Pelajaran Penting Dari JRF 2026: Persiapan Matang, Jangan Paksakan Dir

Pelari Bekasi Taufik Hidayat alias Topngan gagal finis Full Marathon JRF 2026 setelah persiapannya terganggu sakit selama tiga minggu sebelum lomba.
Hingga KM 21, pace Topngan stabil, tetapi ia kehabisan air di water station. Ia lanjut sampai KM 30 sebelum mengalami kram pada KM 31 di tengah cuaca panas.
Topngan memilih tidak memaksakan diri karena tenaga habis dan masih tersisa 11 kilometer. Meski DNF, ia berencana kembali mengikuti JRF tahun depan.
Jakarta, IDN Times - Pelari asal Bekasi, Taufik Hidayat, sejatinya sudah akrab dengan olahraga lari. Tak cuam lari di aspal atau trek, dia juga menggemari kegiatan trail running. Namun, Jakarta Running Festival 2026 (JRF 2026) memberinya pelajaran berharga.
Sosok yang karib disapa Topngan (singkatan dari Topik Ngantuk) itu mengikuti kategori Full Marathon (FM) di JRF 2026. Sayangnya, alih-alih finis, dia justru DNF (Did Not Finish). Dari situ, ada sesuatu yang bisa dia petik.
1. Sempat sakit tiga minggu sebelum event

Potret flag-off Full Marathon di Jakarta Running Festival 2026, Minggu (25/10/2026). (Dok. JRF). Ditemui IDN Times, Topngan bercerita bahwa sejatinya, persiapan sudah dia lakukan untuk JRF 2026. Namun, persiapannya ini tak maksimal, salah satunya karena kondisi sakit yang sempat dia alami.
"Jadi, sebelum race, saya sempat sakit selama tiga minggu. Itu mengganggu program latihan saya. Sebenarnya, saya sudah melakukan persiapan," kata Topngan.
2. Mengalami kram, plus kehabisan air di water station

Ilustrasi suasana JRF 2026. (IDN Times/Satria Permana) Topngan pun bercerita, sebenarnya sampai KM 21, semua masih aman-aman saja baginya. Namun, masuk KM 21 itu, dia mengaku kehabisan air, karena air yang ada di water station terlalu banyak dipakai pelari lain.
"Saat race tadi, awalnya kondisi saya stabil. Saya bisa mengikuti pace sesuai rencana sampai kilometer ke-21. Lalu, air minumnya habis di water station setelah itu. Banyak orang menyiram-nyiramkan air ke tubuh, karena cuaca sudah panas," ujar Topngan.
Terlepas dari kesulitan itu, Topngan sempat melanjutkan lagi lari hingga KM 30. Namun, di sinilah dia tumbang. Kakinya mengalami kram, disertai cuaca yang kian memanas. Dia pun tak finis.
"Iya, sampai KM 30 (lanjut berlari). Setelah itu, di KM 31, saya mengalami kram. Ditambah cuacanya juga semakin panas," ujar Topngan.
3. Memilih tak memaksakan diri

Ilustrasi suasana JRF 2026. (IDN Times/Satria Permana) Topngan pun mengaku, melihat kondisinya yang seperti ini, dia tak memaksakan diri. Dia memperhitungkan jarak sisa 11 KM jika harus menerobos, dengan tenaga yang sudah habis terkuras.
"Ya, kalau memang tidak bisa finish, tidak apa-apa. Tadi saya sudah sampai kilometer ke-31 dan mengalami kram. Kalau memaksakan diri untuk menerobos, masih ada sekitar 11 kilometer lagi. Kondisi saya sendiri sudah kepanasan dan tenaga juga sudah tidak ada," ujarnya.
Kendati gagal di JRF 2026, Topngan tetap tidak kapok. Dia mengaku ada rasa penasaran untuk menyelesaikan Full Marathon JRF, dan akan ikut lagi tahun depan. Tentu, dengan pelajaran berharga yang didapat tahun ini.
"Masih tentu ingin ikut lagi tahun depan, setelah gagal di JRF 2026 ini. Lalu, saya berharap tahun depan, ajang ini digelar saat musim hujan, supaya tak terlalu panas, hahaha," kelakarnya.





















