Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Momen Liverpool Nirgol dalam 2 Leg Fase Gugur UCL per 2025/2026

3 Momen Liverpool Nirgol dalam 2 Leg Fase Gugur UCL per 2025/2026
ilustasi stadion Liverpool, Anfield (unsplash.com/Irene Berral Hens)

Liverpool tersingkir memalukan dari perempat final Liga Champions Eropa (UCL) 2025/2026. Mereka dibantai Paris Saint-Germain (PSG) dengan agregat 0-4. Sepanjang sejarah keterlibatan mereka pada fase gugur UCL, ini menjadi kali ketiga Liverpool tidak mampu mencetak 1 gol pun dalam 2 leg yang dilakoni.

1. Liverpool kalah 0-2 dari Paris Saint-Germain pada leg pertama dan kedua perempat final UCL 2025/2026

Liverpool menyerah dengan agregat 0-4 dari Paris Saint-Germain pada perempat final Liga Champions 2025/2026 setelah kalah 0-2 dalam 2 leg. Mereka bermain tandang terlebih dahulu di Parc des Princes pada 8 April 2026. Liverpool kecolongan ketika laga baru berjalan 11 menit oleh aksi Desire Doue. Winger asli Prancis tersebut mengecoh Florian Wirtz dan Jeremie Frimpong di dalam kotak penalti dengan gerakan memutar badan yang sederhana. Doue pun mendapat ruang tembak dan langsung melepaskan tendangan. Bola mengenai kaki Ryan Gravenberch dan mengecoh Giorgi Mamardashvili. Khvicha Kvaratskhelia lantas memastikan kemenangan PSG melalui manuver individu pada menit 65.

Pelatih Liverpool, Arne Slot, menjadi sorotan utama usai hasil tersebut karena keputusannya memainkan sistem tiga bek. Pria asal Belanda tersebut tampaknya mengakui kesalahannya karena kembali ke formasi empat bek saat bermain di Anfield pada leg kedua, Selasa (14/4/2026). Mereka setidaknya berhasil mengakhiri babak pertama dengan skor 0-0. Sayangnya, intensitas dalam menyerang tidak dibarengi dengan kedisiplinan bertahan. Dampaknya, Liverpool malah kecolongan tembakan Ousmane Dembele dari luar kotak penalti pada menit 72. Pemenang Ballon d’Or 2025 tersebut kemudian mengunci tiket semifinal bagi Les Parisiens lewat brace-nya pada menit 90+1.

2. Liverpool kalah 0-1 pada leg pertama dan 0-2 pada leg kedua saat menghadapi Benfica pada 16 besar UCL 2005/2006

Liverpool menghadapi Liga Champions 2005/2006 dengan kepala tegak. Sebab, mereka berstatus sebagai juara bertahan. Predikat tersebut terbukti pada fase grup. Mereka menjadi pemuncak klasemen tanpa merasakan kekalahan. Tim yang saat itu dilatih Rafa Benitez ini lantas bertemu Benfica pada 16 besar. Liverpool hadir sebagai tamu di Estadio da Luz pada leg pertama (12/2/2006). Ketika tampak bakal pulang dengan hasil imbang tanpa gol, Liverpool harus rela menelan kekalahan. Mereka kecolongan aksi Luisao yang menanduk tendangan bebas Petit pada menit 84. Meski begitu, mereka tetap percaya diri karena akan menjalani leg kedua di kandang dan hanya tertinggal satu gol.

Liverpool pun menjamu Benfica di Anfield pada 8 Maret 2006. Ironisnya, Steven Gerrard dan kolega justru tumbang dengan satu gol lebih banyak. Mereka dikejutkan gol spektakuler Simao pada menit 36. Kapten Benfica itu mendapat bola dari Nuno Gomes di luar kotak penalti. Ia mengontrol bola, menusuk ke tengah, melewati Djimi Traores, dan melepaskan tembakan keras yang melaju deras ke gawang Pepe Reina. Tidak kunjung mendapat gol, Benitez pun akhirnya mulai bergerak pada pertengahan babak kedua. Arsitek dari Spanyol tersebut memainkan Djibril Cisse, Robbie Fowler, serta Dietmar Hamann. Sayangnya, Liverpool malah kembali kebobolan pada menit akhir. Fabrizio Miccoli mencetak gol salto pada menit 89.

3. Liverpool kalah 0-2 dan imbang 0-0 saat bertarung dengan Nottingham Forest pada 32 besar UCL 1978/1979

Momen pertama ketika Liverpool tidak mampu mencetak gol dalam 2 leg pada fase gugur Liga Champions terjadi pada 32 besar musim 1978/1979. Mereka berjumpa sesama tim Inggris, Nottingham Forest. Liverpool berstatus sebagai juara bertahan, sedangkan Forest merupakan kampiun liga domestik.

Forest menjamu Liverpool di The City Ground pada 13 September 1978. Mereka berhasil menang 2-0 berkat gol Garry Birtles pada menit 26 dan Colin Barrett pada menit 87. Sementara, ketika bergiliran menjadi tuan rumah di Anfield 14 hari berselang, Liverpool cuma bisa imbang tanpa gol. Forest pada akhirnya keluar sebagai juara.

Tiga fase gugur di atas bisa dianggap sebagai salah satu kegagalan terbesar Liverpool di UCL. Sebab, mereka bukan hanya gagal lolos ke babak selanjutnya, tetapi tidak mampu mencetak 1 gol pun dalam 2 leg yang berlangsung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy
Follow Us

Latest in Sport

See More

3 Bek Spanyol di Super League Indonesia 2025/2026

17 Apr 2026, 06:34 WIBSport