AFC Ungkap Cepu Skandal Naturalisasi Malaysia ke FIFA

- Sejak kasus ini dikuak FIFA, Vietnam memang disebut sebagai cepunya.
- Vietnam mencurigai sejumlah pemain nautralisasi tak memenuhi syarat.
- Dalam dokumen yang diserahkan FAM, mereka memiliki kakek atau nenek yang lahir di Malaysia. Setelah dis
Jakarta, IDN Times - Pihak yang melaporkan skandal pemalsuan dokumen tujuh pemain Malaysia kini terungkap. Ternyata, Vietnam yang melaporkan skandal itu ke FIFA.
Hal tersebut diungkap langsung Sekretaris Jenderal (Sekjen) Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Datuk Seri Windsor Paul John. Dalam hasil penyelidikan, FIFA merahasiakan pihak pelapornya.
"Itu karena ada protes dari Vietnam. Itu pertama kali kami mendapat kabar langsung dari FIFA. Setelah itu, kami menunggu penyelidikan yang dilakukan FIFA. Biasanya, penyelidikan tersebut melibatkan FAM dan FIFA," kata Datuk Seri Windsor Paul John kepada Astro Arena.
1. Polanya memang mengarah ke Vietnam
Sejak kasus ini dikuak FIFA, Vietnam memang disebut sebagai cepunya. Sebab, laporan itu masuk ke FIFA pada 11 Juni 2025, sehari setelah Vietnam dipermalukan Malaysia empat gol tanpa balas dalam Kualifikasi Piala Asia 2027.
Pemain yang dicurigai adalah Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomas Garces, Rodrigo Julian Holgado, Imanol Javier Machuca, Joao Vitor Brandao Figueiredo, Jon Irazabal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano.
2. Kecurigaan Vietnam terbukti oleh FIFA
Vietnam mencurigai sejumlah pemain nautralisasi tak memenuhi syarat. Dugaan mereka benar, karena dokumen yang ditemukan FIFA perihal asal-usul pemain tersebut tak sesuai dengan yang dilaporkan FAM.
"Setelah itu, kami menerima kabar mengenai hukuman pertama yang dijatuhkan kepada FAM terkait penggunaan tujuh pemain yang dianggap tidak memenuhi syarat atau tidak sah. Jadi, kami sudah diberi tahu setelah laga antara Malaysia dan Vietnam," kata Paul John.
3. Tidak ada leluhur yang lahir di Malaysia
Dalam dokumen yang diserahkan FAM, mereka memiliki kakek atau nenek yang lahir di Malaysia. Setelah diselidiki, tak ada satu pun dari mereka yang lahir di Negeri Jiran. FIFA kemudian menjatuhkan sanksi larangan bermain selama setahun, kepada tujuh pemain naturalisasi tersebut. FAM sempat mengajukan banding, tetapi ditolak.
Namun, FAM mendapat keringanan setelah mengajukan permohonan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Mereka bisa kembali bermain, sampai CAS memberikan keputusan atas banding FAM.

















