Orbit bumi rendah (LEO)
Mengapa Satelit Tidak Jatuh ke Bumi meski Mengalami Gravitasi?

- Satelit buatan manusia digunakan untuk komunikasi, penelitian, dan observasi, dengan berbagai ukuran serta ketahanan terhadap kondisi ekstrem luar angkasa sejak peluncuran pertama Sputnik 1 pada tahun 1957.
- Satelit tetap mengorbit karena keseimbangan antara kecepatan tinggi dan gaya gravitasi Bumi, menjaga agar tidak jatuh maupun terlempar keluar dari orbitnya.
- Jenis orbit seperti LEO, MEO, GEO, dan HEO menentukan kecepatan serta umur satelit; satelit yang sudah tidak aktif biasanya dipindahkan ke orbit kuburan atau dibiarkan terbakar di atmosfer.
Bayangkan, sebuah satelit yang merupakan benda buatan manusia yang terdiri dari ribuan ton logam dapat melayang begitu tenang tanpa khawatir terhempas ke Bumi. Terdengar mustahil memang, namun begitulah faktanya, satelit ini melayang bukan karena bantuan jin, melainkan karena adanya permainan fisika yang akhirnya mampu membawa satelit terbang tanpa khawatir menabrak Bumi.
Penasaran bagaimana cara kerja satelit sampai bisa terbang mengorbit dan tidak jatuh ke Bumi? Berikut adalah penjelasan menurut sudut pandang sains mengapa satelit tidak jatuh ke Bumi.
1. Apa itu satelit buatan?

Satelit buatan merupakan objek yang dibuat oleh manusia dan diluncurkan ke orbit menggunakan roket. Ukuran satelit ini bervariasi; beberapa satelit kubus berukuran sekecil 10 cm. Beberapa satelit komunikasi memiliki panjang 7 m dan panel surya yang membentang hingga 50 m.
Satelit digunakan untuk mempelajari Bumi dan planet lain, berkomunikasi, dan mengamati alam semesta yang sangat jauh. Uniknya lagi, satelit mampu membawa manusia di dalamnya, seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional dan Pesawat Ulang-Alik.
Satelit buatan pertama adalah misi Sputnik 1 Uni Soviet, yang diluncurkan pada tahun 1957. Sejak saat itu, negara-negara lainnya turut meluncurkan satelit, dengan lebih dari 3.000 wahana antariksa yang saat ini beroperasi mengorbit Bumi.
Bukan diluncurkan begitu saja, mereka tentu memiliki misi mengapa satelit-satelit itu diluncurkan, termasuk bahan penelitian ilmiah, pengamatan cuaca, dukungan militer, navigasi, pencitraan bumi, dan komunikasi. Peralatan pada satelit pun dirancang tahan terhadap radiasi dan ruang hampa di luar angkasa.
2. Bagaimana satelit tetap berada pada orbitnya?

Satelit sangat bergantung pada keseimbangan antara kecepatan dan gravitasi untuk mencapai orbit yang diinginkan. Satelit mempertahankan posisinya dengan mengunci kecepatan yang cukup tinggi untuk mengatasi tarikan gravitasi ke bawah.
Untuk mencapai luar angkasa, roket yang bertugas membawa dan melepaskan satelit ke luar angkasa harus berakselerasi hingga 25.039 mph (40.320 kph) untuk sepenuhnya lepas dari gravitasi Bumi. Setara dengan bergerak dengan kecepatan lebih dari 10.000 meter setiap detik. Satelit tetap perlu menjaga keseimbangan kecepatannya agar dapat mengorbit di atas Bumi. Keseimbangan inilah yang mencegah satelit terbang luru ke luar angkasa atau jatuh ke bumi.
Itulah mengapa agar satelit tidak jatuh ke Bumi, mereka perlu bergerak dengan kecepatan yang akan memfasilitasi orbit, istilah yang digunakan untuk menggambarkan keseimbangan antara gaya gravitasi yang menarik satelit dan inersia gerak satelit (kecenderungan satelit untuk terus bergerak).
Sebagai contoh, satelit yang mengorbit lebih dekat ke Bumi membutuhkan kecepatan lebih tinggi untuk melawan gaya gravitasi yang lebih kuat. Kecepatan yang jauh lebih rendah yang dimiliki satelit umumnya sekitar 17.000 mph, memungkinkan mereka untuk mengorbit pada ketinggian sekitar 150 mil (242 kilometer) dari permukaan Bumi.
3. Kecepatan satelit ditentukan oleh jaraknya dari bumi

Satelit tetap berada di orbit dengan menyeimbangkan kecepatannya dengan gaya gravitasi Bumi. Setelah diluncurkan ke luar angkasa dengan kecepatan tinggi oleh roket yang kuat, satelit bergerak cukup cepat sehingga meskipun gravitasi Bumi terus menariknya ke bawah, satelit tersebut secara efektif terus "melewatkan" Bumi.
Bagi satelit kecepatan adalah hal yang sangat penting, di mana kecepatan satelit sendiri ditentukan oleh jaraknya dari bumi, berikut penjelasannya:
Satelit di LEO, sekitar 160 hingga 2.000 kilometer di atas Bumi, perlu bergerak cepat untuk melawan gaya gravitasi yang kuat pada ketinggian ini. Satelit-satelit ini sering menyelesaikan satu orbit dalam waktu 90 menit.
Orbit bumi menengah (MEO)
Satelit ini mengorbit antara 2.000 hingga 35.000 kilometer di atas bumi, di mana gravitasi lebih lemah, sehingga mereka dapat bergerak lebih lambat daripada satelit di LEO.
Orbit Geostasioner Bumi (GEO)
Satelit GEO mengorbit sekitar 35.786 kilometer di atas khatulistiwa Bumi. Satelit ini bergerak dengan kecepatan rotasi yang sama dengan Bumi, sehingga tampak diam relatif terhadap permukaan tanah. Hal ini menjadikannya ideal untuk pemantauan cuaca dan komunikasi berkelanjutan di area yang luas.
Orbit Elips Tinggi (HEO)
Dengan orbit oval yang panjang, satelit HEO menawarkan pandangan yang lebih luas di wilayah tertentu, sehingga sangat berharga untuk kebutuhan komunikasi khusus, terutama di lintang tinggi.
4. Berapa lama satelit dapat bertahan di orbit?

Berapa lama waktu satelit bertahan di luar angkasa sangat bergantung pada ketinggiannya. Artinya, satelit yang berada di orbit rendah cenderung lebih berisiko terbakar dan jatuh. Hal ini disebabkan oleh terhambatnya gesekan udara di atmosfer. Sebaliknya, satelit yang berada di orbit lebih tinggi biasanya mampu bertahan hingga puluhan tahun karena hampir tidak ada hambatan udara sama sekali.
Lalu, ke mana perginya satelit yang sudah tidak terpakai? Dilansir Skyfi.com, saat sebuah satelit sudah tidak berfungsi lagi, maka operator biasanya mengambil alih untuk mencegahnya menjadi sampah antariksa dengan cara memindahkan satelit tersebut ke orbit 'kuburan' yang letaknya sangat jauh dari orbit lainnya agar tidak mengganggu satelit lain yang masih aktif, atau satelit tersebut dibiarkan turun secara perlahan menuju Bumi agar hancur terbakar dengan aman saat bergesekan dengan atmosfer.
Satelit tidak jatuh ke Bumi karena memiliki kecepatan yang sangat tinggi, ditambah keseimbangan satelit sangat stabil dalam orbitnya. Itulah mengapa satelit tidak jatuh ke Bumi. Sekarang kamu sudah tahu, kan?















![[QUIZ] Jika Reinkarnasi Itu Nyata, Akan Jadi Siapa Kamu di Upin & Ipin?](https://image.idntimes.com/post/20240801/kuis-reinkarnasi-upin-ipin-1-ed6d2af7bdd53fd96fac0b8672909e49.jpg)


