Lyon vs Fenerbahce Ricuh, Matteo Guendouzi Jadi Sasaran

- Fenerbahce menang 2-1 atas Lyon pada leg kedua play-off Liga Champions 2026/27 melalui gol Vedat Muriqi dan Archie Brown; Malick Fofana memperkecil skor.
- Matteo Guendouzi mendapat cemoohan dari suporter Lyon sejak sebelum laga, termasuk hinaan terhadap keluarganya, dan menilai wasit tidak cukup tegas menangani situasi.
- Usai laga, selebrasi Guendouzi serta teriakannya “Allez l'OM” memicu konfrontasi yang berlanjut menjadi baku hantam di lapangan hingga lorong stadion.
Jakarta, IDN Times - Duel leg kedua babak play-off Liga Champions musim 2026/27 antara Olympique Lyon kontra Fenerbahce berujung ricuh, Kamis (27/8/2026) dini hari WIB. Matteo Guendouzi menjadi sasaran amukan kubu Lyon.
Kericuhan itu meledak tepat setelah Fenerbahce memastikan kemenangan dengan skor 2-1. Kemenangan itu lahir berkat gol Vedat Muriqi (24') dan Archie Brown (28'), sementara Lyon yang buntu hanya mampu memperkecil kedudukan lewat aksi Malick Fofana pada menit 61.
Tepat setelah wasit meniup peluit panjang, pemandangan di Groupama Stadium, Decines-Charpieu berubah menjadi ajang baku hantam. Keributan itu terjadi di lapangan dan lorong stadion. Berikut kronologinya.
1. Dihina puluhan ribu suporter sejak sebelum kick-off
Ketegangan sebenarnya sudah terasa sejak sebelum pertandingan dimulai. Puluhan ribu suporter tuan rumah terus-menerus mencemooh Guendouzi, selaku pemain yang pernah membela rival mereka, Olympique Marseille.
Guendouzi mengaku telah menjadi sasaran hinaan verbal yang sudah kelewat batas, bahkan anggota keluarganya ikut terseret. Ia kecewa karena wasit kurang tegas mendengar cacian yang berdengung di seisi stadion tersebut.
"Ketika ada 60.000 orang yang menghina keluarga Anda, ibu Anda, anak-anak Anda, bahkan sebelum pertandingan dimulai dan tidak ada seorang pun dari pihak wasit yang menyuruh penonton untuk tenang. Saya tahu bahwa di Prancis, ketika hal semacam ini terjadi, akan ada saatnya mereka akan berbicara kepada para penggemar untuk berhenti dan mungkin menghentikan pertandingan," ucap Guendouzi dikutip dari BBC.
2. Balas dendam lewat selebrasi dan teriakan "Allez l'OM"
Merasa tak dihormati sepanjang pertandingan, Guendouzi melampiaskan kekesalannya setelah peluit panjang dibunyikan. Gelandang berusia 27 tahun itu melakukan selebrasi, yang ternyata justru memancin emosi kubu Lyon.
Pemain dan staf tuan rumah langsung menghampirinya. Rekan-rekan setim Guendouzi pun turun tangan untuk melerai. , Guendouzi tertangkap berteriak lantang "Allez l'OM", atau "maju Marseille" ke arah kamera di pinggir lapangan sebagai bentuk sindiran keras.
"Jika kami tidak bisa merayakan kemenangan dengan cara yang kami inginkan setelahnya, saya merasa itu mengecewakan," ucap Guendouzi.
3. Baku hantam pecah hingga ke lorong stadion
Ketegangan di lapangan menjalar dan meledak menjadi baku hantam ketika kedua tim menuju lorong stadion. Seseorang yang mengenakan seragam Lyon viral di media sosial, karena tampak mengadang dan mengonfrontasi Guendouzi di area lorong.
Kericuhan pun tak dapat dihindari. Petugas keamanan turun dan anggota staf dari kedua tim ikut campur tangan dalam perkelahian tersebut. BBC melansir, identitas pasti dari sosok yang memicu kericuhan di lorong stadion tersebut masih belum diketahui secara pasti.



















