Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Pink Noise dan Benarkah Bisa Mencegah Insomnia?
ilustrasi tidur (pexels.com/Polina)
  • Pink noise adalah derau acak berpola 1/f, dengan energi frekuensi tinggi lebih kecil sehingga terdengar lebih hangat, membulat, dan tidak setajam white noise.
  • Karakter utamanya adalah energi yang sama pada setiap oktaf, selaras dengan cara telinga memproses nada secara logaritmik; pink noise juga digunakan untuk menguji sistem speaker.
  • Sejumlah studi mengaitkan pink noise dengan tidur lebih stabil dan memori lebih baik, tetapi sampelnya kecil; pemutaran semalaman bukan solusi pasti untuk insomnia dan berpotensi mengganggu kreativitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apakah kamu pernah mendengar suara hujan deras, air terjun, atau mungkin suara desir angin yang terdengar lembut dan menenangkan? Suara-suara tersebut mirip sekali dengan pink noise, yakni salah satu jenis suara yang belakangan banyak dipakai orang untuk membantu mereka tidur, fokus belajar, atau sekadar menutupi kebisingan di sekitar.

Kini banyak aplikasi dan juga video yang bahkan menyediakan khusus suara pink noise ini. Sebenarnya, apa itu pink noise dan kenapa suaranya terdengar berbeda dari suara desis biasa? Berikut lima fakta ilmiahnya!

1. Pink noise adalah suara acak dengan energi yang makin kecil di frekuensi tinggi

ilustrasi pink noise (commons.wikimedia.org/Geek3)

Setiap suara acak yang memuat banyak frekuensi sekaligus disebut derau atau noise, dan yang membuat tiap jenisnya berbeda adalah sebaran energinya pada rentang frekuensi. Pada pink noise, besar daya berbanding terbalik dengan frekuensi sehingga polanya dinamai derau 1/f. Konsekuensinya, nada yang makin tinggi membawa energi yang makin sedikit, dengan penurunan sekitar 3 desibel di setiap naik satu oktaf.

Inilah alasan pink noise terasa lebih membulat dan tidak setajam white noise yang berdesis. Dentuman rendahnya menonjol, sedangkan nada tingginya tidak sampai terasa menusuk di telinga. Coba saja kamu putar keduanya bergantian, maka kamu akan mendengar bahwa pink noise terasa jauh lebih hangat sehingga enak didengarkan dalam waktu lama.

2. Namanya diambil dari analogi warna cahaya

ilustrasi warna noise (commons.wikimedia.org/AkanoToE)

Istilah “white”, “pink”, dan “brown” pada jenis derau dipinjam dari dunia optik. Cahaya putih adalah campuran seluruh warna dengan porsi yang kurang lebih setara, dan white noise mengikuti prinsip yang sama, yaitu tiap frekuensi mendapat jatah energi yang sama besar. Pink noise berbeda karena frekuensi rendahnya mendapat porsi yang jauh lebih banyak. Kalau dibayangkan sebagai cahaya, spektrumnya lebih condong ke ujung merah, dan dari situlah muncul nama pink atau merah muda.

Masih ada satu lagi yang perlu dikenal, yaitu brown noise. Penurunan energinya jauh lebih curam, yakni berbanding terbalik dengan kuadrat frekuensi, sehingga suaranya dalam, berat, dan bergemuruh seperti guntur dari kejauhan. Bila disusun dari yang paling tajam sampai yang paling berat, urutannya white noise, pink noise, kemudian brown noise.

3. Setiap oktaf punya energi yang sama, sesuai cara telinga kita mendengar

ilustrasi pink noise spektrum (commons.wikimedia.org/Ktims)

Ciri paling khas dari pink noise terletak pada pembagian energi per oktaf, yaitu rentang frekuensi yang batas atasnya dua kali lipat dari batas bawahnya. Rentang 20 sampai 40 Hz dan rentang 2.000 sampai 4.000 Hz sama-sama satu oktaf, jadi keduanya membawa energi yang sama besar. Pada white noise, hitungannya lain. Rentang yang tinggi menampung jauh lebih banyak frekuensi, sehingga energinya bisa ratusan kali lipat dari rentang yang rendah.

Telinga manusia mampu menilai tinggi rendah suatu nada secara logaritmik, bukan lurus. Lompatan satu oktaf akan terdengar seperti jarak yang hampir sama, baik itu nada bawah maupun nada atas. Itulah sebabnya pembagian energi pada pink noise terasa lebih rata dan natural bagi pendengaran kita. Pola 1/f  juga ditemukan pada variasi detak jantung, aktivitas gelombang otak, atau naik turunnya volume musik. Karena karakternya yang seimbang, para teknisi audio kerap memanfaatkannya untuk menguji dan menyetel sistem speaker.

4. Ada penelitian yang mengaitkan pink noise dengan kualitas tidur dan memori

ilustrasi kualitas tidur (pexels.com/Kampus Production)

Kamu pasti penasaran, memangnya pink noise beneran bikin tidur lebih nyenyak? Ada beberapa penelitian yang mencoba menjawabnya. Pada 2012, hasil penelitian di Journal of Theoretical Biology menemukan bahwa pink noise yang diputar terus-menerus bisa menurunkan kerumitan gelombang otak dan menambah porsi tidur yang stabil. Lalu pada 2017, peneliti Northwestern University mencoba cara berbeda. Mereka memutar pulsa pink noise yang disesuaikan dengan ritme gelombang lambat otak saat tidur dalam. Pesertanya orang dewasa berusia 60 sampai 84 tahun, dan keesokan harinya mereka lebih banyak mengingat kata-kata dibanding setelah malam tanpa stimulasi.

Tapi tunggu dulu, jangan langsung menyimpulkan. Jumlah pesertanya sedikit, yaitu 6 orang pada uji gelombang otak studi pertama dan 13 orang pada studi kedua. Cara yang dipakai juga beda dengan sekadar memutar pink noise dari ponsel semalaman. Bahkan mendengarkan pink noise sepanjang malam bisa mengganggu kemampuan untuk menemukan pola dan kreativitas. Pink noise bisa menjadi  salah satu alat bantu yang mungkin cocok buat sebagian orang, tapi pink noise bukan obat yang pasti untuk insomnia.

Pink noise bukan sekadar suara yang kebetulan enak didengar sebab di balik suaranya yang lembut, ada pola yang rapi dan terasa begitu pas di telinga kita, dari frekuensi rendah sampai tinggi. Untuk urusan tidur dan daya ingat, para ilmuwan masih terus mengujinya, sehingga hasilnya belum tentu sama pada setiap orang. Kalau ingin mencobanya, setel pada volume rendah supaya telingamu tetap aman. Semoga fakta-fakta di atas membuat rasa penasaranmu terjawab!

Referensi

"White Noise, Pink Noise, and Brown Noise: What's the Difference?" WebMD. Diakses pada Oktober 2026.

"Acoustic Enhancement of Sleep Slow Oscillations and Concomitant Memory Improvement in Older Adults." Northwestern University. Diakses pada Oktober 2026.

"Pink noise: Effect on complexity synchronization of brain activity and sleep consolidation." Journal of Theoretical Biology. Diakses pada Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article