Dominasi Qatar di Asia yang Tak Berlaku di Piala Dunia

- Qatar sukses menjuarai Piala Asia 2019 dan 2023 dengan performa dominan, menunjukkan kekuatan mereka di level benua di bawah arahan Felix Sanchez dan Tintin Marquez.
- Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar gagal total setelah kalah di semua laga grup dan mencatat rekor sebagai tuan rumah tercepat yang tersingkir sepanjang sejarah turnamen.
- Pada Piala Dunia 2026, Qatar kembali tersingkir di fase grup meski berstatus juara Asia, hanya meraih satu poin dari tiga laga melawan Swiss, Kanada, dan Bosnia-Herzegovina.
Tim Nasional Qatar gagal tampil kompetitif pada fase grup Piala Dunia 2026. Bersaing dengan Swiss, Kanada, dan Bosnia-Herzegovina di Grup B, mereka hanya meraih 1 poin dari 3 laga. Torehan tersebut membuat Qatar finis di peringkat terakhir dan dipastikan tersingkir.
Apa yang dialami Qatar mengundang perbincangan menarik. Sebab, mereka datang ke Piala Dunia 2026 sebagai kampiun di Asia. Tak hanya kali ini, Qatar juga menyandang status yang sama di Piala Dunia 2022, yakni tampil sebagai juara bertahan Piala Asia.
1. Timnas Qatar selalu hadir di Piala Dunia sebagai juara Asia
Timnas Qatar mengikuti jejak beberapa negara lainnya yang pernah menjuarai Piala Asia secara beruntun. Di bawah kendali Pelatih Felix Sanchez, mereka mengangkat trofi pada 2019 yang sekaligus menjadi gelar juara pertama bagi mereka. Lalu bersama Tintin Marquez pada 2023, Qatar berhasil mempertahankan gelar juara.
Qatar tampil dominan pada fase grup Piala Asia 2019. Mereka finis sebagai juara grup dengan selalu meraih kemenangan dalam tiga laga berbeda. Setelah menang tipis 1-0 atas Irak pada babak 16 besar, mereka menyingkirkan Korea Selatan 1-0 pada perempat final. Qatar menang telak 4-0 atas Uni Emirat Arab pada semifinal, yang dilanjut dengan keunggulan 3-1 atas Jepang di partai puncak.
Qatar kembali mengangkat trofi pada 2023, yang dimulai dengan finis sebagai juara Grup A. setelah mengalahkan Palestina pada babak 16 besar, mereka menyingkirkan Uzbekistan pada perempat final. Qatar mampu menutup duel sengit kontra Iran dengan kemenangan tipis 3-2 pada semifinal. Perjuangan Qatar di Piala Asia 2023 ditutup dengan kemenangan 3-1 atas Yordania pada final.
2. Kegagalan Qatar sebagai tuan rumah di Piala Dunia 2022 diwarnai dengan sederet rekor buruk
Berstatus sebagai juara bertahan Piala Asia, kualitas Timnas Qatar diuji di Piala Dunia 2022. Apalagi, mereka tampil di negara sendiri sebagai tuan rumah. Sayangnya, mereka gagal memenuhi ekspektasi dan terhenti pada fase grup.
Duel antara Qatar dan Ekuador menjadi laga pembuka pada edisi kali ini. Sang tuan rumah gagal mencetak gol sepanjang laga. Sementara itu, Ekuador layak mendapat tiga poin berkat dua gol yang diborong Enner Valencia. Hasil ini membuat Qatar menjadi tuan rumah pertama yang kalah pada laga pertama.
Misi Qatar untuk bangkit tak menemui hasil pada laga kedua dengan kalah 1-3 dari Senegal. Kekalahan ini membuat mereka resmi tak lolos ke fase gugur dan menjadi tuan rumah yang paling cepat tersingkir sepanjang sejarah Piala Dunia. Laga terakhir Qatar pada fase grup lantas berakhir dengan kekalahan 0-2 dari Belanda.
3. Timnas Qatar terhenti pada fase grup Piala Dunia 2026
Timnas Qatar menjalani Piala Dunia kedua pada 2026, yang lagi-lagi menyandang status sebagai juara bertahan Piala Asia. Mereka tergabung di Grup B dengan Swiss, Kanada, dan Bosnia-Herzegovina. Namun, dominasi Qatar di Benua Kuning kembali berakhir pahit di panggung dunia.
Qatar sejatinya memulai kiprah mereka dengan hasil yang cukup baik. Bertanding melawan Swiss, mereka meraih satu poin dengan skor akhir 1-1 pada laga pertama. Setelah tertinggal 0-1 sejak menit 17, bek Swiss, Miro Muheim, mencetak gol bunuh diri pada injury time babak kedua.
Namun, Qatar menelan kekalahan pahit pada laga kedua. Mereka dibantai sang tuan rumah, Kanada, dengan skor 0-6. Kekalahan 1-3 dari Bosnia pada laga ketiga lantas membuat peluang mereka ke fase gugur resmi tertutup.
Sebagai juara bertahan Piala Asia dalam dua edisi Piala Dunia beruntun, Qatar menunjukkan dominasi yang sulit terbantahkan di level Asia. Namun, pencapaian tersebut belum mampu mereka terjemahkan menjadi hasil positif di panggung dunia, dengan dua kegagalan beruntun pada fase grup. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi Qatar untuk membuktikan bahwa mereka tidak hanya kuat di kawasan Asia, tetapi juga mampu bersaing dengan negara-negara terbaik dunia.

















