Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kisah 'Wonderwall' Oasis yang Menggema di Piala Dunia 2026

Kisah 'Wonderwall' Oasis yang Menggema di Piala Dunia 2026
ilustrasi pendukung Timnas Inggris (unsplash.com/Ellen Kerbey)
Intinya Sih
  • Lagu 'Wonderwall' dari Oasis menjadi bagian playlist resmi Timnas Inggris di Piala Dunia 2026 dan selalu diputar setiap kali mereka meraih kemenangan, menciptakan momen sing along ikonik.
  • 'Wonderwall' dianggap mewakili harapan rakyat Inggris untuk mengakhiri penantian gelar juara sejak 1966, dengan lirik dan melodi yang menyatukan semangat para pemain serta suporter.
  • Efek 'Wonderwall' memicu lonjakan pemutaran lagu di Spotify hingga ratusan persen dan disambut antusias oleh personel Oasis serta pemain Inggris seperti Harry Kane selama turnamen berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Di balik perjuangan Timnas Inggris memburu gelar juara Piala Dunia 2026, ada satu momen yang cukup menarik perhatian. Tiap kali mereka memenangkan pertandingan, para pemain dan suporter kompak menyanyikan "Wonderwall" (1995). Ia merupakan salah satu lagu paling ikonik milik Oasis, band rock asal Inggris, yang mewarnai langkah tim berjuluk The Three Lions ini di Piala Dunia 2026. Apa yang melatarbelakangi?

1. "Wonderwall" masuk dalam playlist resmi Timnas Inggris di Piala Dunia 2026

Fenomena tersebut bermula saat Timnas Inggris menghadapi Kroasia pada laga Grup L Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di AT&T Stadium, Dallas, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026) waktu setempat. The Three Lions sukses menundukkan Kroasia dengan skor 4-2 berkat kontribusi dua gol dari Harry Kane serta masing-masing satu gol dari Jude Bellingham dan Marcus Rashford. Seusai wasit meniup peluit panjang, pengeras suara di stadion memutar "Wonderwall" yang kemudian dinyanyikan bersama oleh para pendukung dan pemain Timnas Inggris di bawah asuhan Thomas Tuchel.

Lantas, mengapa "Wonderwall" yang diputar? Menurut Sky Sports, FIFA telah membentuk tim pengelola musik stadion yang bekerja sama dengan federasi sepak bola dari masing-masing negara untuk menyerahkan empat lagu yang bakal diputar selama pertandingan, yaitu saat pemanasan, pengumuman susunan pemain, tim mencetak gol, dan setelah meraih kemenangan. The Sun melaporkan kalau The Football Association, federasi sepak bola Inggris, memasukkan "Wonderwall" ke dalam daftar lagu resmi Timnas Inggris bersama "Hey Jude" (1968), "Sweet Caroline" (1969), dan "Chase the Sun" (2001).

Momen sing along "Wonderwall" di lapangan hijau Piala Dunia 2026 terus berlanjut di laga-laga berikutnya, termasuk setelah The Three Lions menaklukkan Panama dengan skor 2-0 di New York/New Jersey Stadium sekaligus memastikan mereka sebagai juara Grup L. Lagu hits milik Oasis ini kembali bergema ketika skuad Inggris asuhan Tuchel mengalahkan Republik Demokratik Kongo 2-1 pada babak 32 besar. "Wonderwall" kembali mengiringi selebrasi kemenangan Timnas Inggris usai menyingkirkan Meksiko secara dramatis pada babak 16 besar.

2. "Wonderwall" merepresentasikan kerinduan Inggris akan juara Piala Dunia

Jika menilik ke belakang, Inggris sebenarnya sudah beberapa kali merilis lagu resmi untuk mengiringi perjalanan The Three Lions di Piala Dunia. Mereka pernah menghadirkan "We've Got the Whole World at Our Feet" (1986), "We're on the Ball" (2002), dan "Come on England" (2004), tetapi ketiganya gagal berkesan karena dinilai terlalu dibuat-buat, berlebihan, dan bahkan memalukan. Ironisnya, lagu yang justru paling melekat ialah "Vindaloo" (1998) yang awalnya dibuat sebagai parodi, tetapi malah sering dikumandangkan ketika Timnas Inggris bertanding di Piala Dunia 1998.

Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya yang sejak awal dibuat sebagai anthem The Three Lions, "Wonderwall" sama sekali tidak diciptakan untuk sepak bola. Meski demikian, lagu inilah yang justru menyatukan emosi dan semangat rakyat Inggris yang memenuhi venue Piala Dunia 2026. Tanpa pernah direncanakan sebagai anthem resmi, "Wonderwall" perlahan menjelma menjadi lagu yang senantiasa berkumandang setiap kali Timnas Inggris memenangkan pertandingan.

Alasan di balik populernya "Wonderwall" di Piala Dunia 2026 terletak pada lirik dan melodinya yang sudah akrab di telinga masyarakat Inggris selama lebih dari tiga dekade. Lagu hits milik Oasis tersebut dianggap sebagai simbol harapan agar The Three Lions asuhan Thomas Tuchel mengakhiri penantian panjang setelah terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada 1966. Pada salah satu liriknya yang berbunyi, "Because maybe, you're gonna be the one that saves me", suporter Inggris memaknai "the one" sebagai Harry Kane, Jude Bellingham, hingga seluruh skuad Timnas Inggris sebagai sosok penyelamat yang diharapkan mampu membawa pulang trofi Piala Dunia 2026.

3. The Three Lions dan Oasis juga ikut merayakan efek "Wonderwall"

Jauh sebelum Piala Dunia 2026 bergulir, Oasis telah menggelar tur Oasis Live '25 pada Juli—November 2025. Tur tersebut digelar untuk menandai reuni bersejarah antara Liam dan Noel Gallagher setelah lebih dari 16 tahun berselisih sejak Oasis bubar pada 2009. Oasis Live '25 sukses membangkitkan demam Britpop di Inggris sekaligus mengangkat kembali popularitas lagu-lagu klasik mereka, tak terkecuali "Wonderwall".

Euforia terhadap lagu-lagu Oasis terasa di Piala Dunia 2026 ketika sekitar 20 ribu pendukung kompak menyanyikan "Wonderwall" seusai Timnas Inggris menang atas Kroasia. Menjelang pertandingan The Three Lions kontra Ghana, Spotify mencatat jumlah pemutaran "Wonderwall" meningkat sekitar 50 persen, sebagaimana dilaporkan oleh Radio X. Tidak berhenti sampai di sini, lagu ikonik milik Oasis ini kembali mengalami lonjakan hingga sekitar 306 persen dari 1.628 menjadi 6.614 kali pemutaran setelah Timnas Inggris menyingkirkan Meksiko pada babak 16 besar.

Fenomena yang kemudian dijuluki efek "Wonderwall" oleh Euronews turut disambut antusias oleh para pemain The Three Lions maupun personel Oasis. Dalam wawancaranya dengan The Sun, surat kabar tabloid asal Inggris, Noel Gallagher selaku gitaris Oasis mengatakan bahwa "Wonderwall" telah menjadi lagu milik masyarakat Inggris dan menghadirkan sesuatu yang magis ketika dinyanyikan bersama para pemain dan suporter di Piala Dunia 2026. Bahkan, Harry Kane, sang kapten The Three Lions yang sempat kehilangan suara karena mengikuti sing along "Wonderwall" seusai menang atas Meksiko, menyebut momen tersebut sebagai salah satu pengalaman favoritnya selama membela Timnas Inggris, dilansir NME.

Perjalanan Timnas Inggris di panggung Piala Dunia 2026 masih jauh dari kata selesai. Di tengah ambisi mengejar trofi, kemunculan "Wonderwall" menjadi bukti bahwa musik dapat menyatukan puluhan ribu suporter dalam satu suara ketika mereka mempunyai mimpi dan harapan yang sama, menyaksikan Inggris memutus rantai puasa gelar Piala Dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More