Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Gol Iran saat Lawan Mesir Dianulir?
Para pemain Mesir merayakan gol Mohamed Salah ke gawang Selandia Baru (Getty Images via AFP / Fran Santiago)
  • Gol Iran ke gawang Mesir dianulir wasit Szymon Marciniak setelah VAR menunjukkan Shoja Khalilzadeh berada dalam posisi offside sebelum mencetak gol.
  • Keputusan offside mengacu pada Pasal 11 IFAB, di mana pemain Mesir Yassir Ibrahim tak dihitung sebagai acuan karena posisinya di belakang kiper, sehingga garis ditarik dari Hamza Abdelkarim.
  • Pelatih Iran Amir Ghalenoei menerima keputusan berbasis teknologi tersebut, namun mengaku kecewa karena timnya kembali dirugikan oleh situasi tipis yang membuat gol kemenangan batal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kontroversi muncul dalam duel Iran versus Mesir di Seattle Stadium, Sabtu (27/6/2026), dalam penyisihan Grup G Piala Dunia 2026. Berlaga di Seattle Stadium, satu gol Iran yang bisa saja membawa pada kemenangan malah dianulir wasit.

Iran memang nyaris menang dalam duel tersebut. Mereka sempat mencetak gol ke gawang Mesir di masa kritis pertandingan lewat tendangan Shoja Khalilzadeh.

Namun, wasit asal Polandia, Szymon Marciniak, menerima instruksi dari ruang VAR jika gol Khalilzadeh tidak sah karena sudah terjebak offside sebelum mencetak gol. Hingga akhirnya, Marciniak menganulir gol tersebut.

Keputusan tersebut mengundang kontroversi. Sebab, dari tayangan ulang ada satu pemain Mesir yang tertinggal dan berdiri di belakang kiper Mostafa Shobeir. Insiden ini membuat publik mempertanyakan aturan offside yang berlaku dari IFAB dalam berbagai lini, terutama di media sosial.

1. Simak aturan offside Pasal 11 dari IFAB

Dalam kasus ini, aturan Pasal 11 dalam Law of the Game otomatis berlaku. Aturan ini menjelaskan jika offside bisa terjadi dengan kondisi:

1. Bagian dari kepala, badan, atau kaki berada di wilayah permainan lawan (tidak termasuk garis tengah lapangan); dan

2. Bagian dari kepala, badan, atau kaki yang lebih dekat ke garis gawang lawan dibandingkan dengan bola dan pemain lawan kedua terakhir.

Pemain Mesir yang berada di belakang kiper, yakni Yassir Ibrahim, ternyata mengalami perubahan peran sesuai dengan aturan tersebut. Ada situasi yang menyebabkan Pasal 11 poin 2 bisa diberlakukan.

Ketika Shobeir maju, sesuai dengan aturan tersebut, Ibrahim tak bisa dijadikan acuan dalam penarikan garis offside. Justru, pemain Mesir lainnya, Hamza Abdelkarim, yang berperan sebagai "lawan kedua terakhir".

2. Ada fase permainan baru yang terbangun

Momen itu bisa terjadi karena dinilai fase permainan baru telah dimulai ketika Mohammad Ghorbani melepaskan tendangan yang kemudian membentur lawan dan mengarah ke Khalilzadeh.

Kemudian, Khalilzadeh melepaskan tembakan ke gawang Mesir dan bola masuk ke gawang. Dalam situasi normal, dua pemain lawan terakhir itu terdiri dari kiper dan satu bek. Pada kenyataannya, ada situasi yang membuat syarat tersebut tak berlaku, seperti insiden dalam duel Iran versus Mesir.

Dalam kejadian itu, cuma ada satu pemain Mesir yang berada lebih dekat dengan garis gawang ketimbang Khalilzadeh, yakni Ibrahim. Makanya, garis yang ditarik bukan berdasarkan posisi Ibrahim, melainkan Abdelkarim yang sudah memenuhi syarat dari aturan offside Pasal 11 poin 2.

3. Iran diliputi kesialan

Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, bisa menerima keputusan gol Khalilzadeh harus dianulir. Dia paham dengan aturan, apalagi ada teknologi garis gawang dan VAR yang diterapkan sepanjang Piala Dunia 2026. Namun, dia merasa Iran selalu menjadi tim yang tertekan di Piala Dunia kali ini atas berbagai situasi yang menyelimutinya.

"Ada aturannya dan semua berbasis teknologi. Saya menerimanya. Tapi, saya sangat kecewa karena kesialan yang kami terima. Karena perbedaan milimeter, gol kami harus dianulir. Itu keadilan, tapi saya kesal dengan kesialan," ujar Ghalenoei.

Editorial Team

Related Article