Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Klub Indonesia Susah Bersaing di Asia? Ini Kata I.League

Kenapa Klub Indonesia Susah Bersaing di Asia? Ini Kata I.League
Momen diskusi Water Break PSSI Pers soal Membawa Liga Naik Kelas. (Dok. PSSI Pers)
  • Direktur Komersial I.League Sadikin Aksa menilai sanksi FIFA dan pandemi COVID-19 membuat klub Indonesia tertinggal dari negara Asia Tenggara yang tetap berjalan.
  • Perubahan regulasi AFC pada periode tersebut sulit diikuti Indonesia; menurut Sadikin, transformasi klub baru berjalan optimal dalam tiga tahun terakhir.
  • Meski Super League diklaim paling kompetitif di Asia Tenggara berdasarkan data AFC, wakil Indonesia masih kesulitan di Asia, termasuk Persib yang terhenti di 16 besar ACL Two 2025/26.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, mengungkapkan alasan kenapa klub-klub Indonesia sulit bersaing di Asia. Semua karena dua hal: sanksi FIFA dan pandemik COVID-19.

"Kalau ditanya klub-klub yang di Asia Tenggara ini kenapa lebih maju? Mereka tidak menghadapi larangan (pembekuan FIFA) dan tidak menghadapi masalah Covid. Mereka tetap jalan selama Covid. Dan larangan itu yang paling berat kita rasakan, larangan FIFA. Mereka enggak merasakan itu," kata Sadikin dalam acara Water Break PSSI Pers di Jakarta, Senin (31/8/2026).

  1. 1. Transformasi baru bisa dilakukan dalam tiga tahun terakhir

    Sejumlah peserta mengikuti diskusi Water Break PSSI Pers bertema Membawa Liga Naik Kelas dalam sebuah forum.
    Momen diskusi Water Break PSSI Pers soal Membawa Liga Naik Kelas. (Dok. PSSI Pers)

    Nah, selama adanya sanksi FIFA dan pandemik COVID-19 pada kisaran 2015 dan 2020 lalu, ada perubahan regulasi di AFC. Ketika klub-klub Asia Tenggara mengikutinya, Indonesia kesulitan.

    "Kita pada saat itu mau mengikuti kena ban (sanksi). Akhirnya mindset klub-klub kita, kalau ditanya kita itu baru bisa bertransformasi bener ya tiga tahun terakhir," kata Sadikin.

  2. 2. Tetap ada klaim paling kompetitif

    Sejumlah peserta berdiskusi dalam acara Water Break PSSI Pers bertema Membawa Liga Naik Kelas di sebuah ruangan.
    Momen diskusi Water Break PSSI Pers soal Membawa Liga Naik Kelas. (Dok. PSSI Pers)

    Meski sulit bersaing di Asia, Sadikin mengeklaim Super League jadi kompetisi paling kompetitif se-Asia Tenggara. Super League mengungguli Thailand, Vietnam, dan negara-negara lain.

    "Jadi kalau melihat competitiveness level kita ya, data dari AFC ya, se-Asia Tenggara ini (kompetisi) kita sudah nomor 1. Biarpun Persib juara tiga kali berturut-turut, tapi pada saat (penentuan) Persib mau juara itu sampai minggu terakhir ya," kata Sadikin.

  3. 3. Wakil Indonesia sulit bicara banyak

    Persib lawan Manila Digger di play-off ACL Two 2026/27. (Dok. Persib)
    Persib lawan Manila Digger di play-off ACL Two 2026/27. (Dok. Persib)

    Dalam beberapa tahun terakhir, performa wakil Indonesia di Asia memang sulit bersaing. Musim lalu, Persib Bandung terhenti di 16 besar AFC Champions League Two (ACL Two) 2025/26.

    Musim ini, Persib kembali jadi klub yang mewakili Indonesia di ACL Two 2026/27. Mereka ditemani Borneo FC Samarinda yang mentas di AFC Challenge League (ACGL).

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More