Mikel Arteta Ungkap Momen Emosional Arsenal Juara Premier League

- Arsenal akhirnya menjuarai Premier League setelah 20 tahun, hasil dari proyek panjang Mikel Arteta yang berhasil mengubah tim menjadi kekuatan dominan baru di sepak bola Inggris.
- Momen emosional terjadi di rumah Arteta saat keluarganya menangis bahagia menyambut kabar Arsenal resmi juara, menjadi simbol perjalanan penuh emosi dan pengorbanan sang pelatih.
- Arteta menilai kekalahan dari Manchester City menjadi titik balik mental tim, memicu keyakinan dan fokus baru yang membawa Arsenal meraih gelar bersejarah musim ini.
Jakarta, IDN Times - Penantian panjang Arsenal akhirnya berakhir. Setelah 20 tahun tanpa gelar Premier League, The Gunners kembali berdiri di puncak sepak bola Inggris bersama Mikel Arteta.
Keberhasilan Arsenal juara Liga Inggris musim ini bukan hanya soal trofi. Di balik pesta besar di Emirates Stadium, ada perjalanan panjang penuh tekanan, keraguan, dan emosi yang akhirnya terbayar lunas.
Mikel Arteta menjadi sosok utama di balik kebangkitan Arsenal. Pelatih asal Spanyol itu sukses mengubah tim yang sempat terpuruk menjadi kekuatan dominan baru di Premier League.
Namun, ketika momen penentuan gelar tiba, Arteta justru memilih menjauh dari televisi.
1. Arteta tak menonton saat Arsenal resmi juara Premier League
Saat Arsenal berada di ambang juara usai hasil pertandingan Manchester City, Mikel Arteta mengambil keputusan yang tidak biasa bagi seorang pelatih kepala.
Ia mengaku sempat berniat menyaksikan pertandingan bersama staf dan pemain. Namun, sekitar 20 menit sebelum kick-off, ia memilih meninggalkan situasi tim dan pulang ke rumah.
“Saya seharusnya ada di sana bersama para pemain dan staf, tapi 20 menit sebelum pertandingan saya pergi. Saya merasa tidak bisa membawa energi yang saya inginkan,” kata Arteta dalam wawancaranya bersama beIN Sports.
Di rumah, ia justru menghabiskan waktu di halaman belakang sambil membuat barbeque. Ia bahkan tidak mengikuti jalannya pertandingan yang menentukan sejarah Arsenal tersebut.
Keputusan itu ia ambil demi menjaga emosi dan ketenangan dirinya di momen paling krusial musim ini.
2. Tangis keluarga Arteta saat Arsenal resmi juara
Momen paling emosional terjadi ketika Arsenal dipastikan menjadi juara setelah Manchester City ditahan imbang Bournemouth.
Saat kabar itu tiba, suasana di rumah Arteta berubah total. Putra sulungnya berlari menghampiri sang ayah sambil menangis. Ia memeluk Arteta dan mengucapkan kalimat yang menjadi simbol momen tersebut.
“We Are Champions, Daddy.”
Tak lama kemudian, istri dan dua anaknya yang lain ikut memeluknya. Rumah yang sebelumnya tenang berubah menjadi ruang emosi yang sulit dijelaskan.
“Lalu dua anak saya yang lain dan istri saya ikut datang. Melihat kebahagiaan mereka, itu terasa sangat magis,” ujar Arteta.
Bagi pelatih berusia 44 tahun itu, momen tersebut bukan sekadar kemenangan. Ini adalah puncak perjalanan panjang membangun kembali Arsenal sebagai tim juara di Inggris.
3. Titik balik mental: Kekalahan yang mengubah arah musim Arsenal
Arteta juga mengungkap, keyakinan akan gelar juara mulai tumbuh setelah kekalahan dari Manchester City pada 19 April 2026.
Meski hasil itu menyakitkan, ia justru melihat respons berbeda dari ruang ganti Arsenal. Para pemain tidak runtuh, melainkan menunjukkan reaksi emosional yang menjadi bahan bakar kebangkitan.
“Saya melihat seberapa kecewa para pemain saat itu, karena kita bisa tampil lebih baik lagi. Semua tergantung pada kami dan bagaimana pemain akan menanggapi. Setelah itu kami kembali fokus ke pertandingan dan respon para pemain langsung terasa. Sejak saat itu saya langsung menyadari bahwa kami akan memenangkan gelar Liga Inggris.” ujar Arteta.
Menurutnya, momen itu menjadi titik balik psikologis. Arsenal tidak lagi bermain dengan beban, tetapi dengan keyakinan penuh bahwa gelar bisa direbut.
4. Fondasi juara yang sudah dibangun sejak pramusim bikin Arsenal meraih gelar setelah 21 tahun
Lebih jauh, Arteta menyebut fondasi mental juara sebenarnya sudah terbentuk sejak pramusim. Dalam pertemuan awal musim, ia menantang seluruh pemain untuk menjawab satu pertanyaan sederhana: seberapa jauh mereka rela berkorban untuk tim.
“Saya mengumpulkan semua pemain dan bertanya apa yang rela mereka lakukan demi tim. Mereka siap melakukan apa pun untuk tim, dan dari situ saya tahu kami punya peluang besar untuk bersaing di setiap kompetisi karena kami memiliki kedalaman skuad dan kualitas untuk menantang.” bebernya.
Dari percakapan itu, terbentuk identitas tim yang kuat. Arsenal bukan hanya tim yang bermain bagus, tetapi tim yang siap bersaing hingga akhir musim di setiap kompetisi besar.
Gelar ini menandai kembalinya Arsenal ke puncak sepak bola Inggris setelah terakhir kali meraihnya pada 2004. Di bawah proyek jangka panjang Mikel Arteta, The Gunners akhirnya berhasil menutup penantian panjang dengan cara yang dramatis dan emosional.
Lebih dari sekadar trofi, musim ini menjadi simbol transformasi Arsenal: dari tim yang hampir juara menjadi juara sesungguhnya di panggung tertinggi sepak bola Inggris.


















