Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lepas 4 Penyerang, Apakah Arsenal Cukup Bertumpu kepada Tzolis?
potret bagian luar Emirates Stadium, markas Arsenal (unsplash.com/Nelson Ndongala)
  • Arsenal meraih poin penuh dalam dua laga awal EPL 2026/2027, tetapi melepas Martinelli, Trossard, Gabriel Jesus, Nwaneri, dan Nelson sambil hanya mendatangkan Christos Tzolis.
  • Tzolis menjadi satu-satunya winger kiri murni, sementara Havertz dan Gyokeres menjadi opsi utama striker. Arsenal juga kehilangan profil sayap eksplosif setelah kepergian Martinelli.
  • Gagal merekrut sejumlah target elite, Arsenal mengandalkan rotasi Eze dan Madueke, kontribusi Bruno Guimaraes, serta potensi Max Dowman untuk menutup keterbatasan lini depan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apakah Arsenal cukup bertumpu pada Christos Tzolis?
Vote Now

Arsenal memulai English Premier League (EPL) 2026/2027 secara meyakinkan dengan mengantongi poin penuh pada dua laga pertama. Namun, bukan berarti The Gunners sepenuhnya siap mengarungi musim kompetisi. Meskipun telah mendatangkan beberapa nama elite, mereka justru ditinggal setidaknya empat penyerang.

Tutupnya jendela transfer Premier League pada 2 September 2026 pukul 05.00 WIB membuat Mikel Arteta mau tidak mau mengoptimalkan pemain yang ada. Pelatih asal Spanyol ini kini dituntut memeras kejelian taktisnya demi menutupi keterbatasan amunisi di barisan depan. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif peta kekuatan lini serang, kebutuhan spesifik tim, hingga realisasi target transfer Arsenal pada musim panas 2026.

1. Empat penyerang Arsenal keluar, tetapi hanya berhasil mendatangkan satu penyerang

Jendela transfer musim panas 2026 jadi momen eksodus pemain lini depan Arsenal. Terbaru, mereka secara resmi merampungkan proses penjualan Gabriel Martinelli kepada Al-Hilal dengan rekor transfer sebesar 55 juta pound sterling (Rp1,319 triliun). Sebelumnya, mereka telah menjual Leandro Trossard ke Besiktas, Gabriel Jesus ke FC Barcelona, meminjamkan Ethan Nwaneri kepada Borussia Dortmund, serta memutus kontrak Reiss Nelson.

Kebijakan melepas banyak pemain depan menciptakan ketimpangan antara jumlah pemain keluar dan pemain masuk. Sementara itu, mereka baru berhasil mendaratkan satu penyerang baru ke Stadion Emirates. Kedatangan penyerang sayap Christos Tzolis seharga 34 juta pound sterling (Rp815,3 miliar) dari Club Brugge tidak serta-merta mampu menutupi tergerusnya kuantitas di barisan depan.

Sektor sayap kiri Arsenal kini berada dalam kondisi krisis kedalaman pemain pada awal musim. Tzolis mendadak menjadi satu-satunya winger kiri murni yang menghuni skuad utama asuhan Mikel Arteta saat ini. Dilansir Sky Sports, pemain berkebangsaan Yunani ini memang menorehkan catatan fisik luar biasa lewat 4.400 menit bermain bersama Brugge musim lalu, tetapi membebankan seluruh agenda pertandingan kepadanya berisiko memicu kelelahan berat.

Permasalahan kedalaman serupa juga terpampang jelas pada posisi penyerang tengah usai kepindahan Gabriel Jesus menuju Camp Nou. Arteta kini hanya memiliki Kai Havertz dan Viktor Gyokeres tanpa kehadiran opsi pelapis murni ketiga di ujung tombak. Mereka bahkan terpaksa menyiapkan Mikel Merino sebagai opsi penyerang darurat jika badai cedera kembali melanda lini depan.

2. Meski ada opsi rotasi, kehilangan winger bertipe eksplosif akan menjadi PR besar bagi Arsenal

Kepergian Gabriel Martinelli meninggalkan lubang menganga terkait keberadaan penyerang bertipe winger eksplosif. Arsenal kehilangan sosok pemain sayap yang mengandalkan kecepatan saat melakukan akselerasi di atas lapangan. Gaya permainan khas pemain asal Brasil yang berani menusuk ke belakang garis pertahanan lawan serta unggul dalam situasi duel 1 lawan 1 kini tidak lagi dimiliki lini serang kiri.

Opsi penyerang yang tersedia di dalam skuad saat ini memiliki karakter bermain yang cukup berbeda dari kebutuhan ideal Mikel Arteta. Christos Tzolis dan Eberechi Eze lebih menonjol dalam aspek kemampuan mengolah ruang serta memainkan kombinasi operan-operan pendek. Kedua penggawa tersebut juga lebih banyak menghabiskan energi untuk kerja keras defensif daripada melakukan tusukan berbahaya ke area penalti lawan.

Penempatan Eberechi Eze dan Noni Madueke di sektor sayap kiri sebenarnya bukanlah sebuah solusi jangka panjang yang ideal bagi tim. Arteta sebenarnya merancang peran utama bagi Eze dan Madueke untuk melapisi pergerakan Martin Odegaard serta Bukayo Saka di posisi lain. Jika kedua pemain ini dimainkan di luar posisiny secara terus-menerus, hal ini berpotensi merusak sistem rotasi di area gelandang serang dan sayap kanan.

Kekalahan pada laga final Liga Champions Eropa 2025/2026 kala menghadapi Paris Saint-Germain (PSG) memberi pelajaran yang sangat berharga bagi Arsenal. Arteta menyadari, skuadnya membutuhkan daya magis melalui aksi individu dari para penyerang sayap. Arsenal memerlukan variasi profil penyerang berkualitas demi memecah kebuntuan saat melawan dengan barisan pertahanan rapat bernuansa low-block.

3. Gagal menggaet pemain elite, Arsenal kini bertumpu pada rotasi dan potensi akademi

Perburuan amunisi baru pada bursa transfer musim panas 2026 sayangnya tidak berjalan mulus sesuai dengan rencana Arsenal. Target utama Morgan Rogers lepas ke tangan Chelsea seharga 117 juta pound sterling (Rp2,805 triliun) setelah Arsenal menolak membayar biaya di atas 80 juta pound sterling (Rp1,918 triliun). Upaya memboyong Vinicius Junior juga menemui kegagalan karena sang pemain memilih bertahan di Real Madrid, sementara Bradley Barcola merapat ke Liverpool.

Arsenal turut menemui jalan buntu saat mencoba mengamankan beberapa nama penyerang potensial lainnya. Perekrutan Malick Fofana dari Olympique Lyon kandas di pengujung tenggat transfer, Kenan Yildiz dipagari ketat oleh Juventus, dan Nico Williams terhalang masalah riwayat cedera. Perburuan terhadap penyerang Atletico Madrid, Julian Alvarez, turut berujung kekecewaan lantaran sang pemain tak berminat kembali ke Premier League dan memilih menanti prospek kepindahan ke FC Barcelona.

Kegagalan mendaratkan penyerang elite membuat Mikel Arteta terpaksa menerapkan strategi mitigasi melalui pergerakan di sektor lain. Perekrutan gelandang Bruno Guimaraes dari Newcastle United berhasil memberikan dimensi serangan baru dari kedalaman lini tengah. Selain piawai menembus barisan pertahanan melalui umpan terobosan, gelandang Brasil itu juga menjadi magnet pelanggaran lawan yang menciptakan peluang dari skema bola mati.

Jika situasi transfer tidak menguntungkan Arsenal, mereka masih bisa mengoptimalkan potensi pemain akademi. Talenta muda berusia 16 tahun, Max Dowman, diproyeksikan mendapat peran lebih besar sebagai pelapis di posisi sayap kanan dan gelandang nomor 10. Pelatih asal Spanyol itu turut memaksimalkan fleksibilitas Eberechi Eze di sayap kiri pada laga-laga krusial, seperti saat memberikan assist penentu kemenangan ketika berhadapan dengan Aston Villa pada pekan kedua Premier League.

Hasil manis yang diperoleh Arsenal dalam dua laga awal Premier League 2026/2027 belum sepenuhnya melegakan, sebab tipisnya opsi penyerang menyisakan risiko besar bagi ketahanan skuad. Jendela transer musim panas 2026 telah ditutup, kemampuan Meriam London untuk mempertahankan takhta juara akan sangat ditentukan oleh efektivitas solusi internal serta kedewasaan taktik Mikel Arteta.

Ikut pilih, mampukah Arsenal mengatasi krisis lini depan?

Menurutmu, apakah Arsenal cukup bertumpu pada Christos Tzolis?

See More
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article