Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Formula 1 makin Terasa Listrik dan Dikritik?

Kenapa Formula 1 makin Terasa Listrik dan Dikritik?
booth Ferrari di COTA (pexels.com/Spencer Davis)
Intinya Sih
  • Para pembalap Formula 1 mengkritik keras sistem baterai baru 2026 karena kehilangan daya listrik mendadak di lintasan lurus yang menimbulkan risiko keselamatan dan membuat balapan terasa artifisial.
  • Regulasi baru membagi rasio tenaga antara mesin pembakaran 400 kW dan baterai 350 kW, menjadikan pemulihan energi kinetik sebagai satu-satunya sumber pengisian daya listrik mobil balap.
  • Sistem active aero menggantikan DRS, membuat strategi menyalip bergantung pada manajemen energi hybrid dan kemampuan pembalap mengatur aerodinamika serta penggunaan daya secara cerdas sepanjang lintasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di Formula 1 2026, sebagian besar pembalap melontarkan kritik tajam terhadap sistem manajemen energi dan baterai. Mereka menyoroti masalah teknis serius saat mobil balap tiba-tiba kehabisan daya listrik di akhir lintasan lurus sehingga terjadi penurunan kecepatan drastis. Kondisi itu dinilai sangat membahayakan karena menciptakan perbedaan kecepatan yang sangat tajam dengan mobil balap di belakang yang sedang menggunakan daya listrik tambahan.

Max Verstappen mengecam keras regulasi baterai Formula 1 dengan menyamakan pengalaman balap seperti bermain game Mario Kart yang dinilai sangat artifisial. Sementara, Carlos Sainz menuduh pihak penyelenggara sengaja memanipulasi tayangan televisi untuk menyembunyikan masalah itu dari para penonton. Selain itu, Sainz juga meyakini bahwa petinggi kejuaraan ini sebenarnya menyadari bahwa regulasi itu adalah kegagalan yang sangat jauh dari standar ideal.

1. Mobil balap Formula 1 mengalami penurunan kecepatan drastis karena tiba-tiba kehabisan daya listrik di lintasan lurus

Fenomena penurunan kecepatan drastis karena kehabisan daya listrik di lintasan lurus memunculkan kejanggalan besar di Formula 1. Istilah super clipping digunakan untuk menggambarkan kondisi saat unit tenaga kehilangan daya secara masif ketika mobil balap seharusnya melaju dalam kekuatan penuh. Keadaan itu menciptakan risiko tinggi terkait keselamatan karena ada perbedaan laju penutupan jarak ekstrem antara mobil balap di depan dengan mobil balap di belakang yang masih memiliki cadangan tenaga listrik.

Menghadapi super clipping, Charles Leclerc menyatakan bahwa kehilangan daya listrik secara mendadak sangat menyulitkan pembalap dalam mempertahankan posisi karena ketidaktahuan terhadap mesin yang akan berhenti memberikan dorongan tambahan. Keluhan serupa datang dari Lewis Hamilton yang tidak nyaman karena harus sering mengurangi kecepatan dan meluncur bebas demi mengisi daya baterai pada momen yang seharusnya digunakan untuk memacu mobil balap secepat mungkin. Menambah deretan kritik, Lando Norris menilai unit tenaga baru itu sebagai sistem paling buruk sepanjang sejarah Formula 1 karena menciptakan situasi balap yang sangat artifisial.

2. Dalam regulasi terbaru, dibagi rasio daya antara baterai yang naik menjadi 350 kW dan mesin pembakaran yang turun menjadi 400 kW

Perubahan paling utama di Formula 1 2026 adalah unit tenaga yang membagi rasio daya seimbang antara komponen baterai dan mesin pembakaran. Mesin pembakaran itu mengalami penurunan kemampuan karena daya yang dibatasi 400 kilowatt (kW). Penurunan daya itu dikompensasi oleh baterai dengan kapasitas yang ditingkatkan secara drastis menjadi 350 kW.

Peningkatan peran tenaga listrik di Formula 1 membuat pihak penyelenggara memutuskan menghapus sistem pemulihan energi dari gas buang untuk menyederhanakan rancangan keseluruhan mesin. Hilangnya komponen itu menjadikan sistem pemulihan energi kinetik sebagai cara tunggal bagi mobil balap untuk memperoleh daya listrik kembali. Sistem kinetik itu dirancang jauh lebih kuat dalam memulihkan energi, terutama saat pengereman sehingga pembalap mendapatkan pasokan tenaga listrik yang berlimpah.

3. Berkat sistem hybrid, DRS yang digantikan active aero membuat aksi overtake lebih berfokus terhadap strategi manajemen energi

Di Formula 1 2026, Drag Reduction System (DRS) yang menjadi alat bantu utama selama 15 tahun untuk menyalip resmi digantikan sistem active aero atau aerodinamika aktif. Perubahan teknologi itu memungkinkan tiap pembalap mengatur manuver sayap depan dan belakang secara mandiri untuk mengurangi hambatan laju mobil balap di lintasan lurus. Inovasi aerodinamika aktif itu berfungsi mengelola konsumsi energi hybrid sehingga taktik menyalip lawan murni bergantung kepada kecerdasan manajemen daya listrik.

Menanggapi taktik aerodinamika aktif, Kimi Antonelli menilai bahwa pertarungan antarmobil balap Formula 1 terasa seperti bermain catur kilat karena pembalap dituntut selalu berpikir dua langkah lebih maju dalam mengorbankan energi. Selain itu, George Russell juga menjelaskan bahwa pembalap sekarang dihadapkan kepada dilema karena melaju lebih cepat di tikungan justru akan menguras daya listrik yang seharusnya bisa dihemat untuk digunakan di lintasan lurus. Oleh karena itu, Russell menekankan bahwa seluruh pembalap membutuhkan adaptasi waktu ekstra untuk menguasai teknik memanen tenaga dan memahami segala keunikan unit tenaga baru itu.

“Ada situasi saat kamu menikung dengan kecepatan lebih tinggi, kamu menghabiskan lebih banyak dan memperoleh lebih sedikit energi. Akibatnya, sepanjang putaran, kamu juga memiliki lebih sedikit energi yang bisa digunakan,” jelas George Russell dalam laporan Motor Sport Magazine.

4. Karena mobil balap Formula 1 makin elektrik, pembalap harus memanen atau mengecas dan menyebarkan energi listrik di sepanjang lintasan

Pada akhirnya, mobil balap Formula 1 2026 sangat berfokus terhadap sistem kelistrikan sehingga pembalap dituntut rutin mengisi daya baterai melalui teknik pengereman dan meluncur bebas. Setelah berhasil mengumpulkan sejumlah energi, mereka bisa dengan mudah menyebarkan daya itu untuk mendongkrak kecepatan tertinggi mobil balap hanya melalui sebuah tombol. Kegiatan berkelanjutan dalam memanen dan melepaskan energi itu membentuk pola pikir strategis yang sepenuhnya baru karena mereka harus terus menyesuaikan taktik kelistrikan dari satu tikungan ke tikungan lainnya.

Dampak dari kewajiban pengelolaan energi terlihat sangat jelas pada awal balapan Formula 1 karena pembalap dituntut mesti memiliki cadangan daya memadai untuk memperebutkan posisi terbaik di tikungan pertama. Kebutuhan itu mengubah cara mereka bertahan karena lebih memilih menyimpan energi cadangan daripada harus membuang daya listrik demi menahan laju mobil balap lawan. Sebagai bukti nyata proses adaptasi itu, Max Verstappen memperoleh banyak pemahaman berharga tentang teknik penggunaan baterai saat harus membalap dari posisi ke-20 untuk bersaing di barisan terdepan.

Singkat kata, Regulasi terbaru Formula 1 terbukti mengacaukan taktik yang sudah lama dipegang para pembalap. Kondisi perubahan ekstrem itu tentu menimbulkan kontroversi dan perdebatan hangat. Oleh karena itu, para pembalap dituntut segera beradaptasi untuk meraih keunggulan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Sport

See More