Bursa Presiden FIFA: Infantino Dapat Lawan Tangguh dari Jepang

Kozo Tashima menyatakan kesiapan menantang Gianni Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA periode 2027–2031.
Tashima ingin memulihkan integritas sepak bola dunia dan mengandalkan dukungan minimal lima asosiasi anggota FIFA.
Ia mengkritik sejumlah kontroversi yang melibatkan Infantino, termasuk isu Folarin Balogun dan rencana penjualan saham Piala Dunia.
Jakarta, IDN Times - Kekuasaan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA selama satu dekade terakhir mulai mendapat tantangan serius. Mantan Presiden Federasi Sepak Bola Jepang (JFA), Kozo Tashima, menyatakan kesiapannya untuk merebut kursi tersebut.
Tashima telah mendeklarasikan diri untuk menantang Infantino yang ingin melanjutkan kepemimpinannya untuk periode 2027–2031. Meski sadar persaingan tidak akan mudah, pria berusia 68 tahun itu bertekad bertarung dengan mengusung filosofi "semangat samurai".
1. Modal nekat dan semangat samurai
Tashima maju dengan misi memulihkan integritas sepak bola dunia yang dinilainya mulai tercoreng. Sebelum itu, langkah pertama yang harus ditempuh Tashima adalah mengumpulkan dukungan minimal lima asosiasi anggota FIFA dari berbagai negara.
Anggota Dewan FIFA itu mengaku telah menerima sejumlah respons positif sejak menghubungi beberapa negara untuk mendukung pencalonannya. Tashima menyadari posisinya tidak menguntungkan, baik secara politik maupun finansial, jika dibandingkan dengan Infantino. Namun, dia tidak patah arang dan akan mengandalkan "semangat samurai" dalam perjuangannya.
"Sekarang saya sendirian dan anggaran saya tidak cukup, tetapi itu tidak masalah, saya harus melawannya dengan semangat samurai saya," kata Tashima, dikutip dari BBC.
2. Muak dengan skandal Trump dan Balogun
Motivasi utama Tashima maju sebagai calon Presiden FIFA adalah ketidakpuasannya terhadap sejumlah kontroversi yang melibatkan Infantino. Salah satunya terkait pembatalan sanksi kartu merah striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, di Piala Dunia 2026.
Keputusan tersebut diduga berkaitan dengan intervensi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dilaporkan menelepon Infantino untuk membahas hukuman tersebut. Tashima juga mengkritik rencana Infantino yang sempat ingin menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta.
"Ini saya harap tidak akan pernah terjadi lagi di sepak bola dunia. Dia (Infantino) tidak menjelaskan bagaimana masalah ini bisa terjadi," kritik Tashima.
3. Jadi penantang serius pertama dalam satu dekade
Tashima bukan satu-satunya sosok yang berniat menantang Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA di Maroko pada Maret 2027 mendatang. Eks bek Tottenham Hotspur, Ramon Vega, juga telah menyatakan niatnya untuk maju.
Namun, peluang Vega masih diragukan karena persoalan administrasi. Dia tercatat sudah tiga kali gagal mencalonkan diri akibat tidak mampu mengumpulkan dukungan dari lima asosiasi anggota FIFA.
Karena itu, Tashima berpotensi menjadi penantang serius pertama Infantino dalam satu dekade terakhir. Pada periode 2023-2027, Infantino terpilih secara aklamasi karena tidak ada calon lain.




















