Apakah Enzo Maresca Gagal atau Chelsea yang Tak Sabaran?

- Capaian impresif Enzo Maresca tidak otomatis menciptakan harmoni di internal Chelsea
- Kepentingan manajemen yang tak selaras dengan otoritas pelatih jadi sebab retaknya hubungan
- Pengunduran diri Enzo Maresca jadi cerminan masalah struktural di internal Chelsea
Pengunduran diri Enzo Maresca sebagai kepala pelatih Chelsea pada 1 Januari 2026 datang secara mengejutkan. Tiga pekan sebelumnya, ia masih dinobatkan sebagai Manager of the Month English Premier League (EPL) November 2025, sekaligus dipuji karena menjaga Chelsea kompetitif di berbagai ajang. Peralihan dari simbol stabilitas menjadi figur yang dianggap tak lagi sejalan dengan klub terjadi dalam rentang waktu yang nyaris tak memberi ruang adaptasi.
Perpisahan ini juga terjadi ketika The Blues masih berada di posisi kelima liga, hanya terpaut beberapa poin dari zona Liga Champions Eropa. Namun, di balik tabel klasemen dan statistik hasil pertandingan, pengunduran diri Maresca mencerminkan konflik yang lebih dalam. Masalah tersebut bukan sekadar soal performa, melainkan soal batas kewenangan, hierarki kekuasaan, dan filosofi pengelolaan klub pada era kepemilikan baru.
1. Capaian impresif Enzo Maresca tidak otomatis menciptakan harmoni di internal Chelsea
Chelsea menunjuk Enzo Maresca pada Juni 2024 sebagai bagian dari visi jangka panjang pasca-era Roman Abramovich. Klub memberinya kontrak 5 tahun hingga 2029, sebuah sinyal kepercayaan yang jarang diberikan Chelsea kepada pelatih sebelumnya. Reputasi Maresca selaku mantan pelatih akademi Manchester City, ditambah keberhasilannya membawa Leicester City menjuarai Divisi Championship 2023/2024, menjadikannya figur ideal untuk memimpin skuad muda Chelsea.
Musim pertamanya memperkuat narasi tersebut. Chelsea finis di peringkat empat Premier League 2024/2025, kembali ke Liga Champions setelah absen 2 musim, serta menjuarai UEFA Conference League dan FIFA Club World Cup 2025. Dalam konteks proyek, capaian ini bahkan dianggap melampaui target internal klub. Namun, keberhasilan itu tidak otomatis diterjemahkan sebagai otoritas penuh bagi sang pelatih.
Di balik hasil positif yang diraih, perbedaan persepsi mulai mengemuka. Chelsea memandang keberhasilan sebagai hasil kerja kolektif struktur klub, bukan buah dari satu figur sentral. Sementara itu, Maresca melihat pencapaian tersebut sebagai validasi pendekatan kepelatihannya, termasuk tuntutan akan kepercayaan dan dukungan publik yang lebih kuat. Ketegangan ini sudah terasa bahkan ketika performa tim masih stabil.
Keretakan dengan internal klub makin terlihat pada cara Maresca berkomunikasi kepada publik. Pernyataannya soal “48 jam terburuk” setelah kemenangan atas Everton pada Desember 2025 mengejutkan banyak pihak internal. Klub menilai komentar tersebut membuka konflik internal ke ruang publik, sementara Maresca merasa sedang menyuarakan kegelisahan yang tak tertangani secara internal. Dari sinilah hubungan yang semula tampak harmonis mulai kehilangan fondasinya.
2. Kepentingan manajemen yang tak selaras dengan otoritas pelatih jadi sebab retaknya hubungan
Inti konflik Enzo Maresca dengan Chelsea terletak pada batas otoritas teknikal. Menurut BBC, Chelsea beroperasi dengan struktur yang memberi peran besar kepada Direktur Olahraga dan departemen medis, terutama dalam pengelolaan menit bermain pemain muda dan pemain dengan riwayat cedera. Sistem ini dirancang untuk melindungi aset jangka panjang klub, sejalan dengan model bisnis BlueCo sebagai pemegang konsorsium Chelsea.
Departemen medis secara rutin memberikan rekomendasi detail mengenai durasi bermain setiap pemain. Dari sinilah masalah muncul ketika Maresca beberapa kali melampaui batas tersebut, termasuk memainkan Reece James penuh selama tiga laga beruntun pada Desember 2025, pertama kalinya dalam 2 tahun. Bagi klub, ini dianggap sebagai pelanggaran prinsip proteksi pemain. Akan tetapi bagi Maresca, ini adalah keputusan kompetitif yang sah.
Ketegangan ini diperparah oleh isu rotasi dan kepercayaan pada pemain muda. Chelsea mendorong pengembangan talenta, seperti Andrey Santos, Jorrel Hato, dan Josh Acheampong, tetapi Maresca dianggap kurang memberi mereka peran konsisten. Dari sudut pandang pelatih, rotasi berlebihan justru mengganggu ritme dan stabilitas tim, terutama di Premier League yang kompetitif.
Masalah ini tidak lagi bersifat teknis, melainkan ideologis. Chelsea melihat pelatih sebagai pelaksana dalam sistem yang sudah ditetapkan, sementara Maresca menginginkan ruang lebih besar untuk menerjemahkan filosofi sepak bolanya. Ketika ia merasa keputusan teknikalnya dipengaruhi oleh pertimbangan nonsepak bola, batas toleransinya pun tercapai.
Situasi memburuk ketika performa tim menurun, dengan Chelsea hanya meraih 1 kemenangan dari 7 laga liga terakhir dan kehilangan hingga 15 poin dari posisi unggul. Ditambah dengan pengakuan Maresca soal komunikasi dengan pihak Manchester City mengenai peluang masa depan, klub mulai meragukan fokus dan keselarasan visi sang pelatih. Hubungan kerja yang rapuh akhirnya mencapai titik ujung dengan pengunduran diri Maresca.
3. Pengunduran diri Enzo Maresca jadi cerminan masalah struktural di internal Chelsea
Kepergian Enzo Maresca bukanlah peristiwa terisolasi. Sejak diambil alih konsorsium Todd Boehly–Clearlake pada 2022, Chelsea telah berpisah dengan sejumlah kepala pelatih dengan waktu yang terlalu cepat. Pola ini menunjukkan, struktur yang dirancang untuk melindungi klub dari ketergantungan kepada pelatih juga berisiko mengorbankan kesinambungan proyek olahraga.
Pergantian pelatih yang berulang juga menciptakan ketidakpastian di ruang ganti. Beberapa pemain memandang Maresca sebagai figur stabilitas, terutama setelah periode transisi panjang. Kepergiannya menimbulkan kekhawatiran ketika tim harus kembali ke titik awal dengan filosofi yang harus disesuaikan ulang dalam jadwal pertandingan yang padat.
Posisi Maresca sendiri berada di wilayah abu-abu. Ia bukan pelatih tanpa prestasi, tetapi juga bukan figur yang sepenuhnya mampu beradaptasi dengan sistem Chelsea. Ia datang dengan pemahaman struktur klub, tetapi seiring waktu menuntut peran yang lebih besar. Ketika sistem menolak berubah, konflik menjadi tak terhindarkan.
Implikasi ke depan menjadi pertanyaan besar. Chelsea menyatakan, pelatih berikutnya akan mengikuti gaya bermain dan struktur yang sama, dengan harapan meminimalkan disrupsi. Namun, selama batas otoritas pelatih tetap kabur, risiko terulangnya konflik serupa akan selalu ada. Pengunduran diri Maresca menjadi pengingat bahwa stabilitas tidak hanya dibangun lewat kontrak panjang, tetapi juga lewat keselarasan filosofi yang nyata.
Pengunduran diri Enzo Maresca menegaskan masalah utama Chelsea bukan semata hasil pertandingan, melainkan relasi kuasa dalam struktur klub. Selama pelatih diposisikan sebagai bagian yang mudah diganti dalam proyek besar, pertanyaan tentang siapa yang benar-benar memimpin di Stamford Bridge akan terus berulang.


















