JRF 2026 Siapkan Bendera Hitam jika Cuaca Membahayakan

JRF 2026 pada 24-25 Oktober di Jakarta diikuti lebih dari 37 ribu pelari dari 49 negara, dengan pemantauan cuaca dan polusi secara real-time melalui indikator WBGT.
Panitia memasang bendera indikator di lintasan dan tenda medis; bendera merah meminta pelari lebih waspada, sedangkan bendera hitam menandakan lomba dihentikan demi keselamatan.
Peserta diminta tidak mengejar target waktu saat cuaca kurang mendukung, menyesuaikan kecepatan dengan kondisi tubuh, dan segera mencari bantuan medis bila mengalami keluhan.
Jakarta, IDN Times – Penyelenggara Jakarta Running Festival (JRF) 2026 menyiapkan prosedur bendera hitam untuk melindungi peserta dari risiko cuaca panas dan polusi udara di Jakarta. Ajang yang berlangsung pada 24-25 Oktober 2026 ini diikuti lebih dari 37 ribu pelari dari 49 negara.
Race Director JRF 2026, Donny Tjahyadikarta, menjelaskan panitia akan memantau kondisi lingkungan secara real-time menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT).
Indikator ini digunakan untuk menilai risiko tekanan panas dengan mempertimbangkan sejumlah faktor lingkungan, termasuk suhu, kelembapan, dan paparan panas.
1. Ada indikator bendera yang dipasang panitia

JRF 2026 siap diramaikan 37.000 pelari dari 49 negara. (IDN Times/Sandy Firdaus) Panitia juga akan memasang bendera indikator di sejumlah titik lintasan dan tenda medis. Perubahan warna bendera menjadi peringatan bagi pelari untuk menyesuaikan aktivitas dan meningkatkan kewaspadaan selama perlombaan.
"Jadi, kami akan terus memantau dan memasang bendera di lintasan serta di beberapa tenda medis. Pelari nantinya bisa melihat ketika warnanya sudah merah, yang berarti mereka perlu berhati-hati," ujar Donny di Jakarta, Jumat (22/10/2026).
2. Bendera hitam untuk situasi dan cuaca berbahaya

Le Minerale sukseskan puluhan finisher untuk virgin full marathon di JRF 2025 lewat program pelatihan Le Minerale Running Squad (Dok. Istimewa) Donny menegaskan, panitia dapat menghentikan perlombaan apabila indikator keselamatan menunjukkan kondisi paling berbahaya. Bendera hitam menjadi penanda bahwa lomba harus dihentikan demi keselamatan peserta.
"Jika sampai bendera hitam dikibarkan, kami akan menghentikan perlombaan," tegas Donny.
Sistem pemantauan tersebut menjadi salah satu langkah antisipasi penyelenggara dalam menghadapi kondisi cuaca yang berpotensi membahayakan pelari. Dengan adanya indikator di lintasan dan tenda medis, peserta diharapkan dapat mengenali peringatan serta mengambil langkah yang diperlukan.
3. Pelari diminta tak paksakan diri

JRF 2026 siap diramaikan 37.000 pelari dari 49 negara. (IDN Times/Sandy Firdaus) Selain menyiapkan sistem peringatan, panitia mengimbau peserta untuk mengutamakan keselamatan dan memperhatikan kondisi fisik masing-masing. Pelari diminta tidak memaksakan diri demi mengejar target waktu, terutama ketika kondisi cuaca kurang mendukung.
Donny menekankan kemampuan mengenali sinyal tubuh menjadi hal penting selama mengikuti perlombaan. Peserta diharapkan menyesuaikan kecepatan lari dengan kondisi fisik dan segera mencari bantuan medis jika mengalami keluhan.
"Bagi para peserta JRF 2026, terutama dalam kondisi cuaca seperti ini, dengarkan kondisi tubuh kalian. Jangan mengejar waktu. Cuaca sedang kurang baik, jadi jangan memaksakan diri," kata Donny.
Rangkaian JRF 2026 berlangsung selama empat hari dan dipusatkan di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Ajang itu menyediakan lima kategori yang inklusif untuk semua kalangan.
Kelima kategori itu mulai dari Junior Dash untuk anak usia 4-11 tahun, 5K untuk pemula dan keluarga, 10K untuk pelari yang ingin menantang kecepatan, Half Marathon (21K) hingga Marathon 42K.
Tidak cuma itu, rangkaian JRF 2026 juga akan menghadirkan 130 brand, termasuk 48 UMKM lokal serta melibatkan para pelaku kuliner dalam acara race expo di Istora Senayan.





















