yang lebih kaku dan adanya alur kulit lateral—lipatan kulit khas di setiap sisi tubuhnya—menjadi ciri pembeda lain yang signifikan.

3. Julukan kaca adalah cerminan dari mekanisme pertahanan dirinya

kadal kaca eropa
kadal kaca eropa (Kudaibergen Amirekul, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Nama "kadal kaca" terdengar puitis sekaligus rapuh, dan nama ini diberikan bukan tanpa alasan. Julukan ini merujuk pada mekanisme pertahanan dirinya yang disebut autotomi kaudal. Saat merasa terancam atau ditangkap oleh predator, kadal ini dapat dengan sengaja melepaskan ekornya. Hebatnya lagi, ekor yang terlepas tidak hanya putus di satu titik, tetapi bisa pecah menjadi beberapa bagian kecil yang terus bergerak.

Potongan-potongan ekor yang menggeliat inilah yang menjadi pengalih perhatian. Dilansir Beardsley Zoo, pemandangan ini mirip seperti kaca yang pecah berkeping-keping, sehingga predator akan fokus pada potongan ekor yang bergerak sementara si kadal melarikan diri. Mitos populer menyebutkan bahwa kepingan itu bisa menyatu kembali, namun itu tidak benar. Ekornya memang akan beregenerasi atau tumbuh kembali secara perlahan, tetapi biasanya lebih pendek dan warnanya lebih gelap dari ekor aslinya.

4. Sang pemburu siput ini hidup di darat dan aktif saat cuaca basah

kadal kaca eropa
kadal kaca eropa (Kseniia Marianna Prondzynska, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Kadal kaca eropa adalah predator karnivora yang tangguh di habitatnya. Mereka mendiami berbagai area kering seperti padang rumput, lereng berbatu, hingga hutan ringan. Meskipun menyukai tempat kering, mereka justru punya kebiasaan unik. Kadal ini akan menjadi sangat aktif setelah hujan turun untuk berburu makanan favoritnya, yaitu siput dan bekicot.

Selain dua mangsa utama itu, menu makannya cukup bervariasi. Menurut Animalia.bio, mereka juga memangsa serangga, artropoda lain, telur burung, bahkan mamalia kecil yang bisa mereka temukan. Sebagai hewan diurnal, mereka paling aktif di pagi dan sore hari, sering kali menggali liang di tanah gembur atau di bawah serasah daun untuk mencari mangsa atau mengatur suhu tubuhnya. Dengan rentang usia yang bisa mencapai 50 tahun di penangkaran, mereka adalah penghuni yang tangguh di ekosistemnya.

Kadal kaca eropa adalah contoh luar biasa dari bagaimana hewan beradaptasi dengan cara yang paling tidak terduga. Ia mengajarkan kita untuk tidak menilai sesuatu hanya dari penampilan luarnya saja. Jadi, jika suatu saat kamu melihat "ular" yang bisa mengedipkan mata, kemungkinan besar kamu baru saja bertemu dengan sang kadal kaca yang memesona ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More