Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kontroversi Balogun di Piala Dunia 2026, Parlemen Eropa Bidik Infantino

Kontroversi Balogun di Piala Dunia 2026, Parlemen Eropa Bidik Infantino
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino di New York, Amerika Serikat, Rabu (24/9).
Intinya Sih
  • Parlemen Eropa bereaksi atas penundaan hukuman Folarin Balogun dan menuduh FIFA serta Gianni Infantino melakukan pelanggaran etika dalam keputusan tersebut.
  • Sebanyak 27 asosiasi sepak bola Uni Eropa didorong untuk mengambil langkah hukum agar investigasi resmi terhadap FIFA segera dilakukan.
  • Sejumlah pejabat dan pakar hukum menilai keputusan FIFA dipengaruhi tekanan politik dari pemerintahan Donald Trump, sehingga mencederai integritas dan prinsip keadilan olahraga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Parlemen Eropa mulai bereaksi atas kontroversi yang menyelimuti FIFA dan Presidennya, Gianni Infantino, setelah penundaan hukuman striker Amerika Serikat, Folarin Balogun. Sejumlah anggota menyatakan segera melakukan penyelidikan terhadap FIFA atas dugaan pelanggaran etika dan manipulasi dalam hukuman tersebut.

Sejak Selasa (7/7/2026), sejumlah anggota parlemen mendorong 27 asosiasi sepak bola di Uni Eropa untuk bergerak untuk menyeret Infantino ke meja hijau. Mereka diharapkan bisa mengambil langkah formal terhadap FIFA agar terjadi investigasi terkait kartu merah Balogun yang ditangguhkan hingga bisa main kontra Belgia dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026.

"Kami merasa, ini waktunya bagi Asosiasi Sepak bola Eropa, yang terafiliasi dengan FIFA, mengintervensi dan bertanya soal bagaimana pengambilan keputusan terkait kasus Balogun," begitu pernyataan dalam surat yang disirkulasikan oleh Parlemen kepada 27 asosiasi sepak bola di Uni Eropa, dilansir Euronews.

1. Intervensi yang cederai statuta FIFA

Tindakan tersebut, dianggap Parlemen Eropa penting demi menjaga integritas sepak bola. Sebab, mereka sudah mencium adanya intervensi nyata dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap FIFA.

"Kami melihat Infantino dan FIFA menyerah kepada pemerintahan Trump," begitu pernyataan salah satu anggota Parlemen Eropa, Barry Andrews.

2. Skandal terbesar FIFA

Komisioner Uni Eropa, Glenn Micallef, sebelumnya sempat menyemprot FIFA atas keputusan terkait kartu merah Balogun. Sementara, mantan Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat UEFA, William Gaillard, menegaskan FIFA sudah melanggar dan mencederai statutanya sendiri dengan membiarkan kekuatan politik masuk ke dalam operasionalnya.

"Ini melanggar aturan dan statuta FIFA, benar-benar skandal," ujar Gaillard.

3. Sudah ada petisi buat seret Infantino

Sejumlah pakar hukum di Eropa juga sudah bergerak. Mereka mengumpulkan tanda tangan dari berbagai otoritas sepak bola Uni Eropa untuk mengajukan investigasi terhadap Infantino dalam sebuah petisi.

Petisi itu nantinya akan diteruskan kepada Komite Etik FIFA untuk bisa dinaikkan menjadi dasar atas investigasi terhadap Infantino.

"Keindahan olahraga didasari atas aturan yang transparan dan menyeluruh. Ketika Infantino membuka tekanan politik untuk menentukan siapa yang bermain, ini berarti prinsip keadilan sudah memudar," tulis pernyataan tersebut, dilansir ESPN.

Share Article
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana

Related Articles

See More