Ramadan selalu punya cara unik untuk menyatukan banyak hal, termasuk soal makanan. Bagi para pesepak bola kelas dunia yang tiap minggu berlari di stadion megah, momen berbuka bahkan bisa tetap sederhana lewat segenggam tradisi dari kampung halaman. Di ruang ganti Manchester City yang kosmopolitan, misalnya, para pemain datang dari berbagai budaya. Saat azan magrib tiba pada bulan puasa, meja makan mereka berubah menjadi peta kuliner dunia.
Sebagian memilih sup hangat, sebagian lagi camilan manis yang mengingatkan masa kecil. Ada makanan jalanan Afrika Utara, kue khas Maghreb, hingga hidangan rumahan Asia Tengah. Menariknya, makanan-makanan ini bukan sekadar pengisi energi setelah seharian berpuasa, melainkan juga potongan kecil identitas mereka.
