Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bisakah Banjir Diprediksi Secara Ilmiah?

misbahul-aulia-38CTbydRZXI-unsplash.jpg
ilustrasi banjir (unsplash.com/Misbahul Aulia)
Intinya sih...
  • Prediksi banjir berbeda dengan prakiraan cuaca harian atau peringatan dini
  • Faktor alam seperti curah hujan, kondisi tanah, dan topografi memengaruhi prediksi banjir
  • Teknologi dan data seperti radar cuaca, satelit, dan big data meningkatkan akurasi prediksi banjir
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banjir adalah bencana alam yang menyebabkan kerusakan besar dan kerap membuat masyarakat kelimpungan. Tidak sedikit orang menganggap banjir sebagai bencana yang muncul tiba-tiba, tanpa tanda, dan mustahil diperkirakan. Air meluap, rumah terendam, aktivitas lumpuh, semuanya seolah terjadi begitu saja.

Namun, benarkah banjir sepenuhnya tak terduga? Berkat perpaduan ilmu pengetahuan, teknologi, dan data, para ahli kini mampu memprediksi banjir dengan tingkat akurasi yang semakin baik. Hidrolog dan meteorolog berusaha mengubah peristiwa yang dulu dianggap acak menjadi risiko yang bisa dikelola. Di sini, kita akan membahas bagaimana prediksi banjir dilakukan, apa batasannya, dan mengapa banjir tetap terjadi meskipun ilmunya terus berkembang.

1. Apa itu prediksi banjir

Prediksi banjir berbeda dengan prakiraan cuaca harian atau sekadar peringatan dini. Prakiraan cuaca fokus pada perubahan atmosfer jangka pendek, seperti kemungkinan hujan besok. Sementara itu, peringatan dini memberi tahu bahaya yang sudah sangat dekat. Prediksi banjir melangkah lebih jauh dengan memodelkan bagaimana air terkumpul, mengalir, lalu meluap, dengan mempertimbangkan kondisi sungai, tanah, dan bentuk wilayah.

Prediksi ini bekerja dalam tiga skala waktu. Jangka pendek, dari hitungan jam hingga hari, biasanya digunakan untuk banjir bandang. Jangka menengah, dalam hitungan minggu, berguna untuk memantau kenaikan debit musiman. Jangka panjang, hingga beberapa bulan, dipakai untuk memprediksi pola hujan, seperti musim monsun. Meski canggih, prediksi banjir tidak pernah bersifat mutlak. Risiko biasanya dinyatakan dalam probabilitas karena alam bersifat dinamis dan data tidak selalu sempurna.

2. Faktor alam dalam prediksi banjir

Para ahli biasanya memulai dari faktor-faktor alami. Curah hujan menjadi pemicu utama banjir, baik dari segi intensitas, durasi, maupun polanya. Hujan ekstrem yang turun terus-menerus dapat dengan cepat melampaui kemampuan tanah dan sungai menampung air.

Kondisi tanah juga berperan penting. Tanah yang sudah jenuh air hampir tidak mampu menyerap tambahan air hujan sehingga limpasan permukaan meningkat. Topografi menentukan ke mana air bergerak: lereng curam mempercepat aliran ke dataran rendah, sementara wilayah datar cenderung menahan genangan lebih lama. Sungai juga memegang peranan penting, dengan debit, kapasitas tampung, dan sedimentasi yang memengaruhi risiko meluap. Sungai yang dangkal akibat endapan lumpur jauh lebih rentan menyebabkan banjir.

3. Peran teknologi dan data

pexels-jonathanborba-16229108.jpg
ilustrasi banjir (pexels.com/Jonathan Borba)

Teknologi memperkuat pemahaman terhadap faktor alam tersebut. Radar cuaca memantau hujan secara real-time, sementara satelit seperti Global Precipitation Measurement (GPM) milik NASA mengamati sistem awan di seluruh dunia. Di darat, Automatic Weather Station (AWS) mencatat curah hujan, dan Automatic Water Level Recorder (AWLR) mengukur tinggi muka air sungai.

Semua data ini diolah dalam model hidrologi berbasis komputer untuk mensimulasikan aliran air. Perkembangannya makin pesat dengan kehadiran big data dan kecerdasan buatan. Machine learning mampu mengenali pola dari data banjir masa lalu dan meningkatkan akurasi prediksi. Beberapa sistem bahkan mampu memperbaiki ketepatan ramalan hingga 20–30 persen.

4. Sistem peringatan dini banjir

Prediksi banjir terhubung erat dengan sistem peringatan dini. Prosesnya membentuk rantai: sensor mengumpulkan data, model menganalisisnya, lalu peringatan dikirim melalui aplikasi, pesan singkat, atau sirene. Kendati efektif untuk evakuasi cepat, sistem ini juga memiliki kelemahan. Alarm palsu dapat menurunkan kepercayaan masyarakat, dan gangguan teknologi di daerah terpencil kerap menghambat distribusi peringatan.

5. Mengapa banjir tetap terjadi

Prediksi yang baik tidak selalu berarti banjir bisa dicegah. Aktivitas manusia sering memperburuk risiko. Urbanisasi pesat menutup lahan resapan, drainase yang buruk memperparah genangan, dan penurunan tanah meningkatkan kerentanan banjir tahunan.

Selain itu, keterbatasan data di wilayah terpencil dan ketidaksempurnaan model menambah ketidakpastian. Masalah komunikasi juga krusial: peringatan bisa terlambat atau diabaikan. Mengetahui banjir akan datang tidak sama dengan siap menghadapinya. Penundaan evakuasi dan sikap meremehkan sering mengubah prediksi menjadi bencana nyata.

Banjir memang bisa diprediksi secara ilmiah, tapi tidak pernah 100 persen akurat. Ilmu pengetahuan mengubah risiko menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti sehingga nyawa dan harta benda bisa diselamatkan. Meskipun begitu, prediksi sebaiknya dipandang sebagai alat mitigasi, bukan ramalan mutlak. Ketika dipadukan dengan infrastruktur yang tangguh dan kesiapsiagaan masyarakat, sains menjadi senjata ampuh menghadapi banjir.

Referensi

Mahdi, M. S., Abbas, I. K., Muhammed, B. M., & Abbas, H. A. (2024). Advancing Flood predication based on integrating Traditional and Deep Learning Techniques. Journal La Multiapp, 5(6), 890–897. https://doi.org/10.37899/journallamultiapp.v5i6.1520
Massachusetts Institute of Technology. Diakses pada Desember 2025. New AI Tool Generates Realistic Satellite Images of Future Flooding
NASA. Diakses pada Desember 2025. Predicting Floods 
NOAA National Severe Storms Laboratory. Diakses pada Desember 2025. Severe Weather 101- Floods

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More

7 Hewan dengan Tabir Surya Alami, Strategi Bertahan dari Matahari

05 Jan 2026, 07:15 WIBScience