FIFA Bakal Raup Pendapatan Rp91,6 Triliun dari Piala Dunia 2026

FIFA diprediksi meraup pendapatan hingga Rp91,6 triliun dari penjualan tiket dan layanan hospitality Piala Dunia 2026.
Kebijakan harga tiket dinamis dan potongan penjualan kembali memicu sorotan, sementara FIFA belum mengonfirmasi laporan pendapatan tersebut.
Tujuh wakil Indonesia dijadwalkan bertanding di 16 besar Hylo Open 2026, termasuk Jonatan Christie dan derbi ganda campuran.
Jakarta, IDN Times - FIFA bakal mendapatkan keuntungan fantastis dari Piala Dunia 2026. Dari pesta sepak bola terbesar empat tahunan itu, FIFA diprediksi meraup pendapatan hingga 3,8 miliar poundsterling atau sekitar Rp91,6 triliun dari penjualan tiket dan layanan hospitality sepanjang digelarnya Piala Dunia 2026.
Tingginya pendapatan ini tak lain karena sistem progresif atas harga tiket, hotel, dan layanan lainnya, yang diterapkan sepanjang Piala Dunia 2026. Dengan sistem itu, keuntungan yang didapatkan FIFA otomatis meningkat secara drastis.
1. Pendapatan naik lima kali lipat
Dilansir Daily Mirror, angka ini naik lima kali lipat dari pendapatan Piala Dunia edisi 2022 di Qatar, yang cuma menyentuh 697 juta poundsterling (Rp16,83 triliun). Bukan cuma soal harga tiket yang progresif, tetapi jumlah pertandingan yang meningkat sampai 104 juga mendorong pendapatan FIFA.
Laporan lainnya dari The Times menyatakan, jumlah pendapatan dari Piala Dunia 2026 bisa saja mencapai 11,27 miliar poundsterling atau kisaran Rp271,92 triliun. Jumlah ini bukan hanya berasal dari tiket dan layanan hospitality, tetapi juga dari perputaran uang secara keseluruhan.
2. Klaim bakal kembalikan pendapatan ke sepak bola juga
Sampai sekarang, FIFA memang belum buka suara soal jumlah pendapatan yang didulangnya dari Piala Dunia 2026. Namun, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan setiap sen pendapatan yang didapatkan FIFA dari Piala Dunia 2026, akan dikembalikan kepada sepak bola atas alasan pengembangan. Apalagi, ditegaskan Infantino, FIFA merupakan organisasi nirlaba, bukan bisnis.
"Piala Dunia berlangsung selama satu bulan setiap empat tahun, sehingga kami menghasilkan uang dalam satu bulan. Selama 47 bulan hingga Piala Dunia berikutnya, kami menggunakan uang tersebut untuk berbagai kebutuhan. Banyak orang tidak mengetahui hal ini karena, tentu saja, kami menghasilkan miliaran dolar selama Piala Dunia, tetapi FIFA merupakan organisasi nirlaba," ujar Infantino.
3. Kok sempat mau dijual ke swasta?

Presiden FIFA Gianni Infantino berbicara dalam Kongres FIFA ke-76 di Vancouver Convention Centre, 30 April 2026, di Vancouver, Kanada. (Foto: Don MacKinnon/AFP) Pernyataan Infantino terkait "organisasi nirlaba" sebenarnya kontradiktif dengan inisiatifnya yang menggagas FIFA Forward Enterprise (FFE) untuk menjual saham Piala Dunia. Dengan inisiasi itu, sebenarnya FFE sudah mewakili sisi kapitalis dari FIFA.
Atas tindakannya itu, Infantino diserang berbagai pihak, terutama Konfederasi Sepak Bola Eropa, UEFA, yang begitu vokal dalam menolak Infantino menjabat kembali. Namun, belakangan Infantino malah mendapatkan dukungannya lagi agar bisa menjadi Presiden FIFA.



















