Ketika Diaspora Angkat Performa Cape Verde di Piala Dunia 2026

- Cape Verde tampil mengejutkan di Piala Dunia 2026 setelah menahan imbang Spanyol dan Uruguay, membuktikan kemampuan mereka bersaing di level tertinggi.
- Seluruh pemain Cape Verde berkarier di luar negeri, menunjukkan kuatnya pengaruh diaspora dalam membentuk tim nasional yang solid dan berpengalaman.
- Sekitar 700 ribu warga Cape Verde tinggal di luar negeri, dan kontribusi diaspora terus dimanfaatkan untuk memperkuat potensi bangsa, termasuk dalam bidang olahraga.
Jakarta, IDN Times - Performa Cape Verde di Piala Dunia 2026 begitu mengejutkan. Mereka mampu menjegal langkah dua negara yang pernah menjadi juara dunia secara beruntun, Spanyol dan Uruguay.
Ketika melawan Spanyol, Cape Verde mengakhiri laga dengan skor kacamata. Banyak yang menduga, Cape Verde cuma beruntung saat mendulang hasil tersebut.
Tapi, mereka membuktikannya ketika menghadapi Uruguay di Miami Stadium, Senin pagi WIB (22/6/2026). Dalam duel itu, Cape Verde bisa menjebol gawang Uruguay dua kali dan memaksakan hasil imbang, 2-2.
Hasil itu membuat Cape Verde kembali menjadi perbincangan di segala lini media sosial. Banyak yang memuji performa anak-anak asuh Bubista ini, karena begitu lepas, militan, dan mematahkan sejumlah prediksi yang menyebutnya akan hancur lebur di putaran final.
"Sejak awal, apa yang kami katakan adalah, ingin berkompetisi di level tertinggi. Itulah yang kami coba lakukan. Kami telah membuktikannya dalam dua laga. Terpenting, menunjukkan identitas sebagai tim, kekuatan, kesatuan sebagai unit, dan keuletan," ujar pelatih Cape Verde, Bubista, dilansir RFI.
1. Incar target lebih tinggi dengan kepercayaan diri

Setelah berhasil menahan Spanyol dan Uruguay, Cape Verde mengincar target lebih tinggi. Mereka mau bermain di babak 32 besar dalam debutnya di Piala Dunia.
Peluang Cape Verde untuk melakukannya terbilang besar. Apalagi, negara penghuni peringkat 63 FIFA itu akan jumpa Arab Saudi yang masih susah menampilkan performa terbaik di pertandingan pamungkas nanti. Sementara, Spanyol dan Uruguay akan saling sikat demi bisa mengamankan tiket ke babak 32 besar.
"Kami di sini untuk meraih mimpi baru, lolos ke babak kedua. Saya rasa, wajar untuk berpikiran seperti itu. Kami menghormati semua lawan. Tapi, posisi kami adalah bilang 'Ya! Kami akan bertarung untuk lolos!'," ujar Bubista.
2. Seluruh pemainnya berlaga di luar negeri

Permainan Cape Verde sebenarnya ditopang oleh pengalaman para penggawanya bermain di luar negeri. Sebanyak 26 pemain yang memperkuat Cape Verde, tak satu pun berlaga di kompetisi domestik.
Rata-rata mereka main di luar negeri. Bahkan, ada dua yang berlaga di kompetisi Amerika Serikat bersama Columbus Crew dan San Diego.
Namun, tak semua pemain Cape Verde main di kompetisi kasta tertinggi. Pemain paling seniornya, Vozinha, bahkan berlaga di kompetisi kasta kedua Portugal bersama Chaves.
Yang lucunya lagi adalah, proses perekrutan pemain Cape Verde juga ada yang melewati LinkedIn. Salah satu pemain Cape Verde, Roberto Lopes, yang mengalaminya.
Lopes dihubungi lewat LinkedIn oleh Federasi Sepak Bola Cape Verde (FCF) pada 2018 oleh pelatih Rui Aguas. Awalnya, Lopes bingung dan merasa panggilan ke Timnas Cape Verde merupakan penipuan karena dikemas dalam bahasa Portugis.
Dia juga jarang membuka akun LinkedIn miliknya. Hingga, Aguas kembali menghubunginya via direct messages, kali ini Lopes pun merasa hal tersebut bukan penipuan dan meresponsnya.
Aguas pun menjelaskan mengapa merekrut Lopes. Dia mengetahui, Lopes yang kala itu membela Shamrock Rovers, memiliki darah Cape Verde dari garis ayahnya. Hingga, dia bisa membela Cape Verde karena sistem dwikewarganegaraan yang dianut.
Sebenarnya tak cuma Cape Verde, Lopes bisa membela Republik Irlandia dan Afrika Selatan juga. Namun, panggilan dari dua Timnas itu tak kunjung datang.
3. Banyak penduduk Cape Verde bekerja di luar negeri
Data dari Departemen Imigrasi Persatuan Bangsa-Bangsa (IOM UN), menyebutkan ada sekitar 700 ribu penduduk Cape Verde yang tinggal di luar negeri. Kebanyakan dari mereka berada di wilayah Amerika Serikat dengan jumlah 260 ribu jiwa. Ada juga yang tinggal di Eropa dan 100 ribu di antaranya bermukim di Portugal, karena memang bekas daerah jajahannya.
Sampai sekarang, dijelaskan IOM UN, keterlibatan diaspora Cape Verde terus dieksplorasi. Sebab, banyak aspek yang bisa ditingkatkan oleh para diaspora sebelum berangkat dan bekerja ke luar negeri, termasuk demi menempa diri dalam bidang olahraga.


















