Di Balik Senyum Veda Ega: Ada Rindu dan Mimpi yang Tak Tergesa-gesa

Veda Ega Pratama bersiap menjalani balapan kandang pertama sejak berkiprah di Moto3.
Hidup mandiri di Spanyol membuat Veda menghadapi rindu keluarga dan makanan, sekaligus beradaptasi dengan latihan serta persaingan ketat.
Veda memilih fokus mematangkan diri di Moto3 sebelum memikirkan langkah menuju Moto2 dan MotoGP.
Jakarta, IDN Times - Sorak sorai penonton di Pertamina Mandalika International Circuit pada 9-11 Oktober mendatang dipastikan akan lebih bergemuruh dari biasanya. Ada sinar baru yang akan mencuri sorotan di atas lintasan, yakni Veda Ega Pratama.
Apalagi, ini merupakan balapan kandang pertama Veda Ega sejak berkiprah di Moto3. Pada usianya yang baru menginjak 17 tahun, Veda sukses mencuri perhatian dunia lewat lonjakan performanya di Eropa. Termasuk dukungan bergengsi dari Red Bull.
Namun, di balik seragam balapnya yang mentereng dan senyum khas remajanya, tersimpan kisah perjuangan dan beban ekspektasi publik yang komentarnya sering setajam pisau di internet.
1. Surat cinta dari lintasan untuk sang ayah

Potret Veda Ega. (Dok. Red Bull). Langkah Veda di dunia balap bukanlah sebuah kebetulan instan. Veda adalah hasil tempaan keras sang ayah, Sudarmono, yang juga merupakan mantan pembalap nasional. Latar belakang Sudarmono menggambarkan siapa sosok pertama yang mengenalkan Veda pada dunia balap.
Meski kini Veda harus hidup mandiri di Barcelona, Spanyol, dan sang ayah hanya bisa memantau lewat televisi, ikatan "guru dan murid" masih terus berjalan. Pembedanya hanya pembelajarannya yang dari saat ini dari kejauhan.
"Dia selalu ngasih masukan setiap setelah race atau setiap setelah sesi, dan saya pasti dengerin karena saya masih ingat semua yang udah diajarin," kata Veda dalam program Locker Room by IDN Times.
2. Melawan sepi dan kerasnya adaptasi di Negeri Matador

Potret Veda Ega. (Dok. Red Bull). Bukan hal mudah bagi seorang anak remaja asal Gunungkidul untuk tiba-tiba harus hidup mandiri di Eropa yang asing secara budaya dan bahasa. Pada awal kedatangannya 2024 lalu, Veda mengaku sempat dihantam kerinduan yang luar biasa. Bukan hanya rindu rumah rumah, tetapi juga masakan khas Nusantara.
Namun, tempaan iklim latihan yang keras dan persaingan ketat dengan pembalap-pembalap terbaik dari seluruh dunia memaksanya untuk segera bangkit. Setelah tiga tahun menetap di Spanyol, rasa rindu itu perlahan menjelma menjadi bahan bakar motivasi untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanannya jauh dari keluarga.
"Pastinya keluarga, karena kan jauh, dan ya saya di sana tinggal sendiri sama teman-teman rider lainnya dan juga makanan. Dua itu sih, keluarga sama makanan. Cuma makanan ya kadang saya bisa masak, cuma kadang gak ada waktu," ucap Veda.
"Kalau homesick awal-awal aja dulu waktu 2024. Cuma sekarang udah 2 tahun setengah, jadi ya... udah 2 tahun setengah tinggal di sana, jadi udah mulai terbiasa dan gak ada homesick sih," kenang Veda.
3. Red Bull dan magis seorang Marc Marquez

Potret Veda Ega. (Dok. Red Bull). Bergabung dalam jajaran atlet elite yang mendapat dukungan penuh dari Red Bull menjadi buah manis dari perjuangan keras Veda. Logo banteng merah tersebut bagaikan simbol kalau dirinya telah diakui sebagai atlet dengan talenta menjanjikan.
Di tengah kerasnya persaingan, sosok juara dunia tujuh kali, Marc Marquez, menjadi cerminan utama mentalitas juara yang ingin ditirunya. Nilai pada diri Marquez disulam sebagai motivasi untuk mengejar cita-cita.
"Saya mencontoh Marquez karena dia benar-benar strong, mungkin Veda yang sekarang ini juga karena terinspirasi Marquez," ucap Veda.
4. Ogah terbebani mimpi menembus kelas MotoGP

Potret Veda Ega. (Dok. Red Bull). Dengan segala sorotan dan ekspektasi yang mengiringinya, publik sering kali buru-buru menanyakan kans menembus MotoGP. Namun yang harus disadari, perjalanan menuju kasta tertinggi itu sangat brutal.
Pada musim ini saja, hanya tersedia 22 kursi balap di seluruh dunia setiap musimnya. Pembalap yang promosi setiap tahunnya juga sedikit, paling banyak lima. Karena itu, Veda memilih tutup telinga dan fokus setahap demi setahap.
"Bayangkan saja, cuma 20 rider yang diambil dari seluruh dunia dan rata-rata semuanya sudah juara dunia, intinya pasti berat," kata dia.
5. Menikmati proses tanpa perlu tergesa-gesa

Ilustrasi Veda Ega (nomor 9) di tikungan. (Dok. Red Bull). Veda memang baru berusia 17 tahun, tetapi kedewasaannya terlihat jelas dari caranya menyikapi ambisi karier jangka panjangnya. Veda menolak untuk langsung bermimpi ke MotoGP.
Fokus utamanya saat ini hanyalah memberikan kemampuan terbaik di setiap seri balapan Moto3 yang diikutinya. Veda baru akan memulai berangan-angan jika sudah merasa pantas.
"Fokus dulu di Moto3, dimatengin dulu, baru belajar di Moto2, kalau benar-benar udah siap, baru ke MotoGP," ucap Veda.






















