- Marco Bezzecchi - 6 kali;
- Pedro Acosta - 4 kali;
- Joan Mir - 4 kali;
- Fabio Di Giannantonio - 4 kali;
- Alex Marquez - 4 kali;
- Jorge Martin - 4 kali;
- Jack Miller - 4 kali;
- Franco Morbidelli - 4 kali;
- Ai Ogura - 4 kali;
- Marc Marquez - 3 kali.
Kelemahan di Balik Performa Mentereng Marco Bezzecchi di MotoGP 2026

- Marco Bezzecchi sapu bersih tiga kemenangan utama awal MotoGP 2026 dan memimpin klasemen pembalap serta membantu Aprilia Racing unggul di klasemen tim.
- Meski dominan, Bezzecchi tercatat sebagai pembalap paling sering terjatuh dengan enam insiden dalam tiga seri awal, termasuk dua kali saat balapan sprint penting.
- Bezzecchi bertekad memperbaiki performa sprint agar tak kehilangan poin berharga, belajar dari kegagalan Francesco Bagnaia yang kurang konsisten pada sesi serupa.
Marco Bezzecchi menunjukkan performa menjanjikan pada tiga balapan awal MotoGP 2026. Ia menyapu bersih kemenangan balapan utama saat memacu motor RS-GP. Catatan mentereng itu menempatkan Bezzecchi di puncak klasemen sementara.
Meski begitu, di balik kinerjanya yang gemilang, Bezzecchi masih punya kelemahan penting yang harus segera diperbaiki. Ini berkaitan dengan catatan kecelakaan yang terjadi sepanjang pekan balap. Apalagi, pembalap Aprilia Racing itu menjadi yang paling sering terjatuh dalam tiga seri perdana musim ini.
1. Marco Bezzecchi meraih tiga kemenangan balapan utama secara beruntun pada awal MotoGP 2026
Marco Bezzecchi membukukan torehan impresif pada tiga seri perdana MotoGP 2026. Pembalap bernomor motor 72 itu menyabet semua kemenangan pada balapan utama di GP Thailand, Brasil, dan Amerika Serikat. Hasil tersebut menambah rentetan kemenangan beruntun Bezzecchi menjadi lima sejak GP Portugal 2025.
Kinerja mengesankan saat menunggangi RS-GP menempatkan Bezzecchi di puncak klasemen lewat perolehan 81 poin. Ia unggul empat poin atas rekan setimnya, Jorge Martin, yang berada di posisi kedua. Sumbangsih poin Bezzecchi ditambah dengan Martin juga memengaruhi posisi Aprilia Racing di klasemen tim.
Tim yang berbasis di Noale, Italia, tersebut memimpin setelah meraup 158 poin. Itu merupakan perolehan poin terbanyak kedua dalam tiga seri balap awal musim sejak format balapan sprint diterapkan pada 2023. Aprilia Racing terpaut tiga poin dari Ducati Lenovo Team pada periode yang sama pada 2025.
2. Marco Bezzecchi justru menjadi pembalap paling sering terjatuh dalam tiga balapan awal MotoGP 2026
Marco Bezzecchi dapat berbangga diri atas performa oke pada fase awal MotoGP 2026. Terlebih, ia mampu menduduki posisi teratas di klasemen pembalap. Akan tetapi, Bezzecchi tak sepenuhnya puas atas capaiannya dalam tiga seri perdana musim ini.
Itu tak lepas dari jumlah insiden yang dialami selama pekan balap berlangsung. Motorsport melansir, Bezzecchi menjadi pembalap paling sering terjatuh dalam tiga pekan balap perdana. Pembalap berusia 27 tahun itu terjatuh sebanyak enam kali.
Adapun sepuluh besar pembalap paling sering terjatuh selama tiga seri awal MotoGP 2026 dapat dilihat pada daftar berikut:
Masalah Bezzecchi bukan hanya perihal jumlah insiden yang dialami, melainkan juga waktu saat insiden terjadi. Ia terjatuh dua kali pada momen penting untuk memperebutkan poin. Itu terjadi pada pekan balap GP Thailand dan Amerika Serikat.
Bezzecchi terjatuh pada lap kedua balapan sprint GP Thailand. Ketika itu, ia sedang memimpin balapan dan berusaha menjauh dari kejaran Marc Marquez. Kemudian, Bezzecchi kembali mengalami kejadian serupa pada balapan sprint di Circuit of the Americas (COTA). Pembalap berpaspor Italia tersebut gagal finis karena terjatuh pada lap kedelapan ketika sedang menduduki posisi kedua.
Bezzecchi baru sekali menuntaskan balapan sprint musim ini. Ia melakukannya saat finis keempat di GP Brasil. Alhasil, ia baru meraup enam poin pada sesi balap yang berlangsung pada Sabtu siang.
3. Marco Bezzecchi perlu meminimalkan kesalahan dalam menghadapi balapan sprint MotoGP 2026
Marco Bezzecchi menyadari kekurangannya saat menghadapi pekan balap MotoGP 2026. Ia bertekad untuk meningkatkan performa balapnya dalam menghadapi balapan sprint. Apalagi, Bezzecchi kini menjadi salah satu kandidat penantang gelar juara.
"Aku membuat kesalahan pada balapan sprint sehingga sangat penting untuk menunjukkan performa terbaik pada balapan utama. Kinerja pada sesi Sabtu perlu ditingkatkan, tetapi kami bekerja dengan baik pada sesi Minggu. Aku tidak akan merasa sebagai kandidat juara selama aku masih melakukan kesalahan pada balapan Sprint," jelas Marco Bezzecchi selepas pekan balap GP Amerika Serikat dikutip Motorsport.
Massimo Rivola juga mengungkapkan hal senada. Bos Aprilia Racing itu menegaskan pentingnya meminimalkan kesalahan saat sedang bertarung dalam perebutan poin. Membuang kesempatan meraup poin akan memberikan jalan bagi rival untuk mengambil alih posisi pimpinan klasemen.
"Kami sudah kehilangan sekitar 20 poin pada balapan sprint. Kamu tidak boleh memberikan celah sedikit pun saat rival kamu adalah Marc Marquez yang kondisi fisiknya masih belum prima. Dia pasti akan bangkit kembali setelah pulih sepenuhnya. Walau begitu, ada baiknya juga untuk tidak terlalu serakah," kata Massimo Rivola dilansir Motorsport.
4. Kegagalan Francesco Bagnaia meraih gelar juara MotoGP 2024 dapat menjadi pembelajaran penting untuk Marco Bezzecchi
MotoGP 2026 masih menyisakan 19 seri balap. Itu berarti akan ada 38 balapan yang digelar hingga akhir November 2026. Dengan jumlah tersebut, Marco Bezzecchi harus memanfaatkan peluang sebaik mungkin demi memperbesar kesempatan meraih titel juara. Ia bisa belajar dari hal yang terjadi kepada Francesco Bagnaia pada 2024.
Ketika itu, Bagnaia gagal mempertahankan gelar juara setelah tertinggal sepuluh poin dari Jorge Martin. Pembalap Ducati Lenovo itu memang unggul pada balapan utama. Bagnaia menorehkan sebelas kemenangan utama, sedangkan Martin hanya meraup tiga kemenangan.
Meski begitu, performa Bagnaia saat balapan sprint menjadi penghalang dalam perebutan titel juara. Bagnaia dan Martin sama-sama mengantongi tujuh kemenangan balapan sprint. Bagnaia lebih sering kehilangan poin pada sesi balap tersebut ketimbang Martin.
Bagnaia tercatat lima kali gagal menuntaskan balapan sprint. Di sisi lain, Martin tampil lebih konsisten dengan hanya sekali gagal finis. Perbedaan inilah yang menyebabkan Martin merengkuh titel juara kelas utama untuk pertama kali dalam karier balapnya.
Marco Bezzecchi tentu tak ingin bernasib sama seperti Francesco Bagnaia. Tampil konsisten pada balapan sprint dan utama menjadi modal penting untuk tetap berada di posisi teratas klasemen pembalap. Sebab, tiap poin yang berhasil didapat sangatlah berharga untuk merengkuh gelar prestisius.

















