Kanada berhasil melaju ke 16 besar Piala Dunia 2026. Mereka mengalahkan Afrika Selatan pada Minggu (28/6/2026) dengan dramatis. Stephen Eustaquio mencetak gol penentu ketika waktu pertandingan cuma tersisa sekitar 4 menit. Gelandang setinggi 1,75 meter itu mengontrol second ball di depan kotak penalti dengan dada dan menuntaskannya dengan voli. Bagi Eustaqio, gol tersebut sekaligus menjadi semacam momen klimaks dari kariernya sejauh ini yang penuh liku-liku.
Gol Krusial yang Jadi Kulminasi Karier Stephen Eustaquio

1. Pindah-pindah klub demi mendapat kesempatan
Stephen Eustaquio mengukir momen bersejarah bagi Kanada di Piala Dunia 2026 di kota yang tidak asing untuknya. Mereka membekuk Afrika Selatan pada 32 besar di Los Angeles. Sebelum Piala Dunia 2026 resmi bergulir pada Juni, Eustaquio berkarier di sini bersama LAFC mulai Februari. Ia bergabung sebagai pinjaman dari Porto. Langkahnya kala itu disebut-sebut sebagai kemunduran. Namun, Eustaquio tidak memedulikannya. Ia menegaskan kepindahan ini sangat memenuhi kebutuhannya untuk mempersiapkan diri secara maksimal menjelang Piala Dunia 2026.
Pertimbangan-pertimbangan semacam itu yang memang menjadi karakter Eustaquio. Sejak kecil, ia tidak ragu untuk mengambil pilihan yang mungkin akan membuatnya tidak nyaman selama itu berpotensi mendatangkan hasil terbaik. Ini setidaknya tergambar dari seringnya ia berpindah klub pada periode juniornya demi mendapat kesempatan, dimulai GD Nazarenos, UD Leiria, SC Torreense, Leixoes, dan GD Chaves. Tidak lama setelah ulang tahunnya yang ke-22 pada Januari 2019, Eustaquio kemudian berani merantau ke Meksiko dengan menerima tawaran dari Cruz Azul.
Keyakinan Eustaquio juga tidak selamanya terbayarkan. Ia gagal di Cruz Azul. Namun, Eustaquio meresponsnya dengan tepat. Ia memutuskan kembali ke Portugal dengan membela Pacos Ferreira sebagai pinjaman pada 2020. Pacos lantas membelinya secara permanen pada 2021. Setahun berselang, Eustaquio berhasil mencuri perhatian Porto. Ia kemudian membela klub raksasa Portugal tersebut selama 4 tahun sampai akhirnya dipinjamkan kepada LAFC pada Februari 2026. Kini, Eustaquio sudah resmi pulang ke Porto dan kontraknya tersisa sampai 2027.
2. Kehilangan kedua orangtua dalam periode setahun
Meski sulit, jalan terjal yang dihadapi Stephen Eustaquio dalam karier sepak bolanya sebetulnya tidak bernilai apa-apa jika dibandingkan dengan tragedi yang terjadi di kehidupan personalnya. Ia kehilangan sang ibu, Esmeralda, yang meninggal karena kanker otak pada April 2023. Setahun kemudian, ayahnya, Armando, berpulang akibat serangan jantung.
Eustaquio pun tidak bisa menahan tangisnya ketika jurnalis TSN, Matthew Scianitti, menyinggung hal tersebut setelah laga melawan Afrika Selatan. Eustaquio kemudian menjawabnya dengan menyatakan, semua yang ia lakukan adalah untuk keluarganya. Sang pelatih, Jesse Marsch, juga mengatakan dalam konferensi pers, Esmeralda dan Armando pasti bangga dengan anaknya.
Eustaqio melewati tragedi tersebut bersama kakaknya, Mauro, yang juga pernah berkarier sebagai pesepak bola dan kini bekerja sebagai pelatih Inter Toronto. Selain itu, ia pun mempunyai tunangan, Constanca. Mereka bahkan sudah memiliki anak yang dinamai Benedita yang lahir beberapa hari sebelum Armando meninggal dunia pada Mei 2024.
3. Berkembang menjadi bintang Timnas Kanada setelah sempat membela Portugal di level junior
Torehan ke gawang Afrika Selatan pada 32 besar Piala Dunia 2026 merupakan gol kelima Stephen Eustaquio dari 60 caps bersama Kanada. Meski terhitung minim untuk pemain yang sudah berusia 29 tahun, itu tidak mengerdilkan perannya untuk The Canucks. Eustaquio merupakan salah satu bintang utama. Ia bahkan berstatus sebagai wakil kapten di belakang Alphonso Davies.
Jumlah penampilan Eustaquio bersama Kanada pasti akan lebih banyak andai ia memutuskan untuk membela mereka lebih awal. Eustaquio baru membuat keputusan tersebut pada 2019. Sebelumnya, ia tercatat pernah tujuh kali membela Portugal U-21. Sebuah cedera serius membuat peluang Eustaquio menembus skuad senior Portugal mengecil dan akhirnya ia berubah pikiran.
Eustaquio memang lahir di Kanada pada 21 Desember 1996. Kedua orangtuanya yang berasal dari Portugal. Keinginan untuk memperkuat Portugal wajar mengingat Eustaquio dan keluarganya kembali ke Portugal saat ia berusia 7 tahun. Namun, setelah dinamika kariernya, Eustaquio akhirnya bersedia membela tanah kelahirannya. Saat itu, ia mengaku ingin menjadi bagian dari generasi baru mereka yang tengah berkembang.
Eustaquio baru berusia 29 tahun. Masih banyak momen-momen hebat yang bisa ia raih dalam kariernya. Namun, dengan semua yang sudah terjadi, Eustaquio berhak untuk menikmati golnya ke gawang Afrika Selatan pada 32 besar Piala Dunia 2026 sebagai titik kulminasinya sejauh ini.