Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alysa Liu dan Imigran Asia di Cabor Figure Skating Amerika Serikat
ilustrasi atlet figure skating (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Alysa Liu mencuri perhatian dunia setelah meraih emas Olimpiade Musim Dingin 2026, sekaligus menjadi simbol kontribusi besar diaspora Asia di cabang figure skating Amerika Serikat.
  • Sejak era Kristi Yamaguchi dan Michelle Kwan, atlet keturunan Asia Timur telah mendominasi figure skating AS meski dulu menghadapi diskriminasi rasial dan kurang mendapat sorotan publik.
  • Keberhasilan Liu tak hanya soal prestasi, tapi juga menyatukan publik Amerika yang terpolarisasi lewat kisahnya sebagai anak imigran China dengan citra progresif dan semangat inklusif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Alysa Liu jadi sensasi di internet gara-gara kemenangan epiknya di Olimpiade Musim Dingin 2026. Dalam waktu singkat, pengikutnya di media sosial melonjak drastis. Sosok Liu memang fenomenal. Selain penampilannya yang nyentrik, Liu juga dipuji atas perilakunya di lapangan yang mencerminkan sikap positif.

Namun, terlepas dari kepribadiannya yang bikin publik terkesima, Liu mewakili sesuatu yang lebih besar. Yakni, kontribusi diaspora Asia di cabor figure skating (seluncur indah) Amerika Serikat. Liu bukan atlet seluncur indah Amerika keturunan Asia pertama dalam sejarah, justru ia adalah nama kesekian. Mengapa diaspora Asia-Amerika ini begitu lekat dengan cabor figure skating? Mari ulas lebih jauh sambil mengenal sosok Liu.

1. Sebelum Alysa Liu, Amerika Serikat punya beberapa perwakilan keturunan Asia di cabor figure skating

Sebelum Alysa Liu naik ke permukaan, AS lebih dulu dibikin bangga oleh Kristi Yamaguchi, Michelle Kwan, Nathan Chen, Vincent Zhou, Mirai Nagasu, Karen Chen, serta Alex dan Maia Shibutani. Selain kompak berstatus peraih medali olimpiade, semua nama tadi berstatus keturunan imigran Asia Timur yang lahir serta besar di Amerika Serikat. Miris, fakta ini tidak pernah benar-benar jadi sorotan sampai Liu jadi peraih medali Olimpiade Musim Dingin 2026. Padahal, riwayat kontribusi mereka sudah tercatat sejak tahun 1990-an lewat Kristi Yamaguchi dan Michelle Kwan.

Tidak mengejutkan tentunya, mengingat pada era itu diskriminasi rasial masih kental terasa di Amerika Serikat. Apalagi, pada dekade 1980 dan 1990-an, sentimen rasial terutama yang menarget imigran Asia sedang gencar terjadi di AS. Ada beberapa faktor yang mendasari sentimen tersebut. Mulai dari pengurangan tenaga kerja di sektor otomotif yang ditengarai terjadi karena produsen Amerika kalah saing dengan pabrik Jepang, sampai tingginya angka kedatangan imigran Asia akibat situasi politik yang tidak menguntungkan (Tragedi Tiananmen 1989, reunifikasi Hong Kong dan Taiwan dengan China, krisis ekonomi 1997). Dilansir Slate, Yamaguchi bahkan sering mendapat pertanyaan provokatif dari wartawan yang seolah mempertanyakan kecocokannya sebagai perwakilan Amerika Serikat.

2. Alasan di balik banyaknya atlet Asia-Amerika di cabor figure skating

Pertanyaaannya, mengapa banyak atlet Asia-Amerika yang sukses di cabor figure skating? NPR pernah mewawancari Christina Chin, sosiolog olahraga di California State University, Fullerton pada 2022 soal ini. Chin berargumen bahwa alasan paling masuk akalnya adalah keberadaan sumber daya, terutama finansial. Ini mengingat untuk menekuni cabor seluncur indah perlu biaya yang tak sedikit. Seorang atlet harus membayar pelatih serta menyewa venue latihan secara pribadi karena cabor ini tidak berkelompok.

Belum lagi biaya untuk peralatan dan kostum yang tak bisa dibilang murah. Chin menambahkan itu pula yang menjelaskan mengapa kebanyakan atlet Asia-Amerika yang dimaksud datang dari Asia Timur (terutama China dan Jepang). Menurut pengamatannya, merekalah yang punya modal finansial relatif paling baik dibanding imigran Asia dari region lain. Argumen lain yang cukup masuk akal adalah mentalitas disiplin individu yang dibawa imigran, terutama dari Asia, juga bisa mendukung karier atlet figure skating.

3. Alysa Liu menyatukan Amerika Serikat yang sedang terpolarisasi hebat

Liu bisa dibilang beruntung karena menemukan momennya pada 2026. Ia diuntungkan oleh masifnya media sosial yang membuat dirinya lebih mudah “dijangkau” orang, bahkan yang berada di luar Amerika Serikat. Apalagi sejak 2020-an, media suka menyorot sosok-sosok progresif sepertinya. Lahir dari seorang penerima suaka asal China yang bermigrasi ke AS gara-gara keterlibatannya dalam peristiwa Tiananmen 1989, momen epik Alysa Liu meraih medali emas olimpiade terasa cocok dengan narasi-narasi inklusif dan pro-imigran.

Belum lagi, Alysa Liu dengan rambut halo dan performanya yang unik membuatnya dengan mudah dikategorikan dalam kelompok nonkonformis. Liu bahkan pernah pensiun selama beberapa tahun dari seluncur indah untuk memprioritaskan kesehatan mentalnya. Sontak, ini membuatnya dapat label punk rock dan otomatis menaikkan popularitasnya di kalangan progresif (sayap kiri). Menariknya, afiliasi itu ternyata tidak menghalangi warga Amerika Serikat yang mengidentifikasi diri sebagai penganut aliran politik konservatif (sayap kanan) untuk ikut merayakan kesuksesannya. Ini membuat Liu jadi semacam pemersatu bangsa yang sedang terpolarisasi hebat itu.

Dari Alysa Liu kita memang bisa belajar banyak, mulai dari keberaniannya untuk mengikuti kata hati sampai identitasnya yang unik. Mirisnya, ia juga menunjukkan sebuah kontradiksi yang sedang marak terjadi beberapa tahun belakangan. Ketika kita ramai-ramai “dihibur”dengan kehadiran tokoh-tokoh progresif di bidang seni dan olahraga, pemimpin dan tokoh politik yang menganut aliran sebaliknya sedang berkuasa di banyak negara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team