3 Tim EPL yang Terdegradasi dengan 40 Poin Sejak 1995/1996

- Kompetisi sepak bola Inggris membentuk Premier League pada 1992/1993 dengan 22 tim, lalu berkurang menjadi 20 klub hingga 2024/2025.
- Sunderland pertama kali terdegradasi dari Premier League meski meraih 40 poin, diikuti oleh Bolton Wanderers dan West Ham United.
- West Ham United terdegradasi dengan raihan poin tertinggi (42) di Premier League 2002/2003 karena performa buruk paruh pertama dan masalah internal.
Kompetisi sepak bola teratas di Inggris memulai era baru dengan membentuk Premier League pada 1992/1993. Selama 3 musim perdana, ajang ini diikuti 22 tim. Mulai 1995/1996, jumlah peserta dikurangi menjadi 20 klub dan bertahan sampai 2024/2025 ini.
Melansir situs resmi Premier League, dengan format 20 peserta, rata-rata jumlah poin yang dibutuhkan sebuah klub untuk terhindar dari degradasi adalah 36 poin. Namun, terdapat tiga musim pengecualian. Saat itu, salah satu tim tetap terkena hukuman turun kasta meski berhasil mengakhiri kompetisi dengan mencapai 40 poin.
1. Sunderland mengoleksi 40 poin di Premier League1996/1997
Sunderland menjadi tim pertama yang terdegradasi dari Premier League meski berhasil meraih 40 poin. The Black Cats merasakannya pada 1996/1997. Tim yang saat itu dilatih Peter Reid tersebut berakhir di posisi 18 dengan catatan 10 kemenangan, 10 keimbangan, dan 18 kekalahan. Selain Sunderland, dua tim lain yang terdegradasi adalah Middlesbrough (39 poin) dan Nottingham Forest (34 poin).
Sunderland hanya kalah satu angka dari Coventry City yang berada di atasnya. Padahal, Coventry City cuma bisa mencatatkan sembilan kemenangan. Kepastian terdegradasinya Sunderland di Premier League 1996/1997 bahkan terjadi pada pertandingan terakhir. Mereka kalah dari AFC Wimbledon dengan skor 0-1. Sementara, pada saat yang sama, Coventry City berhasil menaklukkan Tottenham Hotspur dengan skor 2-1.
Terdegradasinya Sunderland pada 1996/1997 terasa ironis karena musim ini sebetulnya merupakan pengalaman pertama mereka bermain di Premier League. Semusim sebelumnya, tim yang terbentuk pada 1879 itu berhasil menjadi juara Divisi Utama. Makin menyedihkan, 1996/1997 juga menjadi musim terakhir mereka beraksi di Roker Park, stadion yang sudah digunakan sebagai kandang mulai 1898. Sunderland pindah ke stadion baru bernama Stadium of Light pada 1997 dan terus bertahan sampai saat ini.
2. Bolton Wanderers juga terdegradasi dengan 40 poin di Premier League 1997/1998
Bolton Wanderers mengikuti jejak Sunderland semusim kemudian. Di Premier League 1997/1998, mereka mengumpulkan 40 poin dari hasil 9 kemenangan, 13 keimbangan, dan 16 kekalahan. Bolton turun kasta dengan ditemani Barnsley (35 poin) dan Crystal Palace (33 poin).
Tragisnya, tim yang saat itu dilatih Colin Todd tersebut terdegradasi karena kalah selisih gol dari Everton. Makin menyakitkan, mereka sebetulnya bisa saja selamat andai teknologi video assistant referee (VAR) sudah ada. Ketika keduanya bertemu pada 2 September 1997, sebuah kontroversi terjadi yang sangat merugikan Bolton.
Mereka berbagi poin setelah laga berakhir imbang dengan skor 0-0. Namun, Bolton sebetulnya sempat mencetak gol lewat sundulan Gerry Taggart yang memanfaatkan sepak pojok Alan Thompson. Sayangnya, wasit Steve Lodge menyatakan bola belum melewati garis. Padahal, tayangan ulang menunjukkan hal sebaliknya.
Bolton gagal menciptakan kisah positif di stadion baru. Berlawanan dengan Sunderland, 1997/198 memang menjadi musim perdana mereka bermain di rumah anyar yang saat ini bernama The Toughsheet Community Stadium. Sebelumnya, mereka bermain di Burnden Park mulai 1895.
3. West Ham United terdegradasi meski meraih 42 poin di Premier League 2002/2003
West Ham United masih tercatat sebagai tim yang terdegradasi dengan raihan poin tertinggi. The Hammes meraih 42 poin di Premier League 2002/2003. Mereka mencatatkan 10 kemenangan, 12 keimbangan, dan 16 kekalahan. West Ham unggul jauh dari West Bromwich Albion (26 poin) dan Sunderland (19 poin) sebagai dua tim lain yang turun kasta.
Tim asal London ini baru mendapat kepastian terdegradasi pada pertandingan terakhir. Mereka hanya bisa imbang 2-2 melawan Birmingham City. Sementara, pada saat yang sama, Bolton Wanderers mampu mengalahkan Middlesbrough dengan skor 2-1.
Kualitas skuad West Ham pada musim ini memang cukup mumpuni. Mereka diperkuat sejumlah nama besar, seperti David James, Nigel Winterburn, Paolo Di Canio, dan Les Ferdinand. Selain itu, ada sederet bintang muda bertalenta, seperti Glen Johnson (18 tahun), Michael Carrick (21 tahun), Joe Cole (21 tahun), dan Jermain Defoe (20 tahun).
Performa West Ham pada paruh pertama menjadi penyebab utama kegagalan mereka bertahan di Premier League 2002/2003. Dalam 19 pertandingan awal, tim yang dilatih Glenn Roeder tersebut hanya bisa meraih 14 poin. Hasilnya, mereka pun harus bersusah payah pada paruh kedua dan akhirnya tidak mampu menyelamatkan diri dari degradasi.
Selain itu, West Ham juga mendapat ujian di luar lapangan. Pada 22 April 2003, Roeder terdiagnosis mengalami tumor sehingga memilih mengundurkan diri. Jabatan pelatih pun diemban Sir Trevor Brooking sampai akhir musim. Akibatnya, kondisi internal sedikit goyah setelah ditinggal pelatih berkharisma tersebut. Semusim sebelumnya, Roeder mampu membawa West Ham berakhir di posisi ketujuh.
Sunderland, Bolton Wanderers, dan West Ham United pernah terdegradasi meski berhasil meraih minimal 40 poin. Sebaliknya, West Bromwich Albion masih tercatat sebagai tim yang mampu bertahan di Premier League dengan koleksi poin terendah. Mereka hanya mengumpulkan 34 angka pada 2004/2005.



















