3 Pemain yang Menerima Sanksi akibat Mendukung Palestina

Perang yang makin memanas antara Israel dengan Palestina telah memicu reaksi dari para pemain sepak bola, khususnya yang beragama Islam. Salah satunya dari Mohamed Salah yang mengunggah video di media sosialnya yang berisi ajakan kepada seluruh pemimpin dunia untuk mengambil langkah untuk menghentikan perang tersebut. Selain itu, ada juga Karim Benzema yang menyatakan dukungan kepada Palestina di akun media sosial pribadinya.
Aksi Salah dan Benzema dalam mendukung Palestina tidak berdampak kepada karier sepak bola mereka. Akan tetapi, ketiga pemain ini malah menerima sanksi setelah terang-terangan menyuarakan dukungannya terhadap Palestina. Mereka tetap dengan pendiriannya dalam mendukung Palestina meskipun dihukum oleh klub dan federasi sepak bola.
1. Frederic Kanoute harus membayar denda akibat selebrasi golnya

Frédéric Kanouté dikenal sebagai salah satu striker terbaik Mali yang sukses menjalani karier di sepak bola Eropa. Ia pernah membela klub-klub papan atas Eropa, seperti Tottenham Hotspur dan Sevilla. Selain itu, Kanouté kerap kali memperlihatkan identitasnya sebagai seorang Muslim. Salah satunya ketika ia menunjukkan dukungan terhadap Palestina saat melakukan selebrasi gol.
Insiden tersebut terjadi ketika Kanouté bermain untuk Sevilla pada periode 2005--2012. Ia mencetak gol kemenangan Sevilla 2-1 atas Deportivo La Coruna dalam laga Copa Del Rey pada 7 Januari 2009. Kanouté lalu membuka jersey untuk memperlihatkan kaos hitam yang bertuliskan pesan dukungan terhadap Palestina.
Aksi Kanouté memicu reaksi dari federasi sepak bola Spanyol (RFEF). RFEF kemudian menjatuhkan hukuman denda kepada Kanouté sebesar 3 ribu euro atau Rp50 juta dengan alasan membuka jersey saat merayakan gol. Dilansir Sky Sports, Kanouté mengatakan bahwa ia bertanggung jawab atas tindakannya tersebut dan tidak peduli dengan hukuman yang menimpanya.
2. Youcef Atal dihukum oleh OGC Nice akibat postingan di media sosialnya

OGC Nice menghukum pemainnya, Youcef Atal, akibat unggahan sang pemain terkait konflik Israel dan gerakan Hamas di Palestina pada 18 Oktober 2023. Pemain asal Aljazair itu membuat postingan di akun Instagram pribadinya yang berisi ajakan untuk melakukan kekerasan terhadap kaum Yahudi. Meski sang pemain sudah menghapus unggahan tersebut, OGC Nice tetap memberikan sanksi kepadanya sampai waktu yang belum ditentukan.
Aksi Atal telah memicu kontroversi dalam internal OGC Nice. Federasi sepak bola Prancis (FFF) kabarnya akan melakukan investigasi lebih lanjut terhadap sang pemain terkait postingannya tersebut. Di sisi lain, jajaran manajemen Nice tidak menggubris tawaran Atal yang ingin membuat permintaan maaf secara tertulis kepada publik. Atal sejauh ini telah mencatat 117 penampilan di seluruh kompetisi sejak bergabung dengan Nice pada musim panas 2018.
3. Anwar El Ghazi kontraknya diputus oleh FSV Mainz

Anwar El Ghazi harus menerima kenyataan kontraknya telah diputus secara sepihak oleh klub asal Jerman, FSV Mainz, pada 3 November 2023. Berakhirnya kerja sama antara El Ghazi dan Mainz ini dipicu oleh postingan sang pemain di media sosial terkait serangan Israel ke wilayah Gaza, Palestina. Mainz merespons unggahan El Ghazi itu dengan membuat pernyataan resmi di akun media sosialnya yang berisi tentang berakhirnya kontrak kerja sama dengan sang pemain.
El Ghazi kemudian merespons pemutusan kontraknya dengan membuat sebuah postingan di akun media sosial pribadinya. Ia menyatakan tidak menyesal sama sekali dan tetap teguh dengan pendiriannya yang mendukung Palestina. El Ghazi merasa pemutusan kontraknya dengan Mainz tidak sebanding dengan penderitaan rakyat Palestina yang tinggal di Gaza selama peperangan berlangsung.
Ketiga pemain di atas membuktikan bahwa mereka tidak gentar terhadap ancaman serta konsekuensi yang akan diterima setelah menyuarakan dukungannya terhadap Palestina. Bagi mereka ada hal yang lebih penting daripada sepak bola, yaitu kemanusiaan. Kanouté yang sudah pensiun sebagai pemain tetap melakukan kegiatan amal melalui yayasan yang ia dirikan, khususnya bagi warga Mali. Di sisi lain, nasib Atal dan El Ghazi masih belum jelas hingga 12 November 2023.

















