Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Sawit Lebih Merusak dari Tanaman Lain?

ilustrasi perkebunan sawit
ilustrasi perkebunan sawit (commons.wikimedia.org/Wagino 20100516)
Intinya sih...
  • Perubahan tutupan lahan menghilangkan fungsi alami ekosistem
  • Pembukaan lahan melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer
  • Struktur kebun sawit mengubah kehidupan satwa secara perlahan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Isu dampak sawit untuk lingkungan sering menguat ketika perubahan hutan, pelepasan karbon, dan penurunan keanekaragaman hayati. Sawit tidak berdiri sebagai satu-satunya penyebab, tetapi aktivitas pembukaan lahan dan pengelolaan kebun memicu rangkaian perubahan fisik di alam. Tanah, air, udara, dan ruang hidup satwa mengalami penyesuaian yang tidak selalu terlihat secara langsung.

Dampak tersebut muncul melalui proses bertahap dan saling terkait, bukan peristiwa tunggal. Tanpa memahami urutan prosesnya, penilaian terhadap sawit mudah terjebak pada kesimpulan yang tidak utuh. Berikut pembahasan bagaimana perubahan lingkungan terjadi ketika kebun sawit dibangun dan beroperasi.

1. Perubahan tutupan lahan menghilangkan fungsi alami ekosistem

ilustrasi perkebunan sawit
ilustrasi perkebunan sawit (commons.wikimedia.org/T. R. Shankar Raman)

Kerusakan terbesar dari sawit terjadi pada tahap paling awal, yaitu saat hutan dibuka dan diganti dengan bentang lahan baru. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sistem yang mengatur air, suhu, dan siklus nutrien secara alami. Ketika hutan ditebang, tanah kehilangan penyangga, aliran air menjadi tidak stabil, dan kemampuan tanah menyerap air hujan menurun drastis.

Akibatnya, wilayah sekitar lebih rentan mengalami banjir saat musim hujan dan kekeringan saat kemarau. Proses ini tidak terlihat dalam hitungan hari, tetapi terasa dalam jangka panjang. Dampak semacam ini sering luput karena fokus hanya tertuju pada jumlah kebun, bukan perubahan fungsi lahannya.

2. Pembukaan lahan melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer

ilustrasi pembukaan lahan
ilustrasi pembukaan lahan (commons.wikimedia.org/wanda.cc)

Saat hutan dibuka, karbon yang tersimpan di pohon dan tanah dilepaskan ke udara dalam bentuk gas rumah kaca. Pada lahan gambut, dampaknya jauh lebih besar karena lapisan tanahnya menyimpan karbon selama ribuan tahun. Ketika gambut dikeringkan, karbon tersebut teroksidasi dan terus dilepaskan selama kebun masih aktif.

Inilah alasan mengapa emisi dari sawit sering terlihat tinggi, bukan karena pohonnya, tetapi karena lokasi lahannya. Kebun yang dibangun di tanah mineral memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan yang dibangun di gambut. Perbedaan ini jarang dijelaskan, padahal dampaknya sangat signifikan dalam hitungan emisi global.

3. Struktur kebun sawit mengubah kehidupan satwa secara perlahan

ilustrasi perkebunan sawit
ilustrasi perkebunan sawit (commons.wikimedia.org/Adam Jones)

Hutan alami memiliki banyak lapisan vegetasi yang menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa. Ketika diganti dengan kebun sawit, struktur tersebut menjadi seragam dan ruang hidup satwa menyempit. Banyak spesies tidak langsung punah, tetapi perlahan menghilang karena kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung.

Penurunan jumlah serangga, burung kecil, dan mamalia terjadi secara bertahap, sehingga sering tidak disadari. Ini bukan soal satu dua spesies ikonik, melainkan perubahan komposisi ekosistem secara keseluruhan. Dampaknya baru terasa ketika keseimbangan alam mulai terganggu.

4. Sistem air di sekitar kebun ikut berubah

ilustrasi perkebunan sawit
ilustrasi perkebunan sawit (commons.wikimedia.org/CEphoto, Uwe Aranas)

Kebun sawit membutuhkan sistem drainase agar tanah tidak tergenang. Saluran air ini mengubah arah aliran alami sungai kecil dan rawa. Air yang sebelumnya tertahan di tanah kini mengalir lebih cepat ke hilir, membawa sedimen dan zat kimia dari permukaan tanah.

Perubahan ini memengaruhi kualitas air di sungai dan danau sekitar. Dalam jangka panjang, ekosistem perairan ikut tertekan karena peningkatan lumpur dan nutrien berlebih. Dampak ini jarang dikaitkan langsung dengan sawit, padahal prosesnya terjadi secara konsisten di banyak wilayah.

Dampak sawit untuk lingkungan terlihat jelas dari perubahan tutupan lahan hingga sistem air yang ikut bergeser. Kerusakan tersebut tidak terjadi secara instan, tetapi terakumulasi seiring perubahan ekosistem yang terus berlangsung. Ketika dampaknya sudah bisa dipetakan secara ilmiah, pertanyaan pentingnya bukan lagi soal citra sawit, melainkan sejauh mana kerusakan ini dipahami sebelum keputusan membuka lahan kembali diambil?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Science

See More

[QUIZ] Dari Jenis Orbit Planet yang Kamu Pilih, Ini Cara Kamu Menjalani Hubungan

13 Jan 2026, 16:05 WIBScience