Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Balogun, Argentina vs Mesir, dan Lunturnya Kepercayaan ke FIFA
Penyerang AS, Folarin Balogun (nomor 20), merayakan gol ketiga timnya bersama rekan-rekan setim selama pertandingan sepak bola Grup D Piala Dunia 2026 antara AS dan Paraguay di Stadion Los Angeles di Inglewood pada 13 Juni 2026. (AFP/Patrick T. Fallon)
  • Laga Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026 memicu kontroversi setelah gol kemenangan Argentina dianggap berbau pelanggaran, membuat Mesir melayangkan protes resmi ke FIFA.
  • Keputusan wasit Francois Letexier dan sikap FIFA yang dinilai tidak konsisten memperkuat tudingan adanya bias serta menurunkan kepercayaan publik terhadap integritas turnamen.
  • Kasus penangguhan kartu merah Folarin Balogun dan dugaan intervensi politik memperburuk citra FIFA, memunculkan kritik dari UEFA hingga akademisi soal rusaknya transparansi sepak bola dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Tak banyak yang menyangka laga Argentina versus Mesir dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Atlanta Stadium, Selasa (7/7/2026), menjadi bahasan menarik. Bukan hanya laga yang dramatis dan menegangkan, melainkan juga kontroversi di dalamnya.

Publik di awal mungkin memperhitungkan Argentina akan menang mudah atas Mesir, mempertimbangkan status dan kualitas skuadnya. Tapi, The Pharaohs nyatanya bisa merepotkan sang juara bertahan. Bahkan, mereka bisa unggul dua gol lebih dulu.

Cerita kemudian berubah di menit-menit krusial. Dimulai dari aksi Cristian Romero pada menit 79, tandukannya berhasil menjebol gawang Mesir dan membuat kedudukan menjadi 1-2.

Argentina kemudian menyamakan skor berselang empat menit, lewat tembakan voli Lionel Messi. Hingga akhirnya, saat masa injury time babak kedua memasuki menit kedua, Enzo Fernandez mencetak gol kemenangan.

Gol ketiga yang menjadi bahasan panas

Kapten Argentina, Lionel Messi, merayakan gol ke gawang Mesir bersama rekan-rekannya dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026 (AFP / Thomas Coex)

Proses gol ketiga Argentina menjadi salah satu bahasan panas. Sebab gol Fernandez beraroma pelanggaran dan digugat oleh Mesir.

Ketika membangun serangan balik, ada indikasi Mohamed Salah dilanggar oleh Julian Alvarez di kotak penalti. Mesir merasa seharusnya dihadiahi penalti, karena prosesnya sama ketika gol kedua yang dicetak Mostafa Zico dianulir setelah Lisandro Martinez dilanggar terlebih dulu. Namun, yang terjadi adalah wasit Francois Letexier tak meninjau video assistant referee (VAR), menilai jatuhnya Salah adalah bentuk kesengajaan dengan intensi mengarah ke Alvarez, demi mencari penalti.

Di sinilah puncak kemarahan Mesir terjadi. Pelatih Hossam Hassan marah-marah di pinggir lapangan, protes keras tercipta, sampai asisten Hassan, Saafan El-Sagheer, diusir Letexier.

Gol ke-3.000 sepanjang sejarah Piala Dunia dianggap kontroversial oleh Mesir dan muncul dugaan laga sudah diatur atau berbau match fixing.

"Sial, pertandingan sudah di tangan kami, tapi malah terpeleset. Hal aneh terjadi di lapangan. Jika Argentina menang atas Mesir murni karena kemampuan sendiri, tentu perasaan kami akan sangat berbeda. Selamat, kalian sudah jadi juara Piala Dunia 2026," kata Zico, dilansir Fox Sport.

Bukan hanya Zico, Hassan juga merasa pertandingan sudah diatur. Menurut Hassan, FIFA lebih untung jika Argentina dan Messi bertahan di Piala Dunia 2026 karena nilai jual turnamen tetap tinggi.

"Kami terlihat lebih baik di segala lini dari juara bertahan. Tapi, hasilnya dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Mungkin, mereka mau menjaga juara bertahan di turnamen. Mungkin, mereka mau Messi bertahan dalam persaingan," ujar Hassan, dilansir ESPN.

Atas insiden ini, Mesir sampai melayangkan surat protes resmi kepada FIFA. Mereka meminta agar ada penjelasan yang diberikan terkait dianulirnya gol Zico, tak diberikannya pelanggaran atas insiden jatuhnya pemain Mesir sebanyak dua kali. Sudah ada klarifikasi yang diberikan kepada Mesir, jika Salah jatuh karena intensi berduel dengan Alvarez dan tarikan Alexis Mac Allister kepada Hamdy Fathy tak begitu berpengaruh.

Tetap saja, Mesir tak puas. Federasi Sepak Bola Mesir, EFA, mengirimkan surat kepada FIFA agar Letexier dibebastugaskan.

FIFA yang kehilangan kendali atas Piala Dunia

Tindakan Mesir merupakan salah satu dari sederet kontroversi yang muncul dalam Piala Dunia 2026. Dari pernyataan yang dilontarkan Hassan serta Zico, ada indikasi lunturnya kepercayaan terhadap FIFA.

Tak heran, karena tindak-tanduk FIFA sepanjang Piala Dunia 2026 diwarnai oleh kontroversi. Dalam persiapannya, FIFA terlihat kehilangan kendali atas Piala Dunia. Mereka tak bisa mengontrol berbagai situasi yang berkembang, termasuk kebijakan imigrasi Amerika Serikat.

Ujungnya, sejumlah pihak susah beraktivitas di Amerika Serikat, mulai dari Iran, wasit asal Somalia Omar Artan, dan sejumlah pemain serta staf Irak. Suporter pun menjadi korbannya karena banyak yang ditolak masuk. Bagaimana sikap FIFA? Mereka sama sekali gak bisa berbuat apa-apa dan pernyataan yang keluar adalah "semua berdasarkan aturan resmi di dalam negara tersebut".

Standar ganda terjadi karena pada saat memperlakukan Indonesia, FIFA tegas mencoretnya sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023 lalu karena menolak kedatangan Israel.

Setelah kasus ini, kontroversi terus berkembang. Titik terburuknya adalah ketika sanksi akibat kartu merah yang membelit striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, ditangguhkan. Keputusan yang aneh, karena biasanya sanksi kartu merah secara otomatis berlaku, tapi khusus buat Balogun tidak demikian.

Keputusan ini disemprot oleh berbagai pihak. Mereka curiga FIFA mengambil tindakan itu akibat intervensi dari Trump. Benar saja, Trump mengakui telah menghubungi Infantino dalam proses penangguhan kartu merah Balogun.

Federasi Sepak Bola Belgia, RBFA, sampai geram dengan kenyataan tersebut. Mereka mengaku mau mengambil langkah tertentu, menganalisisnya agar nilai-nilai sepak bola terjaga. UEFA juga merespons tindakan FIFA. Mereka menegaskan tindakan FIFA sudah merusak integritas sepak bola.

"Sepak bola itu berbasiskan aturan agar kompetisi dan laga bisa berjalan transparan dan adil. Namun, tindakan FIFA soal menganulir kartu merah Balogun sudah kelewat batas," tulis pernyataan resmi UEFA.

Afiliasi atas politik

Kapten Argentina, Lionel Messi, merayakan gol ke gawang Mesir dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026 (AFP / Thomas Coex)

Usai kasus Balogun, muncul lagi drama dari Argentina versus Mesir. Sentimen muncul, dengan gejolak yang tercipta di media sosial. Banyak yang setuju dengan narasi Hassan dan Zico, mengarahkan favoritisme FIFA kepada Argentina.

Fenomena ini, menurut Profesor Olahraga Afro-Eurasian, Simon Chadwick, merupakan bentuk dari lunturnya kepercayaan publik terhadap FIFA. Sebab, belakangan banyak keputusan yang kontroversial diambil oleh FIFA dan cenderung melanggar statutanya sendiri.

"Setelah kasus Balogun, siapa yang bisa tahu keputusan mana terlegitimasi dan dipercaya? Lalu, mana yang tak bisa?" ujar Chadwick, dilansir Al Jazeera.

Chadwick menuturkan, pertanyaan publik atas laga Argentina versus Mesir juga dipenuhi dimensi politik. Sebab, afiliasi pemerintahan Argentina adalah Amerika Serikat, dengan Presiden Javier Milei membentuk aliansi dengan Trump.

"Jika pemerintahan Trump tetap memantau turnamen, patut diingat satu hal. Yakni, Presiden Argentina, Javier Milei, merupakan suporter Trump," kata Chadwick.

Bias dalam keputusan teknis wasit

Secara teknis, Chadwick mengakui memang terjadi bias dalam kepemimpinan wasit Francois Letexier. Standarnya, menurut Chadwick, tak konsisten dan membuat banyak pihak yang bertanya-tanya.

"Saat membangun serangan, ada indikasi pelanggaran dari pemain Argentina, yang diinterpretasikan sama seperti kejadian sebelumnya oleh penggawa Mesir. Standar wasit sepanjang laga, memang ada yang inkonsisten, meski kritik muncul membuat situasi lebih serius," ujar Chadwick.

Pendapat Chadwick sebenarnya sama dengan eks bek Liverpool, Jamie Carragher. Menurutnya, keputusan Letexier merupakan kontradiksi dari apa yang ada di kompetisi seperti Premier League, LaLiga, atau Serie A.

"Saya yakin, jika gol itu bersarang ke gawang tim lain, pasti akan disahkan. Kalau terjadi di Premier League, LaLiga, atau Serie A, pasti ada gol setelah peninjauan VAR. Banyak kontradiksi dalam turnamen ini," ujar Carragher.

Editorial Team

Related Article