Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Usaha Lewis Hamilton Lawan Rasisme sebagai Pembalap Bintang Formula 1

Usaha Lewis Hamilton Lawan Rasisme sebagai Pembalap Bintang Formula 1
Lewis Hamilton pada Formula 1 Grand Prix China 2026 (commons.wikimedia.org/Liauzh)
Intinya Sih
  • Lewis Hamilton hampir membatalkan kepindahan ke Ferrari karena kekhawatiran rasisme, namun ia memilih melawan diskriminasi dan mendirikan Mission 44 untuk memperjuangkan keadilan sosial di dunia olahraga.
  • Melalui Mission 44, Hamilton mendorong reformasi pendidikan Inggris agar lebih inklusif, menghasilkan kebijakan pemerintah yang menargetkan kesetaraan peluang bagi generasi muda dari berbagai latar belakang.
  • Hamilton menyediakan beasiswa hingga Rp1 miliar per penerima dan menjangkau lebih dari 500 ribu anak muda lewat Mission 44 guna membuka akses karier serta memberantas batasan rasial di industri otomotif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Lewis Hamilton adalah pembalap bintang Formula 1 yang menorehkan lebih dari 100 kemenangan Grand Prix. Dirinya menjadi satu-satunya pembalap berkulit hitam dalam olahraga ini dan memutuskan bergabung dengan Ferrari menjelang 2025. Kepindahannya dari tim sebelumnya adalah langkah besar yang membawanya keluar zona nyaman.

Saat mempertimbangkan keputusan untuk pindah ke Ferrari, Lewis Hamilton menyadari bahwa ketakutan terhadap rasisme hampir membatalkan niat membela tim baru. Dia sangat memahami risiko pelecehan rasial, mengingat banyak atlet berkulit hitam dalam olahraga Italia yang mengalami perlakuan buruk. Akan tetapi, Lewis Hamilton memilih untuk melawan dan memastikan bahwa perjuangan menentang rasisme akan terus berlanjut.

1. Mengenang rasisme yang sering dialami atlet berkulit hitam, Lewis Hamilton menimbang ambisi balap dan risiko lingkungan yang tidak inklusif

Berbagai perlakuan diskriminatif dialami Lewis Hamilton semenjak awal berkarier di Formula 1, termasuk insiden pada 2008 saat sekelompok penonton mewarnai wajah menjadi hitam dan melontarkan hinaan rasial. Selain itu, lingkungan olahraga di Italia juga memiliki catatan buruk terkait inklusivitas yang terbukti dari kasus pelecehan yang menimpa pesepak bola, seperti Mike Maignan dan Romelu Lukaku. Bahkan, Mario Balotelli pernah mengancam meninggalkan lapangan setelah menerima perlakuan serupa dari penonton meskipun berkontribusi besar bagi tim nasional Italia.

Menghadapi risiko lingkungan yang tidak inklusif, Lewis Hamilton selalu menerima pandangan negatif dan tidak pernah membalas komentar buruk. Dirinya meyakini bahwa cara atlet menampilkan diri dan berprestasi secara maksimal di lintasan perlahan akan menghilangkan komentar itu. Di luar ambisi balap, dia mendorong perubahan nyata dengan meluncurkan yayasan global bernama Mission 44 untuk memerangi ketidakadilan sosial dan menciptakan masa depan yang lebih adil.

2. Tidak hanya berhasil di Formula 1, Lewis Hamilton juga sukses mengubah kebijakan negara untuk memastikan peluang generasi muda berkulit hitam

Pada 2025, Lewis Hamilton bertemu Perdana Menteri Inggris untuk menyuarakan reformasi pendidikan dan peningkatan keberagaman melalui yayasan Mission 44 yang dimiliki. Pertemuan itu membawa pesan mendesak bahwa negara membutuhkan sistem pendidikan yang inklusif bagi seluruh generasi muda tanpa memandang latar belakang. Diskusi yang berdasarkan aspirasi para pelajar dan pendidik itu membuahkan komitmen pemerintah untuk bekerja sama dengan yayasan Sang Pembalap demi membantu kelompok kurang terwakili.

Mengikuti komitmen yang disepakati bersama Lewis Hamilton, pemerintah Inggris menerbitkan dokumen kebijakan pendidikan yang menetapkan rencana untuk memutuskan hubungan antara latar belakang seorang anak dengan peluang kesuksesan masa depan. Kebijakan baru itu memuat langkah reformasi besar untuk mengintegrasikan inklusi dalam sistem pendidikan dan memberikan dukungan khusus bagi kalangan muda kurang beruntung. Oleh karena itu, Hamilton menyambut baik komitmen ini dan menegaskan akan terus mengawasi perubahan nyata yang dirasakan para pelajar saat berada di lingkungan sekolah.

3. Lewis Hamilton menyediakan dukungan finansial hingga hampir Rp1 miliar per beasiswa untuk meruntuhkan batasan mahasiswa berkulit hitam

Melalui Mission 44, Lewis Hamilton memberikan dukungan pendanaan untuk program beasiswa tingkat magister dalam teknik olahraga otomotif. Program yang baru diperluas itu menawarkan pembiayaan penuh hingga 43 ribu pound sterling Inggris atau hampir Rp1 miliar untuk tiap beasiswa. Bantuan finansial besar itu dirancang untuk meruntuhkan hambatan masuk bagi mahasiswa berkulit hitam dan kelompok minoritas lain.

Sebelum program pendidikan diperluas secara resmi, fase uji coba beasiswa Mission 44 terbukti berdampak nyata dengan mendanai 13 lulusan teknik dari latar belakang kulit hitam. Keberhasilan inisiatif awal itu dibuktikan oleh lima penerima yang berhasil mengamankan pekerjaan profesional dalam tim Formula 1. Demi memastikan kesiapan untuk dunia kerja, inisiatif itu membekali peserta dengan pelatihan karier dan program bimbingan terstruktur 6 bulan.

4. Menutup 2025, yayasan Lewis Hamilton berhasil menjangkau lebih dari 500 ribu anak muda di Inggris, Amerika Serikat, dan Brasil

Mengakhiri 2025, yayasan amal Mission 44 yang dimiliki Lewis Hamilton mencatatkan pencapaian penting dengan berhasil menjangkau lebih dari 500 ribu anak muda di Inggris, Amerika Serikat, dan Brasil. Pembalap juara dunia Formula 1 itu mendirikan yayasan ini pada 2021 untuk menciptakan masa depan yang lebih adil dan inklusif bagi banyak pelajar di seluruh dunia. Dirinya menganggap pembentukan inisiatif itu sebagai salah satu pencapaian paling membanggakan karena dia berkesempatan menyambut langsung kelompok pemuda ini dalam berbagai Grand Prix Formula 1.

Sebagai upaya berkesinambungan untuk terus membuka peluang kerja, Mission 44 meresmikan kemitraan bersama penyelenggara Grand Prix Formula 1 pada 2024. Kolaborasi itu dibentuk untuk membantu peluncuran program magang bagi generasi muda dari berbagai kelompok masyarakat yang kurang terwakili. Hebatnya, Lewis Hamilton menyaksikan sendiri kemajuan nyata dari misi itu saat bertemu dengan para pelajar binaan di Silverstone, Inggris, yang berhasil mengamankan pekerjaan profesional dalam industri balap.

Mengalami rasisme saat awal berkarier di Formula 1 membuat Lewis Hamilton tidak ingin kejadian serupa terjadi pada masa depan. Pembalap bintang itu mencetuskan berbagai inisiatif agar tidak ada lagi generasi muda yang mengalami rasisme seperti dirinya. Melalui langkah nyata itu, dia terus mendorong perubahan demi menciptakan masa depan yang lebih adil dan inklusif dalam olahraga otomotif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Sport

See More