Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kejayaan Spanyol di Piala Dunia 2026 Tak Lepas dari Kesuksesan 2010
Luis de la Fuente, pelatih Spanyol, mengangkat trofi Piala Dunia setelah kemenangan timnya dalam pertandingan Final Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York New Jersey pada 19 Juli 2026 di East Rutherford, New Jersey. (Getty Images via AFP/Justin Setterfield)

Keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 jelas tak terlupakan. Selain mengalahkan juara bertahan, Argentina, pesta La Furia Roja kian istimewa karena disaksikan langsung barisan legenda dari generasi emas 2010. Mulai dari Iker Casillas, Xavi Hernandez, hingga Andres Iniesta. Kehadiran mereka seolah menegaskan warisan kejayaan 16 tahun silam yang diteruskan secara sempurna oleh Rodri dkk.

Sebelum bertakhta pada 2026, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan adalah cikal bakal lahirnya mentalitas juara Spanyol. Meski datang membawa status juara Piala Eropa 2008, langkah mereka menuju tangga juara nyatanya jauh dari kata mulus saat itu. Dihantam kritik tajam hingga duel-duel fisik yang brutal di partai puncak, begini lika-liku perjalanan heroik Spanyol saat meraih trofi Piala Dunia pertama mereka.

1. Sempurna pada kualifikasi Eropa, tetapi masih dibayangi trauma masa lalu

Sebelum berlaga di Piala Dunia 2010, Spanyol mecatat rekor mengerikan. Di bawah arahan Vicente del Bosque yang melanjutkan fondasi Luis Aragones, La Furia Roja sukses menyapu bersih sepuluh pertandingan kualifikasi zona Eropa dengan kemenangan sempurna. Namun, publik Spanyol tetap diselimuti rasa skeptis yang mendalam.

Pasalnya, Spanyol punya sejarah panjang selalu tampil garang pada babak kualifikasi. Namun, mereka langganan "kehabisan bensin" atau tersingkir begitu memasuki babak gugur. Prestasi mereka sebelum Piala Dunia 2010 adalah peringkat empat pada 1950 yang berlangsung di Brasil.

2. Secara mengejutkan, Spanyol dipermalukan Swiss pada laga pembuka penyisihan grup

Dilansir Goal, Spanyol digadang sebagai favorit juara sebab mengusung taktik tiki-taka yang sedang digandrungi saat itu. Namun, mereka langsung dihantam kenyataan pahit di laga perdana Grup H. Secara mengejutkan, Xavi Fernandes dkk takluk 0-1 dari Swiss yang bermain sangat bertahan atau parkir bus.

Kekalahan ini memicu kritik tajam dari media lokal dan publik dunia. Banyak yang mulai meragukan apakah gaya main penguasaan bola mutlak sanggup mengalahkan tim yang menerapkan pertahanan berlapis. Terlebih patahnya tiki-taka terjadi di panggung sekelas Piala Dunia.

3. Vicente del Bosque langsung memutar otak untuk mengubah strategi pada sisa babak penyisihan

Berada di ujung tanduk, Vicente del Bosque langsung memutar otak untuk mengubah strategi. Dilansir Hindustan Times, ciri khas permainan tidak berubah, masih tetap tiki-taka. Namun, Andres Iniesta ditempatkan ke area tengah, termasuk dipasangnya duet jangkar Xabi Alonso-Sergio Busquets untuk lini tengah lebih cair. Mereka berhasil menyapu bersih dua laga tersisa dengan menumbangkan Honduras (2-0) dan Chile (2-1) untuk mengamankan posisi juara grup.

Masuk babak gugur, Spanyol menjadi mesin tim sangat pragmatis, tetapi mematikan. Melewati adangan Portugal pada 16 besar dan Paraguay pada perempat final, Spanyol selalu menang dengan skor tipis 1-0. Iker Casillas bahkan menjadi pahlawan usai menepis penalti penting Paraguay, membuktikan pertahanan Spanyol sama berbahayanya dengan lini serang mereka.

4. Berhasil melewati adangan Jerman pada semifinal, membuat Der Panzer tidak berkutik

Ujian terberat Spanyol hadir pada semifinal saat berhadapan dengan Jerman. Di bawa asuhan Joachim Loew, mereka menjadi tim paling atraktif dengan barisan lini serang haus gol. Der Panzer sukses membantai Inggris 4-1 pada babak 16 besar dan Argentina kena gilas 4-0 pada perempat final.

Namun, Del Bosque menampilkan skema taktik terbaiknya. Dilansir The Guardian, lini tengah yang dikomandoi Xavi Hernandez dan Andres Iniesta berhasil mengurung pemain Jerman hingga tak berkutik. Gol tunggal dari sundulan maut Carles Puyol memanfaatkan umpan sepak pojok Xavi memutus asa Jerman. Kemenangan 1-0 sudah cukup membawa Spanyol ke final Piala Dunia pertama dalam sejarah mereka.

5. Pertandingan berjalan keras, Andres Iniesta mempersembahkan gol kemenangan La Furia Roja

Final Piala Dunia 2010 di Soccer City Stadium, Johannesburg, menyajikan salah satu final paling keras dalam sejarah. Belanda yang sadar kalah kelas secara teknis menerapkan permainan fisik yang sangat agresif. Salah satu insiden yang diingat adalah tendangan Nigel de Jong ke dada Xabi Alonso.

Dilansir situs resmi FIFA, laga berlangsung alot hingga berlanjut ke babak tambahan. Namun, momen yang ditunggu Spanyol itu datang pada menit ke-116. Menerima umpan terobosan Cesc Fabregas, Andres Iniesta melepaskan tembakan voli keras yang menembus gawang Maarten Stekelenburg. Selebrasi Iniesta yang melepas jersey untuk mempersembahkan golnya kepada mendiang Dani Jarque menutup malam tersebut dengan sempurna.

Kemenangan 1-0 atas Belanda menahbiskan Spanyol sebagai penguasa sepak bola dunia. Lewat kombinasi tiki-taka, kedalaman skuad yang merata serta ketenangan, perjalanan Spanyol 2010 akan selalu dikenang jutaan pencinta sepak bola. Spirit tersebut kemudian diwariskan hingga Rodri dkk menjadi juara Piala Dunia 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article