Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Siput Bisa Tidur Bertahun-Tahun Tanpa Mati?

Benarkah Siput Bisa Tidur Bertahun-Tahun Tanpa Mati?
ilustrasi siput (unsplash.com/Zdeněk Macháček)
Intinya Sih

  • Siput menurunkan laju metabolisme hingga titik minimum

  • Cangkang menjadi ruang perlindungan yang mengunci kelembapan

  • Cadangan energi menentukan batas waktu bertahan hidup

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Siput termasuk moluska yang mampu menghentikan hampir seluruh aktivitas tubuhnya saat lingkungan menjadi ekstrem, hingga terlihat seperti mati. Pada beberapa spesies, kondisi ini bisa berlangsung lebih dari satu tahun ketika kekeringan panjang terjadi.

Tubuhnya tidak benar-benar tertidur, melainkan menurunkan konsumsi oksigen dan penggunaan energi sampai titik minimum agar organ tetap bertahan. Fenomena inilah yang memunculkan anggapan bahwa siput bisa tidur bertahun-tahun tanpa mati. Benarkah klaim tersebut sepenuhnya akurat atau ada hal yang jarang dibahas?

1. Siput menurunkan laju metabolisme hingga titik minimum

ilustrasi siput
ilustrasi siput (unsplash.com/Nilu Gunaratne)

Saat lingkungan berubah ekstrem, siput tidak langsung mati karena tubuhnya mampu memangkas kebutuhan energi secara drastis. Detak jantung melambat, konsumsi oksigen turun tajam, dan aktivitas enzim ditekan ke level minimum agar cadangan energi tidak cepat habis. Penurunan ini bukan setengah-setengah, melainkan bisa mencapai tingkat yang membuat aktivitasnya hampir tak terdeteksi dari luar. Inilah alasan siput sering terlihat seperti bangkai kering padahal masih hidup.

Keadaan tersebut dikenal sebagai aestivation ketika dipicu panas dan kekeringan, serta hibernation saat suhu dingin mendominasi. Dalam fase ini, sistem tubuh bekerja sangat hemat, hanya menjaga fungsi vital agar sel tidak rusak permanen. Tidak ada proses tidur dengan siklus saraf seperti pada mamalia.

2. Cangkang menjadi ruang perlindungan yang mengunci kelembapan

ilustrasi siput
ilustrasi siput (unsplash.com/Anton Atanasov)

Cangkang bukan sekadar pelindung fisik dari predator, tetapi ruang tertutup yang membantu mempertahankan cairan tubuh. Ketika udara mengering, siput masuk sepenuhnya ke dalam cangkang lalu menghasilkan lapisan lendir yang mengeras menjadi epiphragm. Lapisan ini bertindak seperti segel tipis yang menahan penguapan air dari jaringan lunaknya. Tanpa mekanisme ini, dehidrasi bisa terjadi sangat cepat.

Segel tersebut juga membatasi pertukaran udara sehingga laju pernapasan ikut melambat. Dengan begitu, kebutuhan oksigen dan energi turun bersamaan. Selama segel masih utuh dan kelembapan internal terjaga, siput tetap memiliki peluang hidup. Begitu kondisi membaik, lapisan itu akan pecah dan aktivitas kembali berlangsung.

3. Cadangan energi menentukan batas waktu bertahan hidup

ilustrasi siput
ilustrasi siput (unsplash.com/Vladimir Vinogradov)

Sebelum memasuki fase tidak aktif, siput cenderung memperbanyak asupan makanan. Nutrisi diubah menjadi cadangan dalam bentuk glikogen dan lemak yang disimpan di jaringan tubuh. Cadangan inilah yang menopang fungsi dasar selama berbulan-bulan tanpa asupan baru. Tanpa persiapan tersebut, fase dormansi akan jauh lebih singkat.

Meski hemat energi, tubuh tetap membutuhkan pasokan untuk menjaga integritas sel. Jika cadangan habis sebelum lingkungan kembali mendukung, organ mulai mengalami kerusakan. Di sinilah batas biologisnya terlihat jelas. Siput tidak memiliki kemampuan bertahan tanpa batas, semua bergantung pada stok energi yang tersedia.

4. Durasi dormansi berbeda pada setiap spesies moluska

ilustrasi siput
ilustrasi siput (unsplash.com/Nikola Tomašić)

Tidak semua moluska memiliki kapasitas bertahan yang sama. Spesies siput gurun diketahui mampu melewati periode kering lebih panjang dibanding siput yang hidup di area lembap. Perbedaan ini dipengaruhi struktur tubuh, efisiensi penyimpanan energi, serta kemampuan mengurangi kehilangan air. Karena itu, klaim “bertahun-tahun” tidak bisa digeneralisasi.

Pada kondisi tertentu, dormansi bisa berlangsung lebih dari satu tahun, tetapi jarang melampaui itu tanpa risiko tinggi. Jika suhu terlalu ekstrem atau kekeringan berlangsung terlalu lama, tingkat kematian tetap meningkat. Jadi, durasi panjang bukan jaminan mutlak untuk selamat sebab faktor lingkungan tetap menjadi penentu utama.

Moluska seperti siput memang mampu bertahan dalam kondisi ekstrem melalui fase dormansi yang membuat tubuhnya bekerja sangat lambat. Kemampuan ini sering disalahartikan sebagai tidur bertahun-tahun, padahal yang terjadi adalah penekanan metabolisme, penguncian kelembapan, serta pemanfaatan cadangan energi secara ketat. Jadi, klaim bahwa siput bisa tidur bertahun-tahun tanpa mati perlu dipahami sebagai kemampuan bertahan hidup dengan batas tertentu, bukan kondisi tidur tanpa akhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Science

See More