Menyoal Rear Wing Revolusioner Ferrari pada Tes Pramusim F1 2026

- Ferrari mencuri perhatian di tes pramusim F1 2026 Bahrain lewat rear wing berputar 180–270 derajat yang benar-benar terbalik, menghadirkan konsep active aero baru di luar sistem DRS konvensional.
- Desain ekstrem ini menurunkan drag hingga drastis, meningkatkan kecepatan di lintasan lurus, namun tetap menyisakan tantangan stabilitas saat transisi kembali menghasilkan downforce penuh di tikungan.
- FIA menilai inovasi Ferrari masih sesuai regulasi 2026, membuka peluang perubahan besar strategi aerodinamika antar tim dan memicu potensi perang teknologi baru di musim mendatang.
Ferrari menyita perhatian paddock pada sesi tes pramusim kedua Formula 1 2026 di Bahrain International Circuit dengan konfigurasi rear wing yang tidak lazim. Tim asal Maranello, Italia, itu menghadirkan flap (sirip sayap) atas yang tak sekadar membuka seperti drag reduction system (DRS) konvensional, melainkan berputar hingga terbalik sepenuhnya dalam mode lurus. Inovasi tersebut langsung memantik diskusi teknis sekaligus rasa penasaran para analis.
Solusi ini muncul pada pengujian Februari 2026 dan digunakan sebagai bagian dari evaluasi paket aerodinamika mobil SF-26. Pembalap seperti Lewis Hamilton sempat menjalankan mobil dengan konfigurasi tersebut sebelum tim kembali kepada spesifikasi konvensional pada sesi berikutnya. Meski terlihat inovatif, Ferrari menegaskan komponen itu merupakan prototipe yang masih dinilai kelayakannya untuk musim kompetisi.
1. Rear wing Ferrari menghadirkan mekanisme revolusioner dengan cara kerja berbeda dari DRS biasa
Ferrari mengembangkan sistem active aerodynamics generasi baru yang sepenuhnya meninggalkan pendekatan DRS tradisional. Regulasi 2026 memberi kebebasan lebih luas pada sudut bukaan flap sehingga tim tidak lagi dibatasi celah slot sayap maksimum seperti era sebelumnya. Ferrari memanfaatkan kelonggaran ini dengan merancang flap atas yang berputar hingga 180–270 derajat saat mode lintasan lurus aktif.
Sumbu rotasi sistem terletak di sisi depan sayap bagian atas sehingga sisi belakang sayap berpindah ke depan ketika sistem aktif. Konfigurasi tersebut membuat flap benar-benar terbalik dan mengubah geometri profil sayap secara drastis. Dalam mode tikungan, sayap mempertahankan sudut serang konvensional untuk menghasilkan downforce maksimum di sektor tikungan.
Perubahan orientasi ini menciptakan pergeseran kondisi aerodinamis secara fundamental antara dua mode operasi. Saat flap terbalik, sistem menciptakan stall aerodinamis yang lebih agresif dibandingkan sekadar membuka flap beberapa derajat. Inversi penuh memperbesar celah slot sayap secara signifikan sehingga aliran udara dapat melewati celah dengan hambatan lebih kecil dibanding DRS klasik.
Flap yang terbalik mengubah distribusi tekanan antara sisi atas dan bawah sayap. Dalam mode lintasan lurus, elemen tersebut bahkan dapat menghasilkan daya angkat lebih ringan dibanding downforce sehingga drag berkurang lebih jauh. Dilansir Autosport, regulasi Federation Internationale de l'Automobile (FIA) mengharuskan transisi antara dua posisi tetap berlangsung dalam waktu maksimal 0,4 detik, dan sistem rear-wing Ferrari mampu memenuhi batas tersebut.
Ferrari juga mengintegrasikan rear wing ini dengan filosofi aero keseluruhan mobil. Tim memasang diffuser-extending bodywork serta perangkat flow-turning di belakang knalpot untuk mempercepat aliran udara dari diffuser menuju bagian bawah rear wing. Kombinasi tersebut meningkatkan energi aliran di bagian tengah mobil dan memperbaiki efisiensi keseluruhan paket aerodinamika.
2. Inovasi aerodinamis Ferrari mengubah drag menjadi keuntungan kompetitif di trek lurus
Ferrari merancang sistem ini untuk mereduksi drag secara lebih agresif dibandingkan pendekatan DRS konvensional. Flap yang terbalik menciptakan stall yang memotong induced drag secara drastis karena distribusi tekanan berubah total. Celah slot yang lebih besar memungkinkan udara melintas dengan turbulensi lebih rendah sehingga koefisien drag turun signifikan.
Reduksi hambatan ini memberi dua keuntungan langsung pada performa. Mobil dapat mencapai kecepatan maksimum lebih tinggi di ujung lintasan lurus karena hambatan udara berkurang. Selain itu, mobil membutuhkan energi lebih sedikit untuk mempertahankan kecepatan yang sama, aspek yang krusial pada era 2026 ketika manajemen energi listrik menjadi faktor penentu.
Menurut The Race, beberapa analis mensimulasikan karakteristik sistem tersebut dan menemukan bahwa downforce rear wing dapat turun hingga sekitar 75 persen dalam mode lintasan lurus. Rasio downforce-to-drag pada konfigurasi lurus mendekati 1:1, sementara dalam rasio mode tikungan dapat mencapai sekitar 4:1. Data ini menunjukkan, Ferrari benar-benar mengorbankan gaya tekan demi efisiensi di lintasan lurus.
Ferrari juga memperoleh keuntungan tambahan saat fase transisi dan pengereman. Selama 400 milidetik perpindahan posisi, flap melewati orientasi vertikal yang menciptakan peningkatan drag sesaat layaknya air brake. Efek tersebut membantu mengurangi beban kerja sistem pengereman dan memberi stabilitas tambahan ketika pembalap menginjak pedal rem di akhir straight.
Namun, sistem ini tetap menghadirkan kompromi teknis dalam aerodinamis. Penurunan downforce yang drastis dapat menimbulkan risiko kehilangan stabilitas apabila mobil gagal menemukan downforce dengan cepat saat kembali melibas tikungan. Efektivitas solusi ini juga sangat bergantung pada karakteristik sirkuit, terutama pada trek cepat seperti Sirkuit Monza atau Spa-Francorchamps yang memaksimalkan keuntungan batas kecepatan.
Ferrari memilih solusi paling ekstrem dibanding pendekatan rival. Tim seperti Alpine menurunkan flap ke bawah untuk mengurangi luas penampang depan mobil, sementara Audi memutar elemen pada sudut menengah. Ferrari bukan sekadar membuka flap, melainkan membaliknya sepenuhnya untuk memaksimalkan drag reduction dan memperluas perbedaan karakter antara dua mode operasi.
3. Keberhasilan inovasi rear wing Ferrari berpotensi mengubah peta strategi tim F1 2026
Regulasi Formula 1 2026 memberi kebebasan lebih besar pada active aero dibanding era DRS sebelumnya. Aturan baru tidak lagi membatasi sudut bukaan maksimum flap sehingga tim bebas menentukan sejauh mana elemen bergerak saat mode lintasan lurus. Regulasi hanya mengatur bahwa perubahan tersebut harus mengurangi incidence (sudut serang sayap) dan menyelesaikan transisi dalam 0,4 detik.
Aturan juga menetapkan bahwa bentuk sayap tidak boleh menampilkan radius konkaf tertentu ketika dilihat dari sudut bawah atau atas pada bidang tertentu. Sistem harus otomatis kembali ke konfigurasi downforce maksimum jika terjadi kegagalan mekanis. Ferrari memastikan desainnya mematuhi seluruh persyaratan ini sebelum mengujinya di Bahrain.
Direktur Teknis single-seater FIA, Nikolas Tombazis, menyatakan federasi mendorong solusi yang mengurangi drag dan menilai konsep Ferrari masih legal. Pernyataan tersebut memberi legitimasi awal bagi interpretasi regulasi yang diambil tim kuda jingkrak ini. Dalam hal ini, Ferrari membuktikan kecerdikan inovasinya melalui pemanfaatan optimal kebebasan regulasi aerodinamika.
Terlebih lagi, konsep ini sulit ditiru oleh rival dalam jangka pendek. Ferrari merancang sistem secara holistik dengan memindahkan aktuator ke endplate dan mengintegrasikan mekanisme dalam struktur sayap. Jika tim lain ingin mengadopsi terobosan yang dilakukan Ferrari, mereka harus menyesuaikan ulang filosofi aero, integrasi gearbox, serta konfigurasi diffuser.
Inovasi ini mengejutkan banyak analis dan engineer di paddock. Beberapa tim langsung melakukan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk mengevaluasi potensi keuntungan maupun risiko dari konsep inverted flap. Reaksi tersebut menunjukkan, Ferrari tidak hanya menghadirkan gimik visual, tetapi juga solusi yang memaksa kompetitor memikirkan ulang pendekatan mereka.
Potensi dampak jangka panjangnya sangat signifikan bagi arah pengembangan aerodinamika F1 2026. Solusi ini dapat memicu perang inovasi baru jika terbukti memberi keunggulan nyata di lintasan. Akan tetapi, Ferrari tetap menyatakan jika komponen ini masih berada pada tahap evaluasi dan belum tentu digunakan saat musim balap dimulai.
Ferrari memanfaatkan kebebasan regulasi 2026 untuk menciptakan solusi yang radikal sekaligus legal. Rear wing terbalik ini tidak hanya memotong drag, tetapi juga menguji batas interpretasi teknis dalam persaingan aerodinamika modern.
















