Aaij, R., A. S. W. Abdelmotteleb, C. Abellan Beteta, F. Abudinén, T. Ackernley, A. A. Adefisoye, B. Adeva, et al. “Observation of Charge–parity Symmetry Breaking in Baryon Decays.” Nature, July 16, 2025.
Bisakah Ledakan Nuklir Selamatkan Bumi dari Asteroid? Ini Kata Sains

- Penelitian terbaru menunjukkan ledakan nuklir bisa menjadi opsi realistis untuk membelokkan asteroid, meski batuan luar angkasa ternyata jauh lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.
- Eksperimen di laboratorium dan fasilitas CERN mengungkap bahwa meteorit besi justru menguat setelah terkena tekanan ekstrem, bukan hancur berkeping-keping seperti yang sering digambarkan.
- Temuan ini memberi wawasan baru bagi strategi pertahanan planet, menekankan pentingnya memahami reaksi material asteroid sebelum menerapkan metode pembelokan berbasis energi tinggi.
Bisakah manusia benar-benar menghancurkan atau membelokkan asteroid yang meluncur ke Bumi dengan ledakan nuklir, seperti di film-film? Simulasi tumbukan terbaru menunjukkan bahwa skenario “opsi nuklir” bukan sekadar fantasi Hollywood, melainkan bisa menjadi jalan terakhir yang realistis untuk mencegah kiamat.
Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa batuan luar angkasa ternyata jauh lebih tangguh dari perkiraan sebelumnya. Secara mengejutkan, asteroid justru bisa menjadi lebih kuat ketika menerima benturan ekstrem. Meski terdengar mengkhawatirkan, temuan ini justru membawa kabar baik. Jika sebuah asteroid diledakkan dengan perangkat nuklir, ia kemungkinan besar tetap utuh alih-alih pecah menjadi banyak fragmen yang kemudian menghujani Bumi dengan potongan-potongan yang mematikan.
1. Menguji ketangguhan asteroid di laboratorium
Dalam makalah terbaru, tim peneliti yang melibatkan fisikawan dari University of Oxford bekerja sama dengan Outer Solar System Company (OuSoCo), sebuah startup yang fokus pada teknologi pembelokan asteroid berbasis nuklir. Mereka menganalisis bagaimana batuan luar angkasa berbahan dasar besi merespons berbagai tingkat tekanan dan radiasi ekstrem. Ini ditujukan untuk mensimulasikan apa yang mungkin terjadi jika asteroid terkena ledakan berenergi tinggi.
Menurut Melanie Bochmann, salah satu pendiri OuSoCo sekaligus pemimpin riset, analisis tersebut bertujuan meneliti perubahan struktur internal meteorit pada skala mikroskopis akibat iradiasi. Hasil eksperimen menunjukkan peningkatan kekuatan material hingga 2,5 kali lipat. Temuan ini mengindikasikan bahwa asteroid bisa menjadi jauh lebih kuat setelah mengalami tekanan intens, alih-alih langsung hancur berkeping-keping.
2. Pelajaran dari misi tabrakan

Salah satu strategi yang telah diuji untuk mencegah kiamat akibat asteroid adalah metode kinetic impactor, seperti yang diperlihatkan dalam misi DART pada 2022. Dalam pendekatan ini, wahana antariksa berfungsi sebagai “pemukul kosmik” yang sengaja ditabrakkan ke asteroid dengan kecepatan luar biasa tinggi untuk mengubah lintasannya. Secara konsep, metode ini terdengar sederhana dan efektif.
Namun dalam praktiknya, strategi ini penuh ketidakpastian. Tabrakan di titik yang kurang tepat bisa saja hanya menunda, bukan mencegah, potensi tumbukan dengan Bumi. Selain itu, energi benturan dan respons material asteroid bisa memicu konsekuensi tak terduga, mulai dari fragmentasi hingga perubahan momentum yang sulit diprediksi. Inilah sebabnya memahami bagaimana asteroid benar-benar bereaksi terhadap tekanan ekstrem menjadi kunci dalam merancang sistem pertahanan planet yang efektif.
3. Disinari proton di CERN
Untuk menguji hipotesis tanpa menghancurkan sampel, para peneliti menggunakan teknik eksperimental unik di fasilitas CERN, tepatnya di Super Proton Synchrotron pada fasilitas High Radiation to Materials (HiRadMat). Mereka menyinari potongan meteorit besi Campo del Cielo dengan pulsa berkas proton berenergi tinggi dalam durasi sangat singkat, pada intensitas rendah dan tinggi. Hal ini berguna untuk mensimulasikan tekanan ekstrem seperti yang mungkin terjadi saat ledakan nuklir di dekat asteroid.
Sensor suhu dan teknik laser Doppler vibrometry mengungkap bahwa sampel meteorit sempat melunak dan melentur, tetapi kemudian justru menguat kembali. Ia juga menunjukkan sifat strain-rate dependent damping, yakni kemampuan meredam energi benturan secara lebih efektif ketika dihantam lebih keras.
Temuan ini memperkuat gagasan bahwa asteroid mungkin tidak mudah hancur, melainkan mampu menyerap dan menyebarkan energi secara tak terduga.
Temuan ini memberi perspektif baru dalam strategi pertahanan planet. Alih-alih sekadar menghancurkan, pendekatan terbaik mungkin adalah memahami bagaimana asteroid bereaksi terhadap tekanan ekstrem. Jika opsi nuklir suatu hari benar-benar diperlukan, sains terbaru menunjukkan bahwa kita mungkin memiliki peluang lebih besar untuk membelokkannya.
Referensi


















