Aprilia Bakal Hantui Ducati di MotoGP 2026?

- Aprilia mendominasi MotoGP Thailand 2026 di Buriram, memutus rekor podium beruntun Ducati dan menandai awal musim yang mengejutkan bagi pabrikan asal Italia tersebut.
- Keunggulan Aprilia didorong inovasi aerodinamika “f-duct” yang meningkatkan kecepatan dan stabilitas motor RS-GP 2026, sementara Ducati justru mengalami penurunan performa signifikan.
- Ducati menghadapi masalah besar pada ban belakang Michelin yang lebih kaku, dan ancaman serupa diprediksi berlanjut di MotoGP Brasil jika solusi teknis belum ditemukan.
Jakarta, IDN Times - MotoGP Thailand 2026 menjadi mimpi buruk bagi Ducati. Rekor podium 88 balapan beruntun mereka terhenti dan kalah dominan dari sesama pabrikan Italia lainnya, Aprilia, yang dominan sepanjang akhir pekan di Chang International Circuit, Buriram.
Marco Bezzecchi tampil sebagai pahlawan Aprilia dengan memenangkan balapan utama, meninggalkan para pembalap Ducati yang mengalami kesulitan. Situasi ini menjadi alarm bahaya bagi Ducati yang sebelumnya diprediksi bakal kembali mendominasi musim ini.
Lantas, apa yang menyebabkan Ducati kurang mencolok di seri pembuka MotoGP 2026?
1. Ducati kalah telak dalam pengembangan teknis?
Crash melansir, Aprilia sukses melakukan lompatan besar dengan paket aerodinamika baru bernama "f-duct" yang terinspirasi dari teknologi Formula 1. Inovasi ini membuat motor RS-GP 2026 mampu melaju lebih kencang di lintasan lurus sekaligus mempertahankan kestabilan di tikungan.
Sebaliknya, Ducati justru mengalami kemunduran performa dibandingkan saat tes pramusim di sirkuit yang sama. Pecco Bagnaia bahkan terang-terangan menyebut Aprilia telah melangkah maju, sementara Ducati justru mengalami kemunduran.
2. Masalah ban belakang bikin pusing
Penyebab utama kesulitan Ducati di Buriram disinyalir berasal dari penggunaan konstruksi ban belakang Michelin yang lebih kaku untuk mengatasi panas ekstrem. Karakteristik ban ini ternyata tidak cocok dengan setelan motor Desmosedici GP26, membuat pembalap kesulitan mendapatkan cengkeraman maksimal.
Bagnaia dan Marc Marquez mengeluhkan motor yang sulit di tikungan dan kurang stabil di aspek pengereman. Sementara itu, Aprilia mampu memaksimalkan potensi ban kaku tersebut berkat paket sasis dan aerodinamika yang lebih bersahabat.
"Mereka berhasil menemukan solusi dan melangkah maju," kata Bagnaia.
3. Ancaman berlanjut di Brasil
Tantangan berat Ducati diprediksi belum berakhir karena MotoGP Brasil juga akan menggunakan spesifikasi ban kaku yang sama. Autodromo Internacional Ayrton Senna memiliki karakteristik cepat dengan dominasi tikungan kanan yang menjadi kelemahan Marquez selepas cedera bahu.
Jika tidak segera menemukan solusi teknis, Ducati terancam kembali dibuat gigit jari oleh Aprilia. Musim ini, para petinggi dan mekanik Ducati dituntut putar otak dan kerja keras andai ingin mempertahankan gelar juara dunia di tengah kebangkitan para rival.
"Kami perlu bekerja dengan baik, lebih keras, tetapi jangan panik. Di sini, casing bannya berbeda, bannya berbeda. Mari kita lihat balapan selanjutnya. Tentu saja, kami perlu bekerja, tidak boleh lengah," kata Marquez.


















