Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tanpa Semen, Rahasia Kunci Batu Bikin Borobudur Tetap Gagah Tahan Gempa

Tanpa Semen, Rahasia Kunci Batu Bikin Borobudur Tetap Gagah Tahan Gempa
Candi Borobudur (Gunawan Kartapranata, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Candi Borobudur dibangun abad ke-8 oleh Wangsa Syailendra menggunakan dua juta batu andesit tanpa semen, menjadikannya monumen Buddha terbesar yang tetap kokoh lebih dari 1.200 tahun.
  • Kekuatan Borobudur berasal dari sistem kunci batu interlock, di mana setiap balok dipahat presisi agar saling mengunci dan mampu bergerak fleksibel mengikuti getaran gempa.
  • Terdapat empat jenis kunci utama—ekor burung, takikan, alur-lidah, serta purus-lubang—yang membuat struktur kuat sekaligus ramah lingkungan, mencerminkan teknologi tahan gempa kuno yang visioner.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Candi Borobudur berdiri megah di Magelang, Jawa Tengah, sebagai monumen Buddha terbesar di dunia yang tak lekang oleh waktu. Dibangun pada abad ke-8 oleh Wangsa Syailendra, mahakarya ini disusun dari sekitar dua juta balok batu andesit tanpa setetes pun semen modern. Selama lebih dari 1.200 tahun, candi ini telah menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sejarah, letusan gunung berapi, hingga guncangan gempa bumi yang berkali-kali melanda.

Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin sebuah struktur raksasa yang hanya terbuat dari tumpukan batu bisa begitu kokoh? Jawabannya terletak pada sebuah kearifan lokal yang melampaui zamannya, sebuah teknologi kuno yang kini terungkap sebagai sistem rekayasa sipil yang jenius. Para arsitek di masa lalu tidak hanya menumpuk batu, mereka menciptakan sebuah sistem penguncian yang rumit, menjadikan Borobudur sebuah mahakarya yang fleksibel dan mampu bertahan dari amukan alam.

Batunya tidak disemen, tapi saling mengunci seperti puzzle raksasa

Candi Borobudur
Candi Borobudur (M1qbalimages, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Rahasia utama kekuatan Candi Borobudur adalah sistem interlock atau kunci batu. Alih-alih menggunakan bahan perekat, para pembangunnya dengan cermat memahat setiap balok batu andesit untuk saling mengunci satu sama lain, mirip seperti menyusun kepingan puzzle tiga dimensi yang masif. Setiap batu memiliki bentuk unik yang presisi, dirancang agar pas dan 'memegang' batu di sekelilingnya, menciptakan satu kesatuan struktur yang solid namun tidak kaku.

Metode ini menunjukkan pemahaman mendalam para arsiteknya terhadap sifat alam. Mereka tahu bahwa struktur yang kaku justru akan mudah retak dan hancur saat diguncang gempa. Dilansir dari laman Infomitigasi, sistem kunci batu ini memungkinkan seluruh bangunan bergerak secara bersamaan mengikuti getaran tanah, sehingga energi gempa dapat diserap dan didistribusikan dengan baik. Kemampuan untuk "menari" bersama gempa inilah yang membuat Borobudur tetap gagah berdiri hingga hari ini, sebuah prinsip yang sangat relevan dengan teknologi bangunan tahan gempa modern.

Ada empat jenis kunci rahasia yang dipakai para arsitek kuno

Candi Borobudur
Candi Borobudur (Gunawan Kartapranata, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Teknik kunci batu di Borobudur bukanlah sistem tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa jenis sambungan yang digunakan di berbagai bagian candi. Berdasarkan temuan para ahli, setidaknya ada empat tipe kunci utama yang menjadi fondasi kekuatan candi ini. Keempatnya adalah tipe ekor burung (dovetail), tipe takikan (mortise and tenon), tipe alur dan lidah (tongue and groove), serta tipe purus dan lubang (dowel). Masing-masing memiliki fungsi spesifik untuk memastikan ikatan antar batu menjadi sempurna.

Misalnya, teknik purus dan lubang bekerja layaknya balok Lego modern, di mana satu batu memiliki tonjolan (purus) yang akan dimasukkan ke dalam lubang di batu lainnya. Seperti dijelaskan dalam Raheem Tabet Blog, metode ini sangat efektif untuk mencegah batu bergeser dari posisinya, baik secara vertikal maupun horizontal. Sementara itu, tipe ekor burung yang berbentuk seperti trapesium digunakan untuk menyambung batu-batu di bagian dinding, memastikan tidak ada celah yang bisa merusak struktur.

Bukan cuma kuat, sistem ini juga ramah lingkungan dan jenius

Candi Borobudur
Candi Borobudur (Istiadiningdyah, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Di balik kehebatannya, sistem konstruksi Borobudur menyimpan pelajaran penting tentang keberlanjutan. Dengan tidak menggunakan bahan perekat buatan, pembangunan candi ini sepenuhnya mengandalkan sumber daya alam lokal dan keahlian tangan manusia. Hal ini menjadikannya sebuah contoh arsitektur yang ramah lingkungan, sebuah konsep yang kini gencar digaungkan di seluruh dunia. Para leluhur bangsa Indonesia telah mempraktikkannya ribuan tahun lalu.

Kejeniusan ini tidak berhenti di situ. Prinsip fleksibilitas dalam sistem kunci batu sejatinya adalah bentuk kuno dari teknologi isolasi dasar (base isolation) yang kini menjadi andalan dalam rekayasa bangunan tahan gempa. Para arsitek Syailendra, tanpa bantuan komputer atau perangkat lunak canggih, berhasil merancang sebuah struktur monumental yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Ini adalah bukti bahwa inovasi dan teknologi tidak selalu tentang modernitas, tetapi juga tentang pemahaman yang mendalam terhadap alam.

Sebagai warisan budaya dunia, Candi Borobudur tidak hanya menyimpan keindahan seni dan nilai-nilai spiritual. Di dalam setiap sambungan batunya, tersimpan rahasia ilmu arsitektur dan ketangguhan yang luar biasa dari para leluhur kita.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More